Trending Topik

Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muda. Tampilkan semua postingan

Terima Hadiah, Ini Dia Adabnya dalam Islam

Written By Admin on Senin, 07 Desember 2015 | 08.36


Ketika seseorang menerima hadiah, tentulah rasa bahagia itu akan hadir dalam dirinya. Namun, terkadang orang itu lupa apa yang harus dilakukannya setelah menerima hadiah tersebut. Padahal, terdapat adab-adab tertentu ketika menerima hadiah. Dan ini adalah hal yang seharusnya diingat bagi setiap orang.

Memberi hadiah merupakan perbuatan yang terpuji, yang dapat mempererat tali kasih dan persahabatan antara sesama manusia. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika memberi atau menerima hadiah, di antaranya:

1. Berterima kasih kepada orang yang memberi hadiah dan mendoakannya agar selalu ditambah rezeki dan kebaikan.
2. Mau menerima hadiah dan senang menerimanya.
3. Menerima hadiah dan menghadiahkan kembali kepada orang. Rasulullah SAW pernah diberi hadiah, lalu beliau memberikannya lagi kepada orang yang memberikan hadiah.
4. Hadiah harus barang yang halal.
5. Motivasi dalam memberi hadiah untuk mempererat hubungan dan keakraban. Tidak ada niat agar urusan dipermudah oleh orang yang diberi hadiah atau dengan kata lain menyogok.
6. Sesuatu yang telah dihadiahkan menjadi hak milik orang yang menerimanya, dan boleh baginya untuk menjual barang hadiah tersebut.

Itulah beberapa adab yang harus kita ketahui ketika menerima atau memberikan hadiah. Semoga kita dapat saling memberi kepada sesama dengan tujuan yang mulia, yakni menjalin tali silaturahmi. Dengan begitu persahabatan, keakraban di antara umat Muslim akan semakin terjalin dengan baik, insya Allah.

[Sumber: Adab Islam dalam Kehidupan Sehari-hari/Karya: Mahdy Saeed Reziq Krezem/Penerbit: Media Da’wah] / http://www.rumahkeluargaindonesia.com/terima-hadiah-ini-dia-adabnya-dalam-islam-14052/

Tanda-Tanda Hubungan Pertemanan yang Tidak Sehat dan Cara Menyikapinya

Written By Admin on Kamis, 09 Juli 2015 | 11.51


Tanda-tanda hubungan pertemanan yang tidak sehat dan cara menyikapinya. Simak selengkapnya Sob…

Pertemanan kerap kali diwarnai oleh riak-riak kecil. Wajar sebenarnya, namanya juga bergaul dengan orang yang karakter serta latar belakangnya berbeda dengan kita. Pintar-pintarnya saja kita menyikapi. Kita pun bukanlah makhluk yang sempurna. Bisa jadi, saat kita tidak menyukai karakter seseorang, nun jauh di sana ada juga orang lain yang tersakiti dengan sikap dan karakter kita.

Lalu, apa saja tanda-tanda hubungan pertemanan yang tidak sehat? Bukan untuk menjustifikasi orang lain tentunya, namun justru sebagai pengingat diri. Semoga saja, kita terhindar dari sifat-sifat yang bisa merusak pertemanan karena hati yang keruh.

Dan, berikut ini adalah beberapa tanda pertemanan yang tidak sehat yang disarikan dari beragam sumber serta pengamatan penulis:

1.Dia selalu menjadi penghancur harapan atau kebahagiaanmu

Setiap kali kamu bercerita tentang kebahagiaan yang baru saja kamu dapat, temanmu selalu “menghancurkan” momen tersebut dengan kata-katanya yang pedas. Dia seolah tidak suka kamu bahagia walaupun untuk hal-hal yang sifatnya sederhana.

“Alhamdulillah, besok pulang kampung,”

“Yaelah, gitu doang. Kirain apa. Cemen banget, ya!”

“Hari ini daganganku laris manis, alhamdulillah,”

“Eh, tapi barangmu enggak ada yang berkualitas, ya? Kalau cuma gitu sih di Tanah Abang juga banyak. Kemarin, aku baru beli,”

Dan, percakapan-percakapan lain yang intinya sama: menghancurkan harapan dan kebahagiaanmu.

Jika hal ini terjadi padamu, tetaplah berusaha tenang. Ingat don’t let others ruin your day and your happiness. Whatever they are going to say, you have your own way.

2.Keceriaanmu adalah masalah baginya

Teman yang normal seyogyanya akan bahagia melihat temannya ceria. Tapi, teman yang di hatinya ada penyakit tidak akan rela melihat orang lain bahagia atau terlihat ceria. Lagi-lagi, dia akan berusaha mematahkan dan menghancurkannya dengan kata-katanya yang pedas.

“Paling juga cuma pura-pura!”

“Aku sih bukan tipe orang yang suka pura-pura yaa, apalagi pura-pura bahagia,”

“Bikin status ceria, bisa aja kenyataannya pahit dan menderita, hahaha,”

Dan, kalimat-kalimat lain yang sejenis.

Bila ini terjadi padamu padahal kamu tidak pernah membuat masalah dengan temanmu, lagi-lagi tetaplah tenang dan tidak usah terpancing emosi. Hurt people hurt people, but wise people never do it. Doakan saja agar kehidupan temanmu damai sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya menenteramkan jiwa. Adapun masalah dia menganggap hidupmu penuh sandiwara, itu bukan urusanmu. Itu masalah dia dengan prasangkanya. Yang penting, hidupmu baik-baik saja dan kamu berbuat selurus-lurusnya.

3.Dia selalu ingin menjadi sepertimu

Terinspirasi itu tidak sama dengan copy cat. Setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing. Teman yang bermasalah dan selalu mengkritikmu dengan tujuan menghancurkan (dan bukan kritikan membangun) sebenarnya ingin sekali menjadi sepertimu tapi tidak bisa. Menyedihkan, bukan.

Jika hal ini terjadi padamu, ada baiknya kamu bilang secara baik-baik bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tanpa perlu menjadi orang lain, setiap orang memang sudah istimewa.

4.Dia memaksamu sejalan dengan pikirannya

Meskipun memiliki tujuan yang sama-sama baik, tapi tidaklah mungkin dua orang manusia memiliki kesamaan 100%. Ada kalanya, mereka berbeda untuk beberapa hal. Teman yang baik tidak akan memaksamu menjadi seperti dirinya.

5.Posesif

Kamu senang ketika melihatnya berkumpul bersama keluarga besar. Tapi, temanmu seolah tidak suka ketika kamu pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga besarmu. Dia benci akan hal itu.

Jika kamu menjadi korban teman yang seperti ini, ada baiknya kamu menjaga jarak sejenak. Hal ini termasuk kategori tidak wajar. Interaksi yang intens memang kadang membuat seseorang bisa merasa memiliki. Namun demikian, seharusnya dia tetap sadar bahwa sedekat apapun sebuah hubungan, dia tidak bisa bersikap posesif.

6.Cemburu di setiap pencapaian yang kamu dapatkan

Setiap kamu berprestasi di bidang tertentu atau mendapatkan sesuatu, temanmu selalu cemburu dan tidak suka. Padahal, kamu selalu mendukung setiap pencapaian yang ia dapatkan. Tidak seimbang ya rasanya. Mungkin, kamu merasa tidak adil.

Tidak perlu marah jika kamu menjadi korban teman yang seperti itu. Tetaplah bersikap tenang. Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Teruslah belajar dan berbuat baik. Toh, kita tidak bisa memaksa orang lain siapa pun itu untuk bisa suka dengan apa yang kita lakukan. Akan selalu ada orang yang sakit hati di setiap kebahagiaan atau prestasi yang kita raih. PASTI.

7.Tidak hanya kita di dunia ini yang mengalaminya. Jadi yaa santai saja.

8.Tidak sportif

“Bukumu terbit terus pasti karena kamu punya kenalan orang dalam, ya?”

“Iyaa sih kalau kamu kan begini begini, jadi yaa bisa,”

Beberapa contoh kalimat yang biasa diucapkan oleh mereka yang tidak sportif. Bukannya bertanya bagaimana caranya biar lolos, tapi malah mencari alasan dan berprasangka buruk.

Sabar, hanya itu yang bisa kamu lakukan. Toh, kita tidak bisa mengubah karakter seseorang hanya dalam semalam, kan.

9.Beropini sesuai dengan kondisi dia sendiri

Ketika kamu akan menikah, “Kamu mau nikah muda? Kalau aku sih enggak, nanti enggak bisa berkarier,”

Komentar ketika dia sudah menikah dan punya anak sementara kamu yang menikah lebih dulu belum juga dikaruniai anak, “Kapan kamu punya anak? Nanti, anak-anakku udah gede, anakmu masih kecil-kecil. Jadi ibu itu bahagia banget lhoh. Jangan karier mulu yang dipikirin,”

See?

Beropini seenaknya sendiri adalah salah satu ciri teman yang hatinya sakit.

10.Tidak senang ketika kamu bahagia

Merasa dunia runtuh ketika kamu bahagia, menghilang tiba-tiba, dan sama sekali tidak menanyakan bahkan menyinggung apa yang sudah kamu lakukan walaupun untuk sekadar basa-basi. Padahal, ketika temanmu menggapai sesuatu yang ia impikan, kamu adalah orang pertama yang mengapresiasi. Tapi, hal itu tidak kamu dapatkan ketika kondisinya berbalik.

Tidak usah sedih atau nelangsa jika hal ini terjadi padamu. Temanmu tidak hanya dia. Jangan hanya segelintir manusia yang memiliki hati sakit kemudian kamu menyamaratakan tujuh milyar penduduk dunia berperangai sama. Tidak. Jangan sampai kamu berpikiran seperti itu ya, Dear.

11.Bahagia ketika kamu tertimpa masalah

Sebaliknya, ketika kamu tertimpa musibah, dia adalah orang yang paling bahagia. Hal itu ia tunjukkan dengan sikapnya kepadamu. Bersabarlah jika ini terjadi padamu. Dari sikap tidak mengenakkan yang dilakukan orang lain padamu, kamu diajari untuk tidak melakukan hal yang sama. Pelajaran kehidupan tidak selalu melalui peristiwa yang menyenangkan, peristiwa yang menyakitkan salah satunya berupa pengkhianatan juga.

12.Suka memanas-manasi

“Eh, aku tadi ketemu mantannya suamimu. Cantik banget yaa. Kariernya melesat gituu, bla bla bla …”

“Eh, maaf, yaa. Aku enggak bermaksud menyinggungmu. Cuma heran ajaa, kenapa ya dulu suamimu putus sama dia padahal kan dia sempurna,”

See?

Tidak perlu sedih, Dear. Karena sesungguhnnya, dia tidak bahagia dengan kehidupannya sendiri makanya berusaha menghancurkan kehidupanmu.

Bagaimana? Pernah melakukan salah satu di antaranya? Atau, mungkin pernah menjadi korban?

Hidup hanya sementara. Semoga lisan dan tangan kita selalu terjaga untuk tidak menyakiti orang lain karena segala sesuatunya pasti akan diperhitungkan seperti yang ada dalam surat Al-Zalzalah. Jikalau kita menjadi korban, tidak usah terlalu dipikirkan. Tidak semua yang orang lain katakan harus dimasukkan ke dalam hati.

Mengutip kata-kata A’A’ Gym kurang lebih, “Janganlah terpengaruh dengan keburukan yang orang lain lakukan pada kita. Tetap saja lakukan yang baik-baik yang Allah sukai,”

Deal, ya?

Semoga kita bisa menjadi muslimah yang tidak hanya cantik wajah, tapi juga cantik hati. Aamiin.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

@miyosimiyo, Adalah penulis buku Tanpamu Kami Bukan Apa-Apa (Gramedia Pustaka Utama, 2015), Kuliah vs Kuli-ah (Bhuana Ilmu Populer, 2015), Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya (Bhuana Ilmu Populer, 2013), Hartamu Hartaku Hartaku Punya Siapa (Gramedia Pustaka Utama, 2012), dan lain-lain. Silaturahmi bisa dilakukan melalui http://mysmartofficehomeoffice.wordpress.com

http://annida-online.com

Nabi Luth dan Hancurnya Kaum Homo

Written By Admin on Selasa, 30 Juni 2015 | 13.52

Nabi Luth bin Haran bin Tarih (Azar) adalah keponakan Nabi Ibrahim a.s. Ia diutus oleh Allah swt. kepada kaumnya. Maka, mulailah ia menyeru kaumnya untuk hanya menyembah Allah swt. dan meninggalkan penyembahan kepada patung-patung berhala. Nabi Luth memulai dakwahnya dengan menanamkan tauhid sebagaimana lazimnya para nabi berdakwah kepada kaumnya.
Namun, kaum Nabi Luth a.s. adalah orang-orang yang paling durhaka, paling kafir, dan paling jahat sifat dan perilakunya. Mereka gemar membegal dan menyamun. Mereka gemar melakukan hal-hal mungkar dalam pertemuan-pertemuan mereka. Di antara mereka tidak ada budaya saling menasihati untuk kebaikan. Bahkan, mereka melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh manusia sebelumnya: mereka bersenggama dengan sesama jenis. Lelaki dengan lelaki. Homoseksual. Mereka tidak mau menikahi wanita. Inilah puncak kedurhakaan kaum Luth kepada Allah swt.
Nabi Luth a.s. berusaha mengembalikan kaumnya kepada penyembahan hanya kepada Allah saja. Nabi Luth juga berusaha mengembalikan kaumnya kepada fitrah manusia yang luhur. Tapi, kaumnya tidak mau berhenti dari kesesatan. Mereka tidak malu mempertontonkan perbuatan keji mereka itu. Mereka bukan saja tidak mau mendengar nasihat, bahkan menganiaya Nabi Luth. “Usirlah Luth berserta keluarganya dari negerimu. Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mengaku dirinya) bersih.” (An-Nahl: 56)
Tidak hanya itu. Kaumnya menantang Nabi Luth agar ia mendatangkan adzab Allah swt. kepada mereka. “Datangkanlah kepada kami adzab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al-Ankabut: 29). Karena itu, Nabi Luth meminta pertolongan Allah swt., “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (Al-Ankabut: 30)
Allah swt. murka dan mengabulkan doa Nabi Luth. Dia mengutus para malaikatnya. Para malaikat itu terlebih dahulu menuju ke rumah Nabi Ibrahim a.s. untuk memberi kabar gembira kepada tentang kelahiran anak yang begitu diharapkan Nabi Ibrahim. Setelah itu, para malaikat menceritakan misi besar yang mereka emban atas kaum nabi Luth.
Nabi Ibrahim bertanya, “Apakah urusan kamu sekalian, wahai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang pendosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras) yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.” (Adz-Dzariyat: 31-34)
Dialog ini diabadilan Allah swt. dalam Al-Qur’an tidak sekali. “Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya di kota itu ada Luth.’ Para malaikat berkata, ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sunguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).'” (Al-Ankabut: 31-33)
Para malaikat yang terdiri dari Jibril, Mikail, dan Israfil itu berangkat menuju negeri Sodom. Mereka datang dalam wujud pemuda yang berwajah rupawan. Ini sebagai ujian bagi kaum Luth dan agar nanti menjadi alasan untum membinasakan mereka.
Para pemuda rupawan itu bertamu ke rumah Nabi Luth tepat ketika matahari terbenam. Nabi Luth yang tidak tahu bahwa mereka adalah malaikat, segera menerima mereka. Nabi Luth khawatir atas keselamatan mereka, apalagi jika diterima oleh orang lain. “Dia (Luth) merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan para pemuda itu, dan dia berkata, ‘Ini adalah hari yang amat sulit.'” (Hud: 77)
Bagaiman tidak sulit, sebab malam itu pasti Nabi Luth akan mempertahankan tamu-tamunya dari serbuan kaumnya sebagaimana yang sering terjadi jika ada tamu datang ke rumahnya.
Nabi Luth membawa para pemuda yang menjadi tamunya itu masuk ke dalam rumahnya secara diam-diam. Tidak ada yang tahu, kecuali anggota keluarganya. Tapi tiba-tiba isterinya keluar dan menceritakan kepada kaumnya, “Sesungguhnya di rumah Luth ada beberapa anak muda tampan, yang tidak pernah aku lihat orang yang wajahnya setampan mereka.”
Maka berdatanganlah orang-orang ke ruman Nabi Luth. Mereka ingin berbuat mesum dengan menyodomi para pemuda yang menjadi tamu Nabi Luth. Melihat gelagat buruk itu, Nabi Luth menasihati mereka agar menikahi anak-anak wanitanya saja. Namun seruan itu sia-sia. Orang-orang yang tidak tahu malu itu berusaha menerobos masuk dan menyerbu para tamu Nabi Luth.
Dalam situasi genting itu, malaikat Jibril keluar dan memukulkan ujung sayapnya kepada mereka. Tiba-tiba mata mereka menjadi buta. Akibat pukulan itu kaum Luth mundur sambil mengancam Nabi Luth. Para malaikat menyuruh Nabi Luth pergi dari rumah dengan membawa keluarganya di akhir malam nanti, dan tidak boleh seorang pun menoleh ke belakang.
Di hari itu, di akhir malam, Jibril mengangkat rumah-rumah kaum Luth. Semuanya ada tujuh rumah. Rumah-rumah itu diangkat, lalu dibalikkan. Bagian atas ditaruh di bawah kemudian dihempaskan ke bumi. Sementara dari langit batu-batu dari sijjil –yang setiap batu tertulis nama orang yang hendak ditimpakan—menghujani mereka.
Hukuman ini tentu bukan sebuah kezhaliman. Sebab, Allah swt. telah menetapkan bahwa Dia tidak akan menghukum orang-orang zhalim, kecuali setelah Dia memberikan argumentasi yang kokoh kepada mereka, dan setelah didahului dengan janji dan acaman yang diberikan kepada mereka lewat diutusnya salah seorang Rasul-Nya yang mulia, untuk mencegah mereka dari perbuatan buruk dan memperingatkan mereka akan adzab Allah yang amat pedih. Rasul Allah itu menyerukan peringatannya di tengah mereka di setiap kota, desa, dan di mana saja.
Begitu juga yang dilakukan oleh Nabi Luth. Ia benar-benar memberi nasihat kepada kaumnya. “Mengapa kamu sekalian melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun di dunia ini sebelum kamu?” (Al-A’raf: 80)
Kemudian Nabi Luth mengulang perkataannya sebagai nasihat di kala kaumnya semakin tidak menggunakan otaknya lagi. “Sesungguhnya kamu sekalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan kamu ini adalah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 81)
Orang-orang yang zhalim yang tidak memiliki akal sehat lagi itu menjawab dengan ngawur. “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu ini. Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mengaku dirinya) bersih.” (An-Naml: 56). Begitulah orang jika sudah diluputi nafsu dan kesesatan, membolak-balikan norma-norma agar sesuai dengan keingan nafsu mereka.
Ketika pembangkangan mereka sudah sampai puncaknya, Allah swt. memberikan ujian terakhir kepada Nabi Nuh dengan mengutus beberapa malaikat dengan wujud manusia: pemuda-pemuda yang sangat tampan. Sebagai nabi yang dikenal lapang dada, para pemuda ini singgah. “Luth merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, ‘Ini adalah hari yang amat sulit.'” (Hud: 77)
Dan terdengarlah teriakan kepada kaum homoseks itu bahwa di rumah Nabi Luth ada beberapa tamu yang tampan dan tidak pernah ada pemuda yang setampan mereka. Dengan cepat kabar itu menyebar. Kaum homo itu berdatangan ke rumah Nabi Luth dan mengira akan bisa melampiaskan syahwat menyimpang mereka di sana. “Dan datanglah kaum Luth kepadanya dengan bergegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji.” (Hud: 78)
Mereka menyerbu masuk ke rumah Nabi Luth. Nabi Luth menahan mereka dengan susah payah. “Hai kaumku, ini putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah mencemarkan namaku di hadapan tamuku. Tidak adakah di antara kamu orang berakal?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu tahu bahwa kami tidak berhasrat kepada putri-putrimu. Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami inginkan.” Sungguh sebuah jawaban yang tidak pantas dan secara terang-terangan membangkang.
Sungguh berat kondisi Nabi Luth. Ia diserbu tanpa pembelaan. “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu sekalian, atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku melakukannya).” (Hud: 80)
Melihat kondisi Nabi Luth yang terdesak seperti itu, barulah para malaikat membuka identitas mereka. “(Tenanglah kamu, hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu!” (Hud: 81)
Mendengar itu, Nabi Luth sangat gembira. Lalu dikatakan kepadanya, “Sebab itu, pergilah kamu dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam, dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab seperti yang menimpa mereka. Karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Hud: 81)
Karena kaum Luth tetap membangkang, tetap berhasrat mengganggu tamu-tamu Nabi Luth, dan tidak menjaga kehormatan keluarga Nabi Luth, Jibril memukul wajah mereka dengan ujung sayapnya. Pukulan itu mengakibatkan mata mereka hapus dan mereka menjadi buta. Dalam keadaan buta, mereka mundur dengan melontarkan ancaman, “Besok kamu akan tahu apa yang akan menimpamu, hai orang gila!”
Tapi, saat fajar menyingsing datanglah perintah Allah swt. Jibril membedol kota Sodom. Mengangkat tinggi-tinggi rumah-rumah mereka di udara. Lalu membaliknya dan menghempaskannya ke bumi diiringi hujanan batu-batu sijjin. “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah. (Kami balikan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak jauh dari orang-orang yang zhalim.” (Hud: 82-83)
Isteri Nabi Luth ikut keluar rumah bersama suami dan kedua anak perempuannya. Namun, wanita itu ketika mendengar jeritan dan gemuruh kehancuran kaumnya, menoleh ke belakang. Seketika itu juga sebutir batu jatuh menimpanya. Menembus batok kepalanya. Ia roboh. Musnah seperti kaumnya yang membangkang. Begitulah nasib wanita yang berkhianat kepada suaminya, yang membantu orang-orang membangkang pada ajaran Nabinya.
“Allah membuat isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan katakanlah (kepada keduanya), ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At-Tahrim: 10)
Begitulah Walihah, isteri Nabi Luth. Wanita ini isteri seorang nabi dan rasul, bahkan keluarga dekat Nabi Ibrahim. Tapi, ia binasa diadzab bersama dengan kaumnya yang membangkang kepada Allah swt.

Asyik Ramadhan Lagi

Written By Admin on Jumat, 05 Juni 2015 | 08.30

Bro and Sis, Sahabat Sekalian..... Alhamdulillah ya Ramadhan dateng lagi! Seru abis niiih!  Aih, kok bisa gembira banget gini ya begitu menjelang Ramadhan? Padahal, gue yakin ada nih yang begitu menjelang Ramadhan serasa ngadepin hari Senin –makanya ada ungkapan “I Hate Monday”- tapi berhubung muslim, kan nggak pas kalo bilangnya “I Hate Ramadhan” (malu, lah).

Ya, kenapa jadi bisa ilfil gitu dari lubuk hati yang paling dalem? Karena masih nggak ngeh dan nggak paham keistimewaan bulan Ramadhan? Bisa jadi. Kebayangnya, nggak boleh makan, minum, ngerokok (bagi yang terbiasa), pacaran (ooh, masih ya? Hari gini masih pacaran? Kuno!), nggak boleh liat yang ‘minimalis’ (ini sih nggak bulan Ramadhan aja!), bawaan lemes, en ngantuk. Itu kali ya daftar ‘larangan’ saat Ramadhan yang bikin kamu bete?

Akhirnya, supaya nggak jenuh plus bete kita ngisi hari-hari Ramadhan dengan ngabuburit sambil ‘cuci mata’, ngadem di warnet sambil maen game online sampe berjam-jam, nyewa komik banyak-banyak buat dibaca ampe ketiduran dan lain-lain. Tapi ada yang lebih ekstrim lagi lho!  Kalo di daerah saya, kelar tarawihan dan ba’da shalat Subuh malah ada balapan motor liar gitu, belum lagi ditambah polusi suara akibat bakar petasan. Hadeeeuhh… bikin rese aja!

Supaya cinta Ramadhan
Yup, kita lurusin dulu pemahaman kita akan bulan Ramadhan ini ya. Supaya Ramadhan kita menjadi Ramadhan yang berkesan, bermutu, berkualitas keren.  Syaratnya gimana? Kudu segera dipahami dan diamalkan tanpa kata ‘tapi’ dan ‘nanti’. Ok!

Nah Bro en Sis rahimakumullah, Rasulullah saw. bersabda: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan-setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik di dalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” (HR Ahmad, Nasai dan Baihaqy)

So Guys, saat bulan Ramadhan tiba sebagaimana disebutin pada hadis barusan yang emang populer banget, kan sayang sekali kalo dilewatkan bagitu aja.  Apalagi ternyata pintu surga terbuka lebar, pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Jadi, kalo masih bermaksiat di bulan Ramadhan jelas itu bukan hasil godaan setan, ya memang aslinya manusianya seperti itu (lebih serem daripada setan dong berarti ya? Hii..)
Hadist berikutnya: Dari Ubadah bin ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw.--pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba-–bersabda: “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan doa. Pada bulan itu Allah Swt. akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah Swt.” (HR ath-Thabarani)

Nah, kalo udah tahu ada hadis begini, masih mau males tarawih? Apalagi sengaja nggak shaum tanpa alasan syar’i. Bahkan, kalo udah tahu bahwa nyampein kebenaran (dakwah) adalah wajib, kan nggak asik kalo di bulan Ramadhan malah dakwahnya 4L –letih, lemes, lesu, loyo. Males ngaji Islam, males dakwah, belajar bahasa Arab keteteran, baca al-Quran nggak khatam. Woooy.. shaum nggak ampe bikin sangat menderita kek gitu kaleee!

Selain itu, saat Ramadhan mulailah menjadi awal momentum saling berbagi. Nggak usah nunggu kaya atau banyak duit.  Tinggal sisihkan aja duit kamu atau barang-barang milikmu yang masih bagus tapi nggak kepake untuk diberikan kepada saudara-saudara seiman kita yang nggak mampu.  Bahkan keren lagi kalo sampe merelakan barang yang disayangi untuk disedekahkan atau diinfakkan. Jangan sampe deh bagi yang ngaku dirinya sebagai pengemban dakwah tapi ternyata nggak ngeh kalo sedekah dan infak itu sebenernya nggak terbatas untuk komunitas dakwahnya aja.

Saatnya pula di bulan Ramadhan, nggak ada salahnya memulai di usia muda untuk ngasih sedekah buka shaum bagi saudara-saudara seiman. Percaya deh, kalo kamu yakin Allah itu Maha Kaya dan kamu sisihkan terus memberikan harta titipan-Nya kepada mereka yang lebih membutuhkan dijamin oke deh!  Keren dunia dan akhirat! Jangan lupa kerjakan juga aktivitas lainnya yang memantaskan diri kita supaya mendapat balasan yang keren dari Allah. So, ya nggak bener aja kalo jor-joran shaum Ramadhan, tarawih, shalat fardhu, sedekah eh masih suka ngelawan ortu (ehm), atau mungkin masih pacaran? (*putusin aja atau nikahin aja lah!). Sedih juga kalo shaum Ramadhan tapi masih suka tampil mengenakan busana yang nggak nutup aurat dengan sempurna bagi yang muslimah.

Yuk ah, giat shaumnya, kerjakan amal shalih lainnya dan lebih keren lagi sering berdoa juga ya. Sebab doa yang dipanjatkan di bulan Ramadhan pun insya Allah diniscayakan makbul.

Bagi yang pernah mengunjungi Baitullah baik di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram pasti kebayang deh kangennya berfastabiqul khairat di sana, curhat  kepada Allah di depan Ka’bah, saling berbagi dengan muslim-muslimah dari berbagai bangsa entah cerita-makanan-dakwah, nikmatnya shaum Ramadhan hingga berbuka, shalat fardhu dan sunnah, tilawah.. ihiiks jadi kangen. Kangen suasananya, kangen pahala yang dijanjikan pun berlipat ganda, kangen khilafah kembali tegak dimana hukum Islam secara kaffah diterapkan.

Ramadhan yang ideologis
Kamsudnya, eh maksudnya, ngejalanin Ramadhan harus dengan niat yang sungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, nggak pake ‘nanti’ dan ‘tapi’.  Jangan cuma terlihat religius di saat Ramadhan tapi begitu kelar eeh.. kumat lagi maksiatnya. Ampun deeh..

Hasil dari Ramadhan yang ideologis tentunya bakal terjadi perubahan drastis plus optimalisasi dalam menjalankan syariat-Nya.  Beneran loh!  Kalo di jaman Rasul, Shahabat en Shahabiyah serta Salafus Shalih justru Ramadhan nggak jadi penghalang dalam berjihad fisik. Beberapa di antaranya jihad yang dilakukan di bulan Ramadhan:

Pertama, Perang Badar al-Kubro yang diabadikan dalam al-Quran sebagai yaumul furqan, dan ummat Islam saat itu meraih kemenangan besar, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Dan saat itu, gembong kebatilan: Abu Jahal, terbunuh.

Kedua, pada bulan Ramadhan pula fathu Makkah terjadi, yang  dalam al-Quran sebagai Fathan Mubiiina, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.

Ketiga, tersebarnya Islam di Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah.
Keempat, ditaklukkannya Andalus (Spanyol sekarang) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriyah.

Kelima, pertempuran ‘Ain Jalut, dimana untuk pertama kalinya pasukan Islam berhasil mengalahkan bangsa Mongol Tartar, yang sebelumnya sempat dianggap mustahil, juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun 658 Hijriyah. (sumber: www.isdaryanto.com)

Sebenarnya kalo udah memahami Islam sebagai ideologi or tumpuan, baik itu berpikir maupun bertingkah laku, insya Allah dengan kesungguhan, terus berlatih dan mengulang-ulang kebaikan nantinya akan terbiasa (lengkapnya baca di: “How To Master Your Habits”-nya Felix Y. Siauw).  Terbiasa berjilbab, terbiasa shalat dhuha en tahajud, terbiasa sedekah, terbiasa menundukkan pandangan begitu yang “subhanallah” ataupun “na’udzubillah” seliweran, terbiasa menyampaikan kebenaran, terbiasa tilawah al-Quran, terbiasa mengkaji Islam dan mengamalkan apa yang telah dipahami, terbiasa membaca, terbiasa menulis, terbiasa menghafal surah dst.nya. So pasti keren deh! Dijamin!

Gimana Bro en Sis ? Siap menjalani Ramadhan bulan yang penuh berkah ini dengan asyik dan ideologis?  Apalagi di dalam bulan Ramadhan juga ada Lailatul Qadr, yakni malam kemuliaan yang pahalanya jika mendapatkannya akan bernilai seperti melakukan kebaikan selama 1000 bulan. Wuiih.. don’t miss it ya! Siaaap!
(http://www.gaulislam.com)

Kesempatan, Gunakanlah di Waktu muda

Written By Admin on Jumat, 22 Mei 2015 | 09.51


Masa muda bisa membuat seseorang dapat mengenang dari masa tersebut, di mana di usia muda yang masanya senang-senang bermain, jalan-jalan, shopping bahkan berhura-hura bersama kawan menjadi suatu kenikmatan yang diperoleh oleh anak muda. Namun, masa yang dihabiskan oleh tidak penting itu menjadi penyesalan dikemudian kelak.

Lalu apa bedanya muda yang berkarya dan tidak berkarya. Muda adalah yang berkarya, yang dapat memberikan inspirasi juga dapat memanfaatkan masa muda adalah memanfaatkan masa kesempatan. Karena dengan kesempatan kita dapat menyimpan masa kejayaan. Memanfaatkan masa muda untuk berlelah mencari manfaat untuk masa tua.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)
Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia. Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal.


Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)
Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin).

Seorang yang sadar akan dirinya, pasti akan memanfaatkan atau mencari ilmu kelak ilmu akan membuat kita dicari karena akan membantu masa tua. Dengan cara menempuh pendidikan yang tinggi kita memperoleh pula wawasan yang dapat membuka pikiran kita, mengikuti kesempatan dengan pengalaman yang extra super dapat menjadi sumber yang dapat mengembangkan masa muda kita dengan membuka jaringan silaturahmi.

Ketika kita berada di posisi yang sedang labil dan kekurangan modal untuk berusaha. Anda harus yakin, bahwa anda mampu memberikan bantuan kepada orang lain ataupun dengan membentuk organisasi kecil-kecilan disuatu masyarakat, misalnya seperti orkestrakan apa yang akan kamu sumbangkan untuk dapat dimanfaatkan.

Jikalau waktu kita digunakan untuk berleha-leha maka kemungkinan kita akan membuat diri kita jauh dari wawasan yang luas, bahkan akan terkesan tidak monoton.

Selagi kita memiliki kesempatan gunakanlah kesempatan itu untuk menjadi seorang aktivis, dan  janganlah khawatir karena masih banyak waktu tidur, ada waktu istirahat jika kita nanti saat di alam kubur.[]

sumber : http://www.rumahkeluargaindonesia.com/

Setiap Senja di 38 (Photo)

Written By Admin on Selasa, 10 Maret 2015 | 08.42


Mengabadikan senja/pagi memang tidak pernah ada bosannya. warna-warna yang tak selalu sama membuat kita selalu takjub akan sang pencipta. seperti senja/pagi di 38 ..... (and)





Saat Relawan Foto PKS Saling Berantem dan Adu Jurus

Written By Admin on Minggu, 12 Oktober 2014 | 21.53

Ada tiga lelaki yang tiba – tiba saja saling serang, saling pukul di pinggir pantai itu. Satu lelaki yang agak lebih besar tubuhnya dibanding dua lainnya mengeluarkan sebuah jurus maut tangan kosong, sehingga dua lelaki lainnya kalah, terpental dan melayang. Jurus itu begitu dahsyat, hingga membuat dua lelaki lainnya kalah dalam duel itu. 

Pantai Mutun, Bandar Lampung, lampung menjadi saksi dimana ketiga lelaki tersebut saling adu jurus, jurus levitasi. Apa itu levitasi? Apakah semacam jurus tenaga dalam rawa ronthek, atau jurus angin puyuh menghajar belalang? Hem, tentu bukan. Levitasi adalah salah satu jurus dalam fotografi yang merupakan teknik manipulasi foto untuk membuat objek foto tampak seolah-olah melayang.

Momentum Public Relations (PR) Summit yang digelar di Bandar Lampung, Jumat-Ahad (10-12) Oktober 2014 dimanfaatkan pegiat humas PKS se-Indonesia sharing dan aktualisasi ilmu kehumasan. Salah satu tim humas yang sangat antusias mengikuti jalannya acara adalah Tim Relawan Foto PKS.
Bahkan, saking antusiasnya, merekapun berantem, saling adu jurus sakti di Pantai Pasaran, Bandar Lampung. Tentu bukan berantem secara fisik, bukan adu jurus sakti tenaga dalam, tapi jurus – jurus sakti dalam fotografi. Berbagai tips dan trik fotografi, mulai dari teknik sederhana hingga teknik yang paling kompleks pun dipelajari.

Selain adu jurus fotografi, relawan PKS Foto yang penyebarannya sudah hampir di seluruh Indonesia ini menggelar workshop fotografi di sejumlah tempat, diantaranya Pantai Pasaran dan Pantai Mutun, Bandar Lampung, Sabtu (11/10/2014) siang WIB.

Berangkat dari penginapan sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan relawan Foto PKS tersebut, yang berdesak-desakan di Elf nampak begitu bersemangat usai menjumpai hamparan pantai dan laut yang indah di Pantai Pasaran dan Mutun. Segera mereka menyiapkan senjatanya, kamera, lensa, satu lagi slayer khas Relawan PKS Foto.

Hemm, bicara slayer, sebenarnya apasih gunanya slayer ini, sampai sekarang gw masih belum paham, apakah semisal dengan mengenakan slayer ini, tenaganya bisa berlipat – lipat, ataukah kalau mengenakan slayer ini, kualitas fotonya bisa lebih baik, atau, atau, sebenarnya apa fungsi dari slayer ini.

Entahlah, yang jelas keberadaan Relawan Foto PKS, bagi PKS sendiri adalah ibarat istri, yang jika kita sedang tak bersamanya, gelisahnya minta ampun. Jadi PKS dan relawan foto PKS adalah satu bagian yang utuh, seperti suami istri, seperti Samson dan Delilah, seperti Rama dan Shinta, seperti Doraemon dan Nobita, begitulah.

Selamat menjadi pejuang foto, wahai relawan PKS Foto.(pks-jakarta.or.id)

Selamat jalan ke rahmatullah, Kang Aden Edcoustic...

Written By Admin on Selasa, 31 Desember 2013 | 08.03


Inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Kang Aden Edcoustic telah mendahului kita semua menghadap Allah Yang Maha Penyayang, tadi malam, Senin (30/12/2013) pukul 20.20 wib di RS Al-Islam Bandung.

Kang Aden kita kenal sebagai vokalis di grup nasyid Edcoustic, bersama partnernya Eggie (gitaris), yang sukses mengusung konsep musik pop inspiratif.

Album perdana “Masa Muda” dirilis Oktober 2004, telah menjadi satu fenomena tersendiri di blantika musik religi Indonesia. Album ini telah terjual hampir 20.000 keping, sebuah pencapaian luar biasa bagi album sekelas indie.

Single “Muhasabah Cinta” (2008) semakin melesatkan popularitas Edcoustic, terlebih setelah Aden sukses berkolaborasi dengan Melly Goeslaw dalam menciptakan ost. "Ketika Cinta Bertasbih".

Salah satu karya Kang Aden adalah Hymne PKS, bisa didengar dan di download di: http://www.pks-kreatif.com/lagupks/18-partai-keadilan-sejahtera-edcoustic

Selamat jalan ke rahmatullah, Kang Aden. Semoga Allah menempatkanmu di posisi yang mulia.

Aamiin.

ttd

Cahyadi Takariawan 
http://www.pkspiyungan.org/

Generasi Kreatip - Cinta Kerja Harmoni (Video)

Written By Admin on Jumat, 27 Desember 2013 | 14.19



Satu Video kreatif dar GK, Simak ja.. kreatif bukan?



Tentang Video
jika ada cahaya, sambutlah dengan CINTA.
hapus jejak derita, tetap keras beKERJA.
sampai mentari pagi menemukan HARMONI"

ciptaan: Dharma Setyawan http://twitter.com/dharmatya
vokal: Larastika Aghnia http://twitter.com/Larastika_AGH


Yuk Follow :
http://twitter.com/GKreatip

Kami Adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah , Masalah Buat Loh?

Written By Admin on Sabtu, 21 Desember 2013 | 14.22

Dahulu Islam memang satu
   
Sebagian kalangan mencoba mengaburkan fakta keberagaman dengan alasan wihdatul ummah (persatuan umat). Mereka mencoba “mendamaikan” antara Ahlus Sunnah dan Syiah di bawah slogan; Tuhan yang satu, Nabi yang satu, Kitab yang satu, Kiblat yang satu, buat apa kita berpecah, begitu rahmat slogan ini tetapi dibaliknya mengandung azab. Apakah mungkin bersatu kepada kaum yang jika disebut nama Abu Bakar, Umar,  Utsman, Muawiyah, dan Abu Hurairah, mereka menyebutnya dengan la’natullah ‘alaihim, thaghut, munafiq. Sedangkan kita mendoakannya dengan Radhiallahu ‘Anhum (semoga Allah meridhai mereka) ?
   
Jika Anda ditanya, apa agamamu? Lalu Anda jawab: “Saya Islam, maka saya muslim.” Sesuai ayat:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin?” (QS. Al Fushilat: 33)

Jika Anda menjawab “saya muslim” karena berhujjah dengan ayat ini maka Anda benar ketika Anda hidup pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebab saat itu Islam masih satu wajah, belum ada yang menyimpangkan dan menyelewengkan. Ada pun pada masa selanjutnya, puluhan bahkan ratusan firqah menyebar di berbagai negeri muslim, dan semuanya menyandarkan dirinya pada Islam; ada syiah, khawarij, murjiah, mu’tazilah, qadariyah, jabbariyah, musyabbihah, mujassimah, qaramithah, hasyawiyah, jahmiyah, atau sekte-sekte modern seperti Ahmadiyah, Islam Jamaah, Isa Bugis, NII KW 9, dan sebagainya.   Maka, tidak cukup pada masa fitnah seperti ini Anda menjawab “saya muslim” tetapi jawablah “saya muslim sunni (pengikut ahlus Sunnah).”

Dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu menyebut nama  Ahlus Sunnah untuk membedakan diri terhadap Ahli bid’ah pada zaman fitnah.

 حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Berkata kepada kami Ja’far  Muhammad bin Shabbah, berkata kepada kami Ismail bin Zakariya, dari ‘Ashim, dari  Ibin Sirin, katanya: Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad. Ketika terjadi fitnah mereka mengatakan: “Sebutlah nama periwayat kalian kepada kami, maka jika dilihat  dari Ahli Sunnah  maka diambil hadits mereka, dan jika dilihat dari  Ahli Bid’ah maka jangan ambil hadits darinya.” (Shahih Muslim, Bab Bayan Annal Isnaad minad Diin)

Kenapa Memilih Madzhab Ahlus Sunnah?

Dari Irbadh bin Sariyah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
   
“Barang siapa di antara kalian hidup setelah aku, maka akan melihat banyak perselisihan, maka hendaknya kalian berada di atas sunahku, dan sunah khulafa’ur rasyidin yang yang mendapat petunjuk, maka berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan geraham kalian.” (HR. Abu Daud No. 4607,  At Tirmidzi  No. 2676, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 42,   Ahmad No. 17142, 17144,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20215, Al Hakim, Al Mustadrak No. 329,  katanya: hadits ini shahih tak ada cacat. Syaikh Al Albani mengatakan: sanadny shahih. As Silsilah Ash Shahihah No. 2735)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ
   
“Hendaknya kalian bersama jamaah, dan hati-hatilah terhadap perpecahan.” (HR. At Tirmidzi No.2165, Katanya: hasan shahih gharib. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra, 5/389. Syaikh Al Albani menshahihkan, lihat Irwa’ul Ghalil, 6/215)
   
Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فمن أراد منكم بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
   
“Barang siapa di antara kalian menghendaki tamannya surga, maka berpeganglah pada jama’ah, sebab syaitan itu bersama orang yang sendirian, ada pun bersama dua orang, dia menjauh.” (HR. At Tirmidzi No. 2165, katanya: hasan shahih gharib. Ahmad No. 177, Ibnu Hibban No. 4576. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 387,  katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 430)

Allah Ta’ala berfirman:

 يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ 

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram...” (QS. Ali Imran (3): 106)


Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

 تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة.
   
“Putih berseri wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam muram wajah ahli bid’ah.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil Quran, 4/167. Tafsir Ibnu Abi Hatim, 3/124. Imam Al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, 2/87. Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 2/10. Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masir, 1/393. Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 2/407)

Nasihat Generasi Awal Islam

Berkata Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

 عليكم بالسبيل والسنة فإنه ليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في إخلاف

“Hendaknya kalian bersama jalan kebenaran dan As Sunnah, sesungguhnya tidak akan disentuh neraka, orang yang di atas kebenaran dan As Sunnah dalam rangka mengingat Allah lalu menetes air matanya karena takut kepada Allah Ta’ala. Sederhana mengikuti kebenaran dan As Sunnah adalah lebih baik, dibanding bersungguh-sungguh dalam perselisihan.”
   
Dari Abul ‘Aliyah, dia berkata:
   
عليكم بالأمر الأول الذي كانوا عليه قبل أن يفترقوا قال عاصم فحدثت به الحسن فقال قد نصحك والله وصدقك
   
“Hendaknya kalian mengikuti urusan orang-orang awal, yang dahulu ketika  mereka belum terpecah belah.” ‘Ashim berkata: “Aku menceritakan ini kepada Al Hasan, maka dia berkata: ‘Dia telah menasihatimu dan membenarkanmu.’ “
   
Dari Al Auza’i, dia berkata:

اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فانه يسعك ما وسعهم
   
“Sabarkanlah dirimu di atas As Sunnah, berhentilah ketika mereka berhenti, dan katakanlah apa yang mereka katakan, tahanlah apa-apa yang mereka tahan, dan tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih, karena itu akan membuat jalanmu lapang seperti lapangnya jalan mereka.”
   
Dari Yusuf bin Asbath, dia berkata:


قال سفيان يا يوسف إذا بلغك عن رجل بالمشرق أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام وإذا بلغك عن آخر بالمغرب أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام فقد قل أهل السنة والجماعة
   
“Berkata Sufyan: Wahai Yusuf, jika sampai kepadamu seseorang dari Timur bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya. Jika datang kepadamu dari Barat bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya, sungguh, Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sedikit.”

Dari Ayyub, dia berkata:

إني لأخبر بموت الرجل من أهل السنة فكأني أفقد بعض أعضائ

“Sesungguhnya jika dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan telah copot anggota badanku.”

Dan masih banyak lagi nasihat yang serupa. (Lihat semua ucapan salaf ini dalam Talbisu Iblis, hal. 10-11, karya Imam Abul Faraj bin Al Jauzi )

Sementara Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah menegaskan tentang fikrah dakwahnya:

دعوة سلفية : لأنهم يدعون إلى العودة بالإسلام إلى معينه الصافي من كتاب الله وسنة رسوله. وطريقة سنية : لأنهم يحملون أنفسهم علي العمل بالسنة المطهرة في كل شيء ، وبخاصة في العقائد والعبادات ما وجدوا إلى ذلك سبيلا

“Da’wah Salafiyah: karena mereka menyeru kembali kepada Islam dengan maknanya yang murni dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Thariqah  sunniyah: karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah, sejauh yang mereka mampu.” (Al Imam  Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 183. Al Maktabah At Taufiqiyah)    .

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
   
Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ : الطَّرِيقَةُ الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَحْابُهُ قَبْلَ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَالْمَقَالَاتِ .
وَالْجَمَاعَةُ فِي الْأَصْلِ : الْقَوْمُ الْمُجْتَمِعُونَ ، وَالْمُرَادُ بِهِمْ هُنَا سَلَفُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، الَّذِينَ اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ الصَّرِيحِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
   
“Maksud dari As Sunnah adalah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya ada di atasnya, sebelum nampaknya bid’ah dan perkataan-perkataan menyimpang.
   
Sedangkan Al Jama’ah pada asalnya, bermakna: Kaum yang berkumpul, tetapi yang dimaksud di sini adalah pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Hal. 26)
   
Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu tentang makna Al Jama’ah:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الَحَقّ ، وَإِن كُنْتَ وَحْدَكَ
   
“Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran, walau pun kau seorang diri.” (Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal.25)
   
Sementara dalam kitab lain, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu pula:

إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك
   
“Sesungguhnya Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah, walau kau seorang diri.” (Imam Al Lalika’i,  Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/63)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menjelaskan makna Al Jama’ah:

ما أنا عليه وأصحابي
   
“Apa-apa yang Aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi No. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2641) 
   
Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, memberikan kesimpulan tentang makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagai berikut:

فَأهلُ السُّنَّةِ والجماعة :
هم المتمسكون بسُنٌة النَّبِيِّ- صلى اللّه عليه وعلى آله وسلم- وأَصحابه ومَن تبعهم وسلكَ سبيلهم في الاعتقاد والقول والعمل ، والذين استقاموا على الاتباع وجانبوا الابتداع ، وهم باقون ظاهرون منصورون إِلى يوم القيامة فاتَباعُهم هُدى ، وخِلافهم ضَلال .
   
“Maka, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah (jalan) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam perkara aqidah, ucapan, dan perbuatan, dan orang-orang yang istiqamah dalam ittiba’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan bid’ah, merekalah orang-orang yang menang dan mendapat pertolongan pada hari kiamat. Maka mengikuti mereka adalah petunjuk, dan berselisih dengan mereka adalah sesat.” (Al Wajiz ..., Hal. 25)

Jadi, ada dua kata kunci dalam memahami istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah:
1.    Apa yang mereka jalankan? Yakni thariqah (metode/jalan) yang pernah dilakoni oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahabat, dan tabi’in.
2.    Siapa sajakah mereka? Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bersama  kebenaran yang mereka bawa.

Sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, manusia yang mengikuti jalan yang pernah ditempuh mereka, maka itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dia seorang diri.

Wallahu A’lam


Sumber (www.ustadzfarid.com)

Belajar Respek Itu Tidak Mudah

Written By Admin on Minggu, 15 Desember 2013 | 10.29




Oleh: Anne Adzkia Indrian

Sedang berusaha menahan diri utk berkomentar pada status-status orang yang pendapatnya beda dengan saya.
Sedang belajar berlapang hati menerima bahwa orang dengan latar belakang sosial budaya, agama, pendidikan, paham politik bisa punya cara berbeda dalam berpikir dan bertindak.
Sedang mencoba selalu berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang kontradiktif dan bahkan mungkin terasa mengusik nilai-nilai yang saya anut.

Ternyata belajar respek itu tidak mudah. Sementara dalam silaturahim, tahapan paling rendah yang harus kita lakukan adalah berlapang dada terhadap perbedaan (dan mungkin kekurangan) orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Jika berlapang dada saja sulit, apalagi kita bisa mencapai derajat yang paling tinggi, yaitu itsar – mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.

Pada akhirnya, satu untaian hadits Rasulullah Saw dalam Hadits Arbain #15 yang sedang berusaha saya pegang (insya Allah, semoga bisa) yaitu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim). []http://rumahkeluarga-indonesia.com

Nasehat Ibu Untuk Sang Hakim

Written By Admin on Selasa, 10 Desember 2013 | 10.22


Nak, bukankah sudah ku ajarkan?
Ketika kecil dulu
Mana yang benar
Mana yang salah

Nak, bukankah sudah ku terangkan?
Ketika kecil dulu
Mana yang jujur
Mana yang berbohong

Nak, bukankah sudah ku jelaskan?
Ketika kecil dulu
Jangan pernah takut berkata benar
Apalagi bertindak benar

Nak, dengar kata nuranimu
Lihat dengan kacamata kejujuranmu
Rasakan dengan hatimu
Mana hitam, mana putih, dan abu-abu

Karena
Semua tanyamu
Keputusanmu hari ini
Ada di hatimu

Bukan pada uang mereka
Bukan pada jabatan mereka
Bukan pada kekuasaan mereka
Bukan pada semua yang mereka punya

Nak, aku disini
Tetap menemanimu
Tetap menjagamu
Tetap mengharapkanmu

Jika...
Suatu hari nanti
Kau jadi seorang hakim
Hakim yang agung

Tetaplah ingat
Pelajaran hidup
Yang pernah aku ajarkan
Yang pernah aku berikan

Jangan pernah memvonis
Orang yang tak bersalah!
Jangan pernah memvonis
Orang yang tak bersalah!


Fenty Gunawan 

Sumber : http://www.islamedia.web.id/

Keajaiban One Day One Juz

Written By Admin on Jumat, 06 Desember 2013 | 09.57


*by Ria Nurfitriani Dewi


Siang tadi admin ikhwan One Day One Juz 100 (pak Agung Sulanjana) kirim tulisan ini:

One Day One Juz (ODOJ) adalah program yang diinisiasi oleh Rumah Qur’an untuk memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Al-Qur’an 1 juz sehari. Dalam perkembangannya, banyak ‘kejaiban’ Al Qur’an dirasakan oleh gerakan One Day One Juz yang memanfaatkan instant messager ini.

Apa saja ‘keajaiban’ tersebut? Diantaranya seperti tulisan Koordinator Admin One Day One Juz Ricky Adrinaldi melalui pesan dalam grup ODOJ yang beredar pagi ini:

Inikah Keajaiban Al-Qur’an?
Alhamdulillaah..
Rasa-rasanya baru kemarin ODOJ cuman berjumlah puluhan orang.. bahkan untuk mengaktifkan sebuah grup ikhwan saja butuh waktu 15 hari..
Sekarang.. dalam waktu kurang lebih hanya 3 minggu jumlah member sudah hampir menyentuh angka 5000.. Subhanallaah.. hanya dalam waktu 3 minggu..

Inikah keajaiban Al-Qur’an?
Entah mengapa pagi itu setelah beberapa hari mulai sibuk di ODOJ, tiba-tiba saja masuk ke emailku kesempatan dari 2 perusahaan baru pada saat kontrakku tidak diperpanjang lagi.

Inikah keajaiban Al-Qur’an?
Senang sekali rasanya bisa bekerja di “Amal Corporate” dengan orang-orang profesional yang menyediakan diri untuk mengatur grupnya setiap malam ditambah lelangan padahal mereka punya keluarga..

Inikah keajaiban Al-Qur’an?
Dan sekarang.. tahu-tahu sudah mempersiapkan grand launching di bulan Mei nanti dengan peserta puluhan ribu dan bekerja dengan teman-teman yang super kreatif.. Masya Allah.

Inikah keajaiban Al-Qur’an?
Rasanya ingin bermimpi bahwa suatu saat ada film ODOJ layar lebar yang ditonton oleh semua kalangan dan digarap sedemikian rupa dengan sangat menarik yang menampilkan keseruan dan intrik-intrik para member yang dikejar setoran tilawah tapi disibukkan oleh kesehariannya. Terutama ada adegan ketika seorang member yang naik motor, kemudian berhenti di tepi jalan dan tilawah sebentar lalu pulang.

Inikah keajaiban Al-Qur’an?
Ingin rasanya bermimpi bahwa di setiap sekolah, kampus dan kantor mewajibkan kepada siswa untuk ODOJ.
Kalaulah ini terjadi.. ODOJ akan mengglobal dan membudaya di seluruh negara.. tidak hanya tren sesaat.
Ketika ODOJ menjadi budaya, maka tugas kita selesai sudah, sahabatku..
Barakallahu.

(Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2013/11/kejaiban-al-quran-di-balik-one-day-one.html)

MasyaAllah.. Aseli merinding.

“ODOJ bagi saya adalah bentuk nyata kita umat muslim, bersama menetralisir budaya bangsa yang semakin terkikis, aturan-aturan agama yang tidak dihiraukan lagi, moral generasi bangsa yang semakin tidak karuan bahkan sistem pemerintahan yang semakin semrawut. Apalagi kalau kita bayangkan ODOJ ini mendunia? Terimakasih kepada yang telah menginisiasi gerakan ini.” (Lista, admin One Day One Juz 229)

AGREE! Bersyukur digerakkan Allah jadi bagian dari gerakan ini. Awalnya agak berat, namun setelah beberapa hari gabung, alhamdulillah makin nikmat baca Al-Qur’an :’) Dengan berjamaah di komunitas jadi saling memotivasi dan mengingatkan.

UPDATE Jumlah ODOJ per 5 Desember 2013 pukul 12.00 WIB:
Ikhwan 110 Grup
Akhwat 245 Grup
Total 355 GRUP = 10.650 ODOJers
Allahuakbar..

Setelah Ustadz Salim A.Fillah, Anton Medan. Sekarang Teuku Wisnu juga bergabung dengan ODOJ.. Grup Ikhwan 107. Alhamdulillaah. Semoga makin banyak yang gabung di ODOJ.
FYI, di Qatar juga sudah ada grup ODOJ. MasyaAllah :’) Ga sabar denger kabar bahagia “Semua umat muslim di dunia sudah menjadikan One Day One Juz sebagai gaya hidup, lillaah” ♥

Indahnya ukhuwah.. Walaupun belum pernah ketemu sama 90% saudari-saudariku Grup ODOJ 229, namun kekeluargaannya….kerasa banget. Khataman tiap hari in shaa Allah. Sharing banyak hal.
I love them because of You, Ya Rabb. Bless them with Your Rahmah. Aamiin..

Yuk gabung bersama One Day One Juz! Kecipratan semangat baca Qur’an, ketagihan baca Qur’an dan makin cinta Qur’an (In shaa Allaah) :) Boleh daftar via saya, kirimkan Nama + Nomor HP (kalau bisa WhatsApp) ke 081313014653. Nanti saya share ke adminnya (Laki-laki ke Pak Agung. Perempuan ke teh Lista)

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata membacanya, mengalami kesulitan melakukan hal itu, maka baginya DUA pahala.” (HR Muslim)

*sumber: https://rianurfitrianidewi.wordpress.com/2013/12/05/keajaiban-one-day-one-juz/


____
NB:

PENDAFTARAN

(admin kjutip dari situs resmi ODOJ onedayonejuz.org)

Cara Daftar, ketik : Gabung – Nama – Domisili – Usia – Nomor HP/Wa/BB

Contoh : Gabung-Rudi Suliwtiawan-Tangerang-35 th-0819871111111

ODOJ Pria/Ikhwan

No /Nama /Kontak
1     Widodo     085727484857
2     Fajar     083822493100
3     Fatah     081110 71736
4     Andhira     08561453464
5     Dedi     085925159202
6     Haidir     081314774290
7     Ricky     0811806504



ODOJ Perempuan/Akhwat

No /Nama /Kontak

1     Dian     085210836063
2     Aisi     081928831066
3     Fatmawati     08881635703
4     Isna     085693534392
5     Mala     085380290089
6     Ambar     085216731160
7     Maryana     085769240803
8     Eka     085642570693
9     Monalisa     08119993387


sumber : http://www.pkspiyungan.org

Pilih Sukses atau Bahagia?

Written By Admin on Kamis, 05 Desember 2013 | 13.40

Ilustrasi; I-net
Seorang teman, sebut saja namanya Dewi, adalah mahasiswi yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian tesis. Dia mengaku hidupnya tidak bahagia.

“Kenapa tidak bahagia?” tanya saya.
“Karena saya belum lulus juga.”
“Jadi kamu akan bahagia jika sudah lulus?”
“Tentu saja.”
“Berarti kalau nanti ternyata tidak lulus, kamu tak akan bahagia?”
“Jelas, dong. Tentu saya kecewa. Semua pengorbanan saya selama bertahun-tahun ternyata sia-sia.”
“Oke. Berarti dari jawaban kamu tadi, artinya sukses identik dengan bahagia, ya? Orang sukses pasti bahagia. Orang yang belum sukses pasti tidak bahagia.”
“Ah tidak juga,” Dewi berkilah. “Kebahagiaan bukan diukur dari sukses tidaknya kita.”
“Lho, katanya tadi kamu akan bahagia bila sukses lulus ujian tesis, dan tidak bahagia bila tidak lulus. Ini artinya sukses identik dengan bahagia, bukan?”
“Hm… tidak selamanya begitu.”
“Jadi gimana dong, yang benar?”

Sahabatku,

Ketika ada orang berkata, “Sukses tidak selamanya identik dengan bahagia,” ini artinya sukses dan bahagia pada dasarnya memang tidak sama. Kalau kita berkata, “Kadang-kadang sukses membuat bahagia, kadang-kadang tidak,” maka semakin terlihat kerancuan keduanya. Makin jelas terlihat bahwa:

SUKSES DAN BAHAGIA ITU TIDAK SAMA
Tak ada hubungan apapun di antara mereka. Jangan dicampuradukkan, sebab hanya akan bikin bingung sendiri

SUKSES DAN BAHAGIA ITU TIDAK SAMA, karena:

I. SUKSES itu terletak pada tujuan, pada pencapaian. Jika saya ingin lulus kuliah S3, maka saya akan sukses jika sudah lulus S3. Jika Anda ingin punya penghasilan Rp 2 miliar perbulan, maka Anda akan sukses jika penghasilan Anda sudah sebesar itu.

Apakah saya bahagia bila sudah lulus S3? Apakah Anda bahagia setelah berpenghasilan Rp 2 miliar perbulan?

Jawabannya: Belum tentu. Tergantung banyak hal. Sebab sukses dan bahagia memang tidak sama..

II. BAHAGIA letaknya pada PIKIRAN.
Bahagia itu tergantung dari CARA KITA MEMIKIRKAN SESUATU.

Orang yang berpenghasilan Rp 2 miliar sebulan bisa saja tidak bahagia, jika dia tidak pernah mau bersyukur dan selalu merasa kurang.

Sebaliknya, orang yang berpenghasilan Rp 500.000 perbulan bisa saja sangat bahagia, jika dia selalu bersyukur dan berpikiran positif terhadap nasib.

BAHAGIA itu letaknya di pikiran. Karena letaknya pada pikiran, maka kita bisa bahagia kapan saja kita mau, walaupun saat itu kita belum sukses.

Jika kita sedang sedih dan ingin bahagia, maka yang perlu kita lakukan hanya satu hal: MENGUBAH PIKIRAN. Itu saja. [jonru]

http://rumahkeluarga-indonesia.com

Berani Pesen Payung Di Akhirat?

Written By Admin on Selasa, 03 Desember 2013 | 12.58

photo : i-net
“Hare gene mesen ojek payung di akherat? Emang bisa?”

Itu adalah pertanyaan nakal dari – sebut saja – Udin yang penasaran saat Opiq bercerita padanya bahwa di usia mereka sekarang adalah saat yang tepat untuk mendapatkan naungan di akhirat di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka berdua adalah pelajar di bangku SMU.

“Redaksi haditsnya itu Naungan, bro… Lu ngertinya naungan itu cuma payung? Makanya… masuk Rohis dong!! Kalau di Rohis, kan ada wadah yang membimbing supaya kita bener-bener soleh.” Ujar Opiq yang baru saja daftar menjadi anggota Rohani Islam (Rohis) saat jam istirahat tadi.

Udin geleng-geleng kepala. “Dapet payung di akherat itu seru sih… Jadi gw kagak kepanas-panasan amat. Kan matahari cuma sejengkal di atas kepala. Tapi bro… sayang banget umur gw yang masih muda dan lucu ini kalo gak dipake buat gaul. Susah ah…”

“Lho… justru itu tantangannya. Naungan itu kagak bisa didapet dengan gampang, boy. You have to earn it!!!” Tegas Opiq dengan tampang yang mendadak sangat mirip dengan guru bahasa Inggris. Sayangnya, guru bahasa Inggris di sekolahnya itu wanita dan sudah hampir pensiun.

*****

Tepat sekali apa yang diceritakan Opiq. Masa remaja adalah kesempatan emas untuk mendapatkan naungan dan perlindungan Allah di akhirat. Tapi ada syaratnya, masa remaja itu diisi dengan ketaatan kepada Allah swt. Berita gembira ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Wah… Kalau Imam Bukhari dan Muslim sudah menyatakan suatu hadits itu shohih, dijamin daah, hadits itu 99% shohih. Dalam hadits itu, salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah di akhirat adalah pemuda yang sholih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya yaitu: Imam (pemimpin) yang adil; pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah; orang yang hatinya selalu terikat pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula; seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’; orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya; dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan tepat juga kata Opiq, bahwa saat remaja adalah saat yang sangat menantang. Menurut pakar psikologi, remaja umumnya memiliki pikiran yang pendek. Karena manusia selalu memilih hal yang menyenangkan, maka remaja akan memilih segala hal yang terlihat menyenangkan tanpa mempertimbangkan jangka panjang. Sayangnya, kenikmatan surga itu baru terlihat apabila seseorang mau berpikir panjang. Kenikmatannya ada di balik kesulitan, tetapi kenikmatan itu jauh lebih panjang dari kesulitan itu sendiri. Bahkan kenikmatannya itu abadi.

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

Siapakah psikolog yang bilang bahwa remaja cenderung berpikiran pendek itu? Rasanya tidak perlu disebutkan. Soalnya kalau sampai ada remaja yang marah, gak perlu pikir panjang langsung disamperin psikolognya.

Jadi tantangan seorang remaja dalam memilih amalan penghuni surga yang sering tidak menyenangkan itu lebih besar daripada tantangan orang dewasa, apalagi kakek-kakek dan nenek-nenek. Karena itu, layak lah apabila imbalannya adalah naungan di akhirat kelak.

Berani menerima tantangan ini?

Sumber : http://muslimmuda.wordpress.com/2013/05/12/berani-pesen-payung-di-akhirat/

Ketika Negarawan Muda Memaknai Sebuah Kepahlawanan

Written By Admin on Selasa, 26 November 2013 | 21.16

Mungkin banyak orang mengartikan seseorang yang disebut sebagai pahlawan itu adalah orang yang telah berjuang mati-matian untuk membela bangsanya, mungkin juga bisa di sebut pahlawan orang yang telah berjuang untuk dirinya, dll. Bahkan seorang tenaga pengajar semacam Guru, Akademisi disebut sebagai seorang pahlawan tanpa jasa.

Banyak orang pula di negeri ini yang berlomba-lomba untuk menjadi seorang pahlawan dengan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa, Bupati, Gubernur, Presiden. Melalui kampanye mereka obral program-program yang akan mereka jalankan di hadapan rakyat bak seorang pahlawan. Masalah nanti program itu akan di garap ataupun tidak itu urusan belakang yang penting dianggap sebagai seorang pahlawan dulu di hadapan rakyat yang akan memilihnya.

Ada pula yang sudah jadi pahlawan dengan jabatan Gubernurnya di sebuah daerah macam Jokowi di DKI Jakarta, dia jalankan program-program yang telah di canangkan bahkan langsung turun tangan di lapangan untuk menemui rakyatnya, mendengarkan keluh kesah rakyatnya dan langsung memberi solusi dan melakukan langkah kongkret, sehingga secara tidak langsung gelar Pahlawan DKI Jakarta tersemat kepada beliau bahkan semua media yang ada di negeri ini memberitakan beliau dan banyak orang memuji-muji beliau tak seorang pahlawan. Yang menjadi pertanyaan di sini apakah beliau itu tulus ataukah hanya melakukan komunikasi sekaligus Citra politik?? Silakan di persepsikan oleh pembaca masing-masing.

Yang menjadi desiran di benak penulis saat ini, sebenarnya apa makna kepahlawanan itu??

Menurut salah satu tulisan di edukasi.kompasiana.com, Kata pahlawan menurut kamus besar bahasa Indonesia berasal dari dua kata, bahasa sanskerta, pahla dan wan. Pahla berarti buah, sedangkan wan bermakna sebutan bagi orangnya (bersangkutan). Dulu gelar pahlawan diberikan kepada siapa saja yang mati di medan pertempuran baik mati karena membela bangsa dan negaranya maupun agamanya.

Makna Pahlawan ini apabila sedikit menilik dari Konsep Deskrontruksi dari Jacques Derrida, Kita sering melihat bahwa banyak anak-anak seusia TK-SD sering menyebut Tokoh-Tokoh Super Heroes, macam Batman, Supermen, Spider Man, dll. Tetapi apabila kita tinjau dari sisi sejarah dari mengapa tokoh tersebut menjadi seorang pahlawan, semisal batman yang menjadi Tokoh Super Hero dilatarbelakangi oleh dendam kepada seseorang atas pembunuhan Orang tuanya yang dilakukan oleh seseorang.

Jadi, apa pahlawan itu??

Di sini penulis sebagai orang yang telah mengabdikan Tenaga, pikiran, dll sebagai Negarawan Muda sejak penulis kuliah terutama sejak bergabung dalam keluarga besar Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Dompet Dhuafa, Ingin sedikit memberikan pemikirannya tentang arti sebuah Kepahlawanan.

Menurut Hemat penulis, pahlawan itu orang yang kita di beri amanah di manapun posisinya dan di manapun lembaganya dapat menjalankan dengan baik dan dapat membuat perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahan yang membawa dampak positif bukan dampak negatif ataupun perubahan yang hanya menguntungkan secara individu semata.

Sayangnya, di negeri ini pahlawan-pahlawan yang ada tidak pernah di kenal bahkan tidak banyak orang yang mengetahuinya. Pahlawan yang tampak adalah pahlawan yang hanya mencari sebuah popularitas atau kepentingan pribadinya semata, padahal secara kontribusi ataupun kinerja tidak ada bedanya ataupun bahkan tidak berkontribusi apapun bagi negeri ini. Pahlawan-pahlawan tersebut hanya di jadikan pahlawan oleh media bukan oleh dirinya. Pahlawan bahkan harus mengeluarkan uang untuk membayar media agar meliput dirinya agar orang lain menganggapnya seorang pahlawan yang dianggap telah melakukan sebuah perubahan, Padahal perubahan yang dilakukan hanya sebatas formalitas semata. Luar biasa tokoh-tokoh negeri ini, luar biasa miris dan menyedihkan.

Penulis di sini, sedikit kagum dengan Tokoh-tokoh nasional semacam M. Natsir, Anis Matta, Anis Baswedan, Amran Nur. Menurut hemat penulis, tokoh-tokoh tersebut memang benar-benar telah menunjukkan kontribusinya. Salah satunya contohnya adalah Amran Nur, Bupati Sawah Lunto ini telah mengubah kota Sawah Lunto dari kota mati bekas tambang menjadi kota yang menjadi kota yang hidup dan memanfaatkan potensi yang ada terutama tambang (Informasi dari Wartawan Republika Online). Juga ada Anis Baswedan yang menciptakan Program Indonesia Mengajar.

Bisa pula sohib saya dari UGM, Fachri Aidulsyah. Mahasiswa Sosiologi UGM ini telah menciptakan sebuah Komunitas yang saat ini hampir menjadi sebuah Organisasi Sosial Masyarakat “Gerakan Indonesia Berdaulat”. Gerakan ini selain telah mempersatukan Seluruh elemen mahasiswa, memanfaatkan segala potensi mahasiswa terutama mahasiswa UGM. Juga telah memperjuangkan Kedaulatan Indonesia dari segala sisi dengan sebuah langkah kongkret kecil yang hanya sebatas diskusi, membuat karya-karya kecil dari mahasiswa UGM, dll.
Febrian Indra Rukmana

Tentang Febrian Indra Rukmana

Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNS 2010. Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara 2013 Dompet Dhuafa Republika. Ketua Umum BIRO AAI FISIP UNS. Ketua Badan Khusus Jaringan Fakultas KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS. Ketua Bidang Pembinaan Sumber Daya Manusia Jaringan Mahasiswa Islam Klaten (JAMAIKA) Indonesia.

Petuah dari Sang Maestro: Alm. Rahmat Abdullah

Written By Admin on Jumat, 22 November 2013 | 13.50

Aktivitas rutin seringkali mengikis kondisi batin dan sensitivitas hati. Mari berhenti sejenak menuai pemikiran dan pemahaman akan jutaan obat penyejuk kondisi perasaan, hati dan emosi. Berikut bebrapa petuah penuh hikmah dari sang maestro almarhum Ustadz Rahmat Abdullah:

Nasihat Persahabatan 
‎"Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku"

Jika ku dapat menarik Pelangi, Mentari dan Bintang. Maka ku akan membentuk 'Namamu' di situ, lalu akan ku kembalikan lagi ia ke 'Langit' agar semua orang tahu, betapa bahagianya aku mempunyai 'saudara' seperti dirimu.

Nasihat Perjuangan
“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, di mana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!”

Jangan takut untuk mengambil langkah besar hari ini, Jika memang dibutuhkan!! Jurang tak bisa diseberangi hanya dengan 2,3 lompatan kecil!! 

Nasihat Kebangsaan
"Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang di tangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini". 

Semoga berkesan, menggugah dan menguatkan.
 
http://www.iswandibanna.com/

If Allah is All You Have, You Have All You Need!

Written By Admin on Rabu, 13 November 2013 | 09.35

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Rinai hujan mengingatkanku pada derasnya air mata dan lelahnya diri kala bergantian menggendong sulung kami jika ia demam di malam hari, sementara ummi abinya mempelajari diktat kuliah. Begitu kuat rasa optimis kepada Allah ta’ala sehingga kami tak menghiraukan bujukan orang tua untuk melakukan pertunangan dan sejenisnya, bahkan seminggu usai walimatul-ursy yang sederhana, kami langsung berkutat dengan urusan registrasi di kampus masing-masing. Si sulung lahir di tahun berikutnya, ia menjadi anggota tim juang pula, sudah terbiasa masuk ke ruang kuliah atau laboratorium di kampus tempat orang tuanya menimba ilmu.

Namun setapak demi setapak langkah tatkala menuju Afrika, lelah itu terhapus sudah, ketika melihat situasi saudara kita yang mukanya hanya tersenyum bahagia, padahal mobil SUV mewah yang dipunyainya baru dibakar oleh perampok jalanan—3 kali peristiwa itu terjadi, 3 kali dia hanya tersenyum berseri-seri. Air mata, tidak dikeluarkannya untuk harta dunia.

Bahkan dapur dan kasur baru ‘hadir’ di rumahnya setelah puluhan tahun bekerja, “Sudah asyik tidur di tikar biasa…” Ujarnya, jadi ketika membeli batu-batu untuk membangun dapur dan kayu serta kasur itu adalah dikarenakan keluangan waktunya.

Qana’ah sikapnya, teduh wajahnya, saudara ikatan satu ukhuwah memang luar biasa!

Bahkan saudara kita lainnya, pemilik masjid Johannesburgh, alias pemilik ribuan hektar tanah di Afrika Selatan itu, harta kekayaannya melimpah—melebihi harta hasil korupsi para investor dan pemimpin pertiwi, semua aset gedung perkantoran, mall, sekolah di atas tanahnya harus menyewa. Harga sewa dalam hitungan puluhan tahun, dia tidak menjual tanahnya sejengkal pun, meski kepada pemerintah. Tetapi brother ini tak pernah bersikap kasar dan memaki siapa pun, sebagaimana yang kita alami—jika kita berkuasa, punya banyak harta, seolah harga diri manusia bisa kita beli semua, jujur sajalah, duhai nurani?! ;)

Brother itu tidak sedemikian, ia tetap sederhana, bahkan di rumahnya tidak menggunakan televisi. Jumlah jubahnya bisa dihitung dengan jari, sandalnya hanyalah sandal jepit tanpa merek ternama.

Harta kekayaannya ia investasikan untuk membangun banyak sekolah di penjuru negeri, rumah-rumah yatim, dan perjuangan kaum muslimin.

Begitu pula saat kami melewati perkebunan di wilayah Prancis, Belgia, dan Jerman, se-terpencil-terpencilnya wilayah di muka bumi, pastilah ada orang muslim yang menghuninya. Pastilah ada makhluk-Nya yang mengagungkan nama Allah SWT. Maka pasti ada hati yang terpanggil untuk menjaga konsumsi makanan halal, begitulah penjagaan Allah ta’ala pada diri orang mukmin.

Ada seorang brother yang merantau jauh dari negeri asalnya, ia cerdas dan sederhana, tahukah kalian apa pekerjaannya? Ia menyembelihkan daging ternak untuk supply muslimin di negeri minoritas ini. Prancis, Belgia, Italia, Jerman, dan sekitarnya tak melulu mengimpor daging dari Turkey. Peternakan memerlukan penyembelih daging halal, ini pekerjaan mulia, muslimin sangat berjasa pada brother ini.

Saya sangat menghargainya, apalagi para pemimpin Islamic Center yang mengenalnya, termasuk para Syekh turut mengundang brother tersebut untuk berperjalanan menuju Baitullah, dengan mencukupkan perbekalannya. Subhanallah!

Saudara-saudariku yang dicintai Allah, jangan khawatirkan rezekimu dan keluarga, karena Allah ta’ala senantiasa melimpahkan kecukupan bagi setiap hamba-Nya. Saat ini, sebagian besar dari kita ‘latah’ dengan ragam jenis usaha serta penawaran, dari perusahaan mana pun juga, termasuk badan usaha asing. Semua berlomba menawarkan bonus berlipat ganda, meyakinkan para pegiat usahanya untuk ‘terjamin’ sampai ke tujuh turunan dan seterusnya, mobil dan tiket travelling dijadikan tanda kesuksesan.

Tak hanya itu, tanpa disadari, ukhuwah dan persahabatan yang terjalin memiliki filter yang lebih eksklusif, ketika saudara lainnya tidak mengikuti bisnis yang sama, maka hadir jarak yang kian renggang, ditambah frekuensi pertemuan kian berkurang, semakin asinglah kehadiran sosok sahabat lama. Para suami kehilangan masakan spesial dan pijatan mesra dari istri-istri yang ‘latah’ berbisnis duniawi. Para anak dan pelajar pun harus rela didampingi para ibu yang hanya ‘raganya’ di sisi, hatinya condong pada gelimang rupiah sehingga jemarinya sibuk ‘otak-atik’ segala jenis alat komunikasi. Para ibu yang beralasan, “Ini demi masa depan gemilang… supaya terus-menerus ada tabungan…dll” Meski faktanya adalah sungguh pengorbanan besar atas dana pengeluaran rumah tangga sendiri, kebersamaan dan kemesraan bersama keluarga.

Ibu shalihat dari seorang sisterku di Jawa Tengah adalah single-parent yang suaminya meninggal saat usia beliau masih 20 tahun. Si ibu memang bukanlah wanita modern, bukan seperti wanita-wanita modis dengan budaya ‘high-impression’ sebagaimana kebanyakan wanita di kota-kota besar. Namun dengan ketegaran dan kepercayaan penuh kepada Allahu rabbal ‘alamiin, si ibu tak tergoda pada kehidupan ‘glamour’ yang ditawarkan oleh orang-orang (terutama pria yang berkeinginan menikahinya). Si ibu tidak latah dan tak ingin terbawa efek negatif arus modernisasi. Subhanallah, ia bekerja tulus sebagai seorang pengasuh balita, dan anak-anak justru mengagumi ibunya.

Air mata mereka yang tumpah setiap harinya, tak perlu kita tanyakan. Anak-anak yatim dan si ibu ini tetap teguh berjalan dalam aturan-Nya, meski harus pindah balik kampung saat diusir oleh saudara dari suaminya. Segala kenangan di masa pertumbuhan anak-anaknya adalah hikmah baginya, cibiran dan cemoohan orang yang dahulu tanpa sebab berubah menjadi penyesalan. Sang ibu sekarang asyik menikmati masa indah bersama anak-cucu, semua anaknya berhasil menjadi sarjana di universitas terkemuka dan memiliki usaha-usaha yang mandiri. Sedangkan para pencibir dan pencemoohnya justru tertekan dan selalu hidup dalam kesempitan, bagaikan berada di posisi terbalik, dalam perputaran roda dunia. Na’udzubillah…

Sebagian besar kita amat takut dengan kondisi inflasi yang kian melangit. Harga-harga kebutuhan pokok meningkat terus-menerus, apalagi proses tumbuh-kembang anak-anak memerlukan nutrisi yang tepat. Kebutuhan semakin banyak, maka ‘setting’ di alam pikiran mengatakan, “harus tambah banyak mengumpulkan uang…” Sehingga tambah banyak ‘yang latah’, berebut ikut perkumpulan bisnis dan investasi ini dan itu. Inilah keadaan yang menggambarkan begitu khawatirnya kalau duit habis, tanpa disadari kita terjerumus jebakan ‘berhedon-mengutamakan kesenangan dunia’. Tanpa disadari kita melangkah dengan ‘illah-illah’ lainnya, bukankah segala sesuatunya harus diniatkan- lillahi’ta’la? Tanpa sadar kita terperosok pada ‘kecintaan tinggi pada dunia’, Na’udzubillah minzaliik.

…Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)

Bahkan di beberapa lokasi, disertai keindahan menu tontonan tersaji di layar televisi, ada banyak acara yang menjual air mata, menukar tampilan kesusahan dan skenario musibah yang dialami demi keuntungan bisnis pula. Apalagi, antara yang haq dan yang bathil dicampur-adukkan. Sungguh para sekuler kian tertawa dengan keberhasilan mereka atas fenomena ini. Jika kita bersedekah, niat ikhlas, kenapa harus ‘memiliki syarat’ dengan menyuruh penerima sedekah melakukan perbuatan aneh-aneh di hadapan publik. Makna perjuangan disalahartikan. Pemilik acara meraup keuntungan yang jauh lebih besar dari pada ‘acara sedekahnya’.

Demikian pula contoh lainnya saat sebagian besar kita ‘latah’ ikut mengkhawatirkan kekurangan rezeki, pernikahan ditunda demi mengumpulkan dana resepsi yang ‘wah’, bantuan donasi dan infaq sedekah pun dipilih sesuai keuntungan golongan bisnis yang digeluti, bukan lagi ‘lillahi ta’ala, melainkan demi hal-hal yang lain. Astaghfirullah, juga proses status pegawai negeri sipil, yang tak henti-hentinya dibelit kebusukan strategi kolusi, saling sikut dalam tingkat rasa takut dan kecurigaan yang tinggi, seolah ‘tidak bisa hidup kalau tidak berstatus pegawai negeri’, padahal hamba-Nya yang jujur pasti merasakan keberkahan luar biasa jika pekerjaan tulusnya dibayar dengan upah memuaskan dengan tanpa mencekik rakyat jelata. Harus disadari oleh semua pihak, menjadi pegawai negara berarti digaji oleh rakyat, harus mengutamakan kepentingan rakyat, bukan malah menginjak-injak rakyat dan harga diri bangsa.

Ah, gara-gara mengkhawatirkan rezeki, tak sedikit wanita yang menggugurkan kandungannya, termasuk dua orang ibu yang pernah kukenal. Sungguh amat berbeda dengan banyak srikandi hebat yang tengah merantau di luar negeri, selain harus lincah berkoordinasi dengan suami apalagi saat suami berdinas di tempat lain, memiliki anak-anak yang lebih dari empat orang, masih sempat pula membantu banyak teman lainnya di berbagai kondisi. Subhanallah! Inilah perbedaan nyata antara sosok yang teguh dan beriman kepada Allah ta’ala, dengan sosok yang malas menggali ilmu-Nya, seperti si fulanah membuka hijabnya demi memperoleh pekerjaan di acara konser-konser dan pentas seni sesuai keinginannya, duit dan popularitas adalah incarannya.

Alhamdulillah, masih banyak saudara-saudariku yang saling membisikkan nasihat, “Apabila manusia tidak menjawab perintah Allah ta’ala dan seruan Nabi SAW, Apabila manusia lebih mementingkan urusan lain daripada bekerja di jalan Allah SWT, maka Allah akan letakkan penghalang atau hijab pada hati-hati mereka. (QS. 8: 24-25).” yang terkait pula dengan peringatan bagi diri kita, jika banyak bermaksiat, kian susah untuk menyerap ilmu-Nya.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan (amal terbaik adalah yang ikhlas lillahi ta’ala tanpa kesyirikan), dan sumber utama dari segala tanya dalam problema semesta adalah al-Quran dan al-Hadits.

Warisan abadi kepada anak-cucu sepanjang zaman adalah al-Quran dan al-Hadits, inilah harta paling berharga bagi orang-orang yang berakal. Semoga Allah tetapkan kita istiqamah di atas jalan-Nya, amin. (Masya Allah ….sebagian catatan dari kelas tadabur Ust. Khairul Azli).

Setiap profesi kita, aktivitas kita, teman-teman dan atribut yang menempel pada diri kita adalah bagian dari limpahan nikmat-Nya, hargailah dengan mensyukurinya. Menghina dan melecehkan saudara berarti telah menunjukkan keburukan hati diri sendiri, ingatlah, kita memerlukan banyak saudara yang selalu saling mendoa, apalagi jika nanti kita menjadi sosok jenazah nan terbujur kaku, hari nan pasti datang.

Apapun aktivitas saat ini serta lincahnya raga, mata, telinga, lidah, hidung, dll jika kita pergunakan bukan karena Allah SWT semata, sungguh sia-sia, *ngeri* membayangkan ketika tangan dan kaki bicara kelak di hari pertanggungjawaban.

Na’udzubillah!

‘Yoook, berbenah… jangan hidup dengan “apa kata orang, bagusnya gimana kata orang?!”

Semua manusia akan jadi jenazah, fana!

Mari kita hidup dengan, “Apa yang terbaik sesuai aturan Allah SWT? Apa Allah suka, apakah Allah ridha?” Hanya Allah ta’ala yang abadi, Tuhan semesta alam.

*if Allah is all you have, you have all you need!*

Semoga kita pandai memetik hikmah-Nya, titip doa agar qalbu ini senantiasa berada dalam kepatuhan pada-Nya, Barakallah! Wallahu a’lam bisshawab.
 
 
Support : Copyright © 2011. DPC PKS BATANGHARI LAMPUNG TIMUR - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger