Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
11.37
I’tikaf, Menemukan Kesejatian Diri
Written By Admin on Kamis, 09 Juli 2015 | 11.37
Kita sudah relatif jauh berjalan. Banyak yang sudah kita lihat dan yang kita raih. Tapi banyak yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret. Dan masih banyak lagi.
Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.
Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.
Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS Al Hadid: 16).
Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.
Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.
Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.
I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.
Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.
Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.
Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.
Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS Al Hadid: 16).
Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.
Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.
Diambil dari Buku Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M. Anis Matta - Keajaiban I’tikaf (Menemukan Kesejatian Diri) [http://www.pks.or.id]
Label:
Kajian
15.36
Syarat Kemenangan
Written By Admin on Kamis, 04 Juni 2015 | 15.36
Taujih KH. Hilmi Aminuddin
Ikhwan dan Akhwat Fillah…
Saya ingin mengingatkan, betapa pun kemajuan-kemajuan teknologi yang kita pakai dalam manajemen, betapa pun bagusnya teori-teori manajemen yang kita adopsi dan kita terapkan dalam jama’ah kita ini, tapi jangan lupa dengan hal yang sangat substansial, bahwa doktrin dakwah kita tidak pernah berubah. Kemenangan-kemenangan dakwah persyaratannya tidak pernah berubah. Kemenangan perjuangan hanya akan dicapai oleh kelompok, oleh jama’ah yang aqrabuhum ilallah wa ashlahuhum linnas (yang paling dekat kepada Allah dan yang paling baik kepada manusia). Tidak lebih dari itu. Orang yang paling dekat kepada Allah dan yang paling ashlah bagi kehidupan manusia, itulah yang akan diberikan kesempatan menang oleh Allah SWT. Yang dalam tingkat operasional, ujung tombaknya adalah ihsan.
“Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (Q.S. Al-Qashash: 77)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (Q.S. An-Nahl: 125)
Itu adalah yang substansial. Sifatnya tidak pernah berubah.
Jadisekali lagi secara ringkas Allah menjelaskan kunci kemenangan adalah aqrabuhum ilallah wa anfa’uhum linnas wa ashlahuhum linnas, mereka yang paling dekat kepada Allah dan bermanfaat serta yang paling baik kepada manusia.
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. Al-Hajj: 22)
Untuk mencapai falaah, kemenangan, Allah menjelaskan adanya syarat kualitas dan kuantitas pendekatan kita kepada Allah. Kuantitas dan kualitas ishlah kita bainannaas. Itu rumusan dasar yang tidak boleh ditinggal.
Naudzubillah bila peningkatan kualitas administrasi, kualitas manajemen, ternyata kosong dari rumusan dasar aqrabuhum ilallah, ashlahuhum linnas. Bila itu terjadi, tidak akan menjanjikan keberhasilan dan kemenangan. Sekali lagi peningkatan-peningkatan kualitas manajemen, kualitas idariyah, bahkan sarana prasarana dan metode-metode pendekatan, harus tidak dilepaskan dari hal-hal substansi.
Mudah-mudahan—insya Allah—kita bisa menampilkan secara penuh di tengah-tengah masyarakat sebagai entitas ummat yang aqrabuhum ilallah dan ashlahuhum linnas. [ http://www.al-intima.com]
Ikhwan dan Akhwat Fillah…
Saya ingin mengingatkan, betapa pun kemajuan-kemajuan teknologi yang kita pakai dalam manajemen, betapa pun bagusnya teori-teori manajemen yang kita adopsi dan kita terapkan dalam jama’ah kita ini, tapi jangan lupa dengan hal yang sangat substansial, bahwa doktrin dakwah kita tidak pernah berubah. Kemenangan-kemenangan dakwah persyaratannya tidak pernah berubah. Kemenangan perjuangan hanya akan dicapai oleh kelompok, oleh jama’ah yang aqrabuhum ilallah wa ashlahuhum linnas (yang paling dekat kepada Allah dan yang paling baik kepada manusia). Tidak lebih dari itu. Orang yang paling dekat kepada Allah dan yang paling ashlah bagi kehidupan manusia, itulah yang akan diberikan kesempatan menang oleh Allah SWT. Yang dalam tingkat operasional, ujung tombaknya adalah ihsan.
“Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (Q.S. Al-Qashash: 77)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (Q.S. An-Nahl: 125)
Itu adalah yang substansial. Sifatnya tidak pernah berubah.
Jadisekali lagi secara ringkas Allah menjelaskan kunci kemenangan adalah aqrabuhum ilallah wa anfa’uhum linnas wa ashlahuhum linnas, mereka yang paling dekat kepada Allah dan bermanfaat serta yang paling baik kepada manusia.
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. Al-Hajj: 22)
Untuk mencapai falaah, kemenangan, Allah menjelaskan adanya syarat kualitas dan kuantitas pendekatan kita kepada Allah. Kuantitas dan kualitas ishlah kita bainannaas. Itu rumusan dasar yang tidak boleh ditinggal.
Naudzubillah bila peningkatan kualitas administrasi, kualitas manajemen, ternyata kosong dari rumusan dasar aqrabuhum ilallah, ashlahuhum linnas. Bila itu terjadi, tidak akan menjanjikan keberhasilan dan kemenangan. Sekali lagi peningkatan-peningkatan kualitas manajemen, kualitas idariyah, bahkan sarana prasarana dan metode-metode pendekatan, harus tidak dilepaskan dari hal-hal substansi.
Mudah-mudahan—insya Allah—kita bisa menampilkan secara penuh di tengah-tengah masyarakat sebagai entitas ummat yang aqrabuhum ilallah dan ashlahuhum linnas. [ http://www.al-intima.com]
Label:
Kajian
08.18
Kamu Sudah Tahu, Maka Komitmenlah
Written By Admin on Kamis, 21 Mei 2015 | 08.18
Segala puji hanya bagi-Mu, ya Allah. Kepada-Mu segala yang ada di
langit dan di bumi bertasbih dengan tidak mengenal lelah, jenuh, dan
jemu. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Engkaulah yang mensucikan hati-hati
hamba-Mu sesuai dengan kehendak-Mu.
Wahai diriku.…
Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.
Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”
Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.
Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.
Wahai diriku….
Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!
Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?
Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”
Diriku….
Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?
Diriku….
Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!
Karena itu….
Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”
ust. Ibnu Jarir, Lc
Wahai diriku.…
Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.
Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”
Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.
Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.
Wahai diriku….
Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!
Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?
Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”
Diriku….
Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?
Diriku….
Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!
Karena itu….
Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”
ust. Ibnu Jarir, Lc
Sumber: http://www.dakwatuna.com
Label:
Kajian
08.20
Ar-Riyaadah (jiwa kepeloporan) terbagi dalam tiga jenis, sebagai berikut:
Pertama, ar-riyaadah ruhiyah wal ma’nawiyah, kepeloporan dalam ruhiyah dan maknawiyah, dalam mentalitas dan moralitas. Kepeloporan ruhiyah dan maknawiyah ini akan mudah terlihat dalam mawaqif (sikap-sikap) ketika menghadapi aneka ragam tantangan, tuntutan pengorbanan dan resiko. Ia akan nampak dalam sikap-sikap yang tenang dan tidak gelisah karena memiliki mustaqrir nafsian wa fikrian, yakni tenang dan stabil secara kejiwaan dan pemikiran.
Di dalam situasi apa pun kader dakwah seharusnya tidak tergoyahkan oleh tantangan, resiko dan ancaman apa pun. Ar-riyaadah ruhiyah wal ma’nawiyah ini terbentuk oleh lima muwashafat (karakter) utama sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra:
Semangat membaca merupakan hal penting bagi kita sebagai da’i dan da’iyah sehingga akan dapat mengambil posisi, langkah-langkah, dan ucapan-ucapan yang tepat sebagaimana bimbingan Rasulullah saw kepada kita, khaatibun naasa ‘alaa qadri uquulihim, bahwa ketika berbicara dengan orang lain harus disesuiakan dengan tingkat intelektualnya. Sabda Rasulullah saw lainnya yakni khaatibun naasa ‘alaa lughati qaumihim, berbicaralah kepada manusia kepada manusia sesuai dengan bahasa kaumnya. Selain itu sabda Rasulullah saw, anzilun naasa manazilahum, menempatkan seseorang yang kita ajak bicara sesuai dengan kedudukannya secara proporsional. Jangan direndahkan namun juga jangan diagung-agungkan atau dikultuskan melainkan tetap proporsional sesuai dengan posisinya.
Semangat membaca dan menuntut ilmu merupakan tuntunan rabbani dalam Al-Qur’an. Sehingga semangat untuk menambah ilmu merupakan salah satu bentuk kepeloporan yang harus dimiliki.
Ketiga, ar-riyaadah bid-da’wah wal harakah, kepeloporan dalam dakwah dan pergerakan. Kader dakwah harus selalu berada di barisan terdepan yang tidak harus terkait dengan jabatan tertentu. Jangan sampai baru akan berada di barisan depan bila diberi jabatan. Kita dapat mengambil ibrah dari peristiwa proses serah terima jabatan panglima dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah bin Jarrah ra di tengah medan pertempuran. Perintah Khalifah Umar bin Khaththab untuk melakukan serah terima jabatan panglima perang sangat mendadak, sehingga sempat memunculkan situasi gamang, tetapi kemudian menjadi sejuk setelah ada pernyataan Abu Ubaidah bin Jarrah, “Lau laa amra khaliifati amiiril mu’miniina ‘Umar ibnil Khaththab bi an akuuna ma’muuran ahabbu ilayya bi an akuuna aamiran.”, kalau saja bukan karena perintah Khalifah Umar bin Khaththab saya lebih suka jadi anak buah dibanding jadi pemimpin.
Oleh karena itu kita memahami bahwa wazhifah tanzhimiyah (tugas struktural) bukan tasyrif (kehormatan) melainkan taklif (beban), karena diperintah dan ditugaskan dan bukan karena mencari atau mengejarnya.
Sebaliknya Khalid pun dengan tenang menjawab: “Sekarang Anda pimpinan saya dan saya adalah prajurit, tetapi tolong izinkan saya menyelesaikan dulu satu pertempuran yang insya Allah akan memudahkan Anda nanti untuk memimpin.” Kata Abu Ubaidah, “Silahkan selesaikan pertempuran itu.” Maka setelah Khalid menyelesaikan pertempuran tersebut ia pun kemudian menyerahkan tugas-tugas sebagai panglima kepada penggantinya yang ditunjuk Umar yakni Abu Ubaidah bin Jarrah ra. [ ]
Jiwa Kepeloporan Kader Dakwah
Written By Admin on Selasa, 10 Maret 2015 | 08.20
Ar-Riyaadah (jiwa kepeloporan) terbagi dalam tiga jenis, sebagai berikut:
Pertama, ar-riyaadah ruhiyah wal ma’nawiyah, kepeloporan dalam ruhiyah dan maknawiyah, dalam mentalitas dan moralitas. Kepeloporan ruhiyah dan maknawiyah ini akan mudah terlihat dalam mawaqif (sikap-sikap) ketika menghadapi aneka ragam tantangan, tuntutan pengorbanan dan resiko. Ia akan nampak dalam sikap-sikap yang tenang dan tidak gelisah karena memiliki mustaqrir nafsian wa fikrian, yakni tenang dan stabil secara kejiwaan dan pemikiran.
Di dalam situasi apa pun kader dakwah seharusnya tidak tergoyahkan oleh tantangan, resiko dan ancaman apa pun. Ar-riyaadah ruhiyah wal ma’nawiyah ini terbentuk oleh lima muwashafat (karakter) utama sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra:
- al-khaufu minal Jalil, takut kepada Allah.
- al ‘amalu bit tanzil, beramal dengan selalu berpanduan pada al-Qur’an dan as-Sunnah.
- asy-syukru bil jazil, selalu bersyukur akan pemberian dari Allah yang demikian banyak dan tak terhitung—wa in ta’uddu ni’matallahi laa tuhsuha, kalau kita ingin menghitung-hitung nikmat dari Allah niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya.
- As-shabru bil qalil, bersabar ketika ada kekurangan fasilitas atau harapan yang belum terpenuhi, keinginan yang belum terealisasi, obsesi yang belum tercapai, situasi yang mungkin menyakitkan ataupun kondisi yang mungkin merugikan.
- Al-Isti’dad li yaumir rahil, bersiap diri untuk menghadapi akhirat. Kita hidup berjuang memang di dunia, tetapi orientasi hidup kita tetap harus akhirat.
Semangat membaca merupakan hal penting bagi kita sebagai da’i dan da’iyah sehingga akan dapat mengambil posisi, langkah-langkah, dan ucapan-ucapan yang tepat sebagaimana bimbingan Rasulullah saw kepada kita, khaatibun naasa ‘alaa qadri uquulihim, bahwa ketika berbicara dengan orang lain harus disesuiakan dengan tingkat intelektualnya. Sabda Rasulullah saw lainnya yakni khaatibun naasa ‘alaa lughati qaumihim, berbicaralah kepada manusia kepada manusia sesuai dengan bahasa kaumnya. Selain itu sabda Rasulullah saw, anzilun naasa manazilahum, menempatkan seseorang yang kita ajak bicara sesuai dengan kedudukannya secara proporsional. Jangan direndahkan namun juga jangan diagung-agungkan atau dikultuskan melainkan tetap proporsional sesuai dengan posisinya.
Semangat membaca dan menuntut ilmu merupakan tuntunan rabbani dalam Al-Qur’an. Sehingga semangat untuk menambah ilmu merupakan salah satu bentuk kepeloporan yang harus dimiliki.
Ketiga, ar-riyaadah bid-da’wah wal harakah, kepeloporan dalam dakwah dan pergerakan. Kader dakwah harus selalu berada di barisan terdepan yang tidak harus terkait dengan jabatan tertentu. Jangan sampai baru akan berada di barisan depan bila diberi jabatan. Kita dapat mengambil ibrah dari peristiwa proses serah terima jabatan panglima dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah bin Jarrah ra di tengah medan pertempuran. Perintah Khalifah Umar bin Khaththab untuk melakukan serah terima jabatan panglima perang sangat mendadak, sehingga sempat memunculkan situasi gamang, tetapi kemudian menjadi sejuk setelah ada pernyataan Abu Ubaidah bin Jarrah, “Lau laa amra khaliifati amiiril mu’miniina ‘Umar ibnil Khaththab bi an akuuna ma’muuran ahabbu ilayya bi an akuuna aamiran.”, kalau saja bukan karena perintah Khalifah Umar bin Khaththab saya lebih suka jadi anak buah dibanding jadi pemimpin.
Oleh karena itu kita memahami bahwa wazhifah tanzhimiyah (tugas struktural) bukan tasyrif (kehormatan) melainkan taklif (beban), karena diperintah dan ditugaskan dan bukan karena mencari atau mengejarnya.
Sebaliknya Khalid pun dengan tenang menjawab: “Sekarang Anda pimpinan saya dan saya adalah prajurit, tetapi tolong izinkan saya menyelesaikan dulu satu pertempuran yang insya Allah akan memudahkan Anda nanti untuk memimpin.” Kata Abu Ubaidah, “Silahkan selesaikan pertempuran itu.” Maka setelah Khalid menyelesaikan pertempuran tersebut ia pun kemudian menyerahkan tugas-tugas sebagai panglima kepada penggantinya yang ditunjuk Umar yakni Abu Ubaidah bin Jarrah ra. [ ]
Label:
Kajian
13.43
Ada seorang Al Akh akan pergi haji, meminta nasehat lebih dulu kepada saya. Saya katakan kepadanya haji itu merupakan bagian dari ibadah lainnya yang kesemuanya dalam rangka “Fa-aqim wajhaka liddieni hanifa”.
Seluruh Ibadah kita sangat tergantung kepada tawajjuh (orientasi) kita terhadap dien secara lurus, hanif. Pertama-tama tentu saja kita harus memiliki tawajjuh aqidi dalam setiap ibadah kita, orientasi aqidah atau menghadapnya kita secara aqidi.
Dalam ibadah haji direflesikan dalam kalimat labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Kita menolak segala sambutan terhadap panggilan selain Allah, dan bila harus menyambut panggilan yang lain, misalnya istri atau anak, tetaplah dalam kerangka menyambut panggilan Allah atau dengan kata lain lillah, karena Allah. Karena kita sudah menegaskan; Labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak, aku sambut panggilanMU ya Allah tak ada sekutu bagiMu sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan ada di tanganMu. Tak ada sekutu bagiMu.
Setelah tawajjuh aqidi, tawajjuh atau orientasi yang kedua adalah tawajjuh syar’i. Dalam beribadah kita harus memperhatikan orientasi syar’i, ini karena Allah bukan saja menurunkan mabda’ (prinsip dasar)melainkan juga menurunkan syir’atan wa minhajan, dan dalam melangkah atau beribadah, kita harus melalui koridor tersebut. Misalnya dalam haji, khudzuu ‘anni manasikakum—ambilah / contohlah dariku manasik haji kalian, dan dalam shalat, shallu kama roaitumuni ushalli—shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Sejalan dengan itu tentunya juga terefleksi dalam hal jihad atau bisa diparalelkan, jaahidu kama roaitumuni ujaahid.
Tawajjuh yang ketiga adalah tawajjuh amali (orientasi operasional). Artinya kita harus “wa’aiddu mastatho’tum minquwwah”, segala potensi secara operasianal harus dihimpun dan digabung secara syumul (integral) dan takamul (terpadu) agar bisa merealisir tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Karena segala tugas dan kewajiban dari Allah tidak bisa kita persiapkan secara juz’iyah(parsial). Misalnya untuk sholat kita harus lebih dulu wudhu, dan untuk wudhu tentu saja harus ada air. Kemudian untuk Sholat harus syatrul aurat (menutup aurat), jadi harus ada baju dan mukena. Lalu agar dengkul kita bisa tegak dan kuat berdiri ketika sholat, kita butuh makan lebih dulu. Jadi ada kesyumuliyahan dalam adaa’ish shalah (pelaksanaan shalat).
Ketiga tawajjuh tersebut yakni tawajjuh aqidi, syar’i dan amali harus selalu ada terhimpun secara sekaligus di setiap ibadah yang kita lakukan. Yang jelas kita harus senantiasa mempersiapkan segala sarana dan prasarana serta potensi agar tugas-tugas dari Allah swt dapat kita kerjakan secara baik, karena Allah telah menyuruh kita mengerahkan segenap potensi dan kekuatan “Waa’iddu lahum mastatho’tum minquwwah” (QS 8:60) di sinilah letak ke-syumuliyah-an dan ke-takamuliyah-annya.
sumber : http://www.al-intima.com/taujih-hilmi-aminuddin/tawajjuh
Tawajjuh
Written By Admin on Jumat, 26 September 2014 | 13.43
Ada seorang Al Akh akan pergi haji, meminta nasehat lebih dulu kepada saya. Saya katakan kepadanya haji itu merupakan bagian dari ibadah lainnya yang kesemuanya dalam rangka “Fa-aqim wajhaka liddieni hanifa”.
Seluruh Ibadah kita sangat tergantung kepada tawajjuh (orientasi) kita terhadap dien secara lurus, hanif. Pertama-tama tentu saja kita harus memiliki tawajjuh aqidi dalam setiap ibadah kita, orientasi aqidah atau menghadapnya kita secara aqidi.
Dalam ibadah haji direflesikan dalam kalimat labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Kita menolak segala sambutan terhadap panggilan selain Allah, dan bila harus menyambut panggilan yang lain, misalnya istri atau anak, tetaplah dalam kerangka menyambut panggilan Allah atau dengan kata lain lillah, karena Allah. Karena kita sudah menegaskan; Labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak, aku sambut panggilanMU ya Allah tak ada sekutu bagiMu sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan ada di tanganMu. Tak ada sekutu bagiMu.
Setelah tawajjuh aqidi, tawajjuh atau orientasi yang kedua adalah tawajjuh syar’i. Dalam beribadah kita harus memperhatikan orientasi syar’i, ini karena Allah bukan saja menurunkan mabda’ (prinsip dasar)melainkan juga menurunkan syir’atan wa minhajan, dan dalam melangkah atau beribadah, kita harus melalui koridor tersebut. Misalnya dalam haji, khudzuu ‘anni manasikakum—ambilah / contohlah dariku manasik haji kalian, dan dalam shalat, shallu kama roaitumuni ushalli—shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Sejalan dengan itu tentunya juga terefleksi dalam hal jihad atau bisa diparalelkan, jaahidu kama roaitumuni ujaahid.
Tawajjuh yang ketiga adalah tawajjuh amali (orientasi operasional). Artinya kita harus “wa’aiddu mastatho’tum minquwwah”, segala potensi secara operasianal harus dihimpun dan digabung secara syumul (integral) dan takamul (terpadu) agar bisa merealisir tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Karena segala tugas dan kewajiban dari Allah tidak bisa kita persiapkan secara juz’iyah(parsial). Misalnya untuk sholat kita harus lebih dulu wudhu, dan untuk wudhu tentu saja harus ada air. Kemudian untuk Sholat harus syatrul aurat (menutup aurat), jadi harus ada baju dan mukena. Lalu agar dengkul kita bisa tegak dan kuat berdiri ketika sholat, kita butuh makan lebih dulu. Jadi ada kesyumuliyahan dalam adaa’ish shalah (pelaksanaan shalat).
Ketiga tawajjuh tersebut yakni tawajjuh aqidi, syar’i dan amali harus selalu ada terhimpun secara sekaligus di setiap ibadah yang kita lakukan. Yang jelas kita harus senantiasa mempersiapkan segala sarana dan prasarana serta potensi agar tugas-tugas dari Allah swt dapat kita kerjakan secara baik, karena Allah telah menyuruh kita mengerahkan segenap potensi dan kekuatan “Waa’iddu lahum mastatho’tum minquwwah” (QS 8:60) di sinilah letak ke-syumuliyah-an dan ke-takamuliyah-annya.
sumber : http://www.al-intima.com/taujih-hilmi-aminuddin/tawajjuh
Label:
Kajian
22.11
PKS: Inilah Wawasan Nasionalisme dan Kebangsaan Kami!
Written By Admin on Senin, 01 September 2014 | 22.11
Oleh: KH. Hilmi Aminuddin
Sebenarnya, soal nasionalisme atau kebangsaan, di PKS biasa kita
bahas, bahkan pada pembinaan kader-kader tingkat pemula. Istilah kita
kader tamhidiyah. Di tingkat pemula saja pasti diajari tentang
doktrin-doktrin masalah cinta. Yaitu cinta yang dibingkai oleh
batas-batas geografis ataupun cinta yang dibatasi oleh batas demografis.
Dari sudut pandang kami, yang mudah-mudahan insya Allah ini
adalah sudut pandang Islam, nasionalisme atau kebangsaan itu adalah
suatu hal yang fitri. Kata orang Malaysia, “yang semula jadi”, dan
bersifat universal. Karena cinta kepada bangsa, kepada tanah air itu
pasti ada pada makhluk yang bernyawa.
Bahkan Al-Qur’an pun karena sifatnya fitrah, memberikan
isyarat-isyarat yang tegas tentang hal itu. Umpamanya ketika kita harus
berbuat kebaikan, kata Allah SWT dalam Al-Qur’an,
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya…” (Q.S. Al-Isra’: 26)
Sudah tentu ‘kerabat dekat’ ini bukan hanya kedekatan dalam kaitan
darah keturunan. Tapi bisa juga kedekatan geografis-demografis. Jadi
menunaikan hak-hak kekerabatan itu, kita dituntut untuk melaksanakannya
sebagai perintah Allah.
Begitu juga ayat lain menyebutkan, ketika kita berdakwah, memberi
peringatan, beramar ma’ruf nahi munkar, yang didahulukan harus orang
yang dekat dulu. Allah SWT berfirman,
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 214).
Dan, keluarga dekat kita adalah keluarga besar bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, beliau sangat merindukan
untuk kembali ke Makkah. Kerinduan ini dijawab langsung oleh wahyu Allah
SWT,
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum)
Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali
(Makkah)…” (Q.S. Al-Qashash: 85)
Jadi, kecintaan kepada tanah air, kepada bangsa, itu adalah fitrah.
Atas dasar ini maka doktrin-doktrin seperti itu, yaitu kecintaan kepada
tanah air, kepada bangsa—kita tanamkan pada masa tamhidiyah atau masa kader pemula.
Walaupun begitu, kita tidak menginginkan nasionalisme dan kebangsaan
yang super dalam pengertian yang meremehkan, mendiskriditkan, dan
merendahkan bangsa lain, atau menyepelekan negeri-negeri lain. Karena
semangat kebersamaan dan kerjasama dalam kehidupan nasionalisme dan
kebangsaan ini kita kembangkan secara lebih luas dalam konteks semangat
kebersamaan dan semangat kerjasama dalam kehidupan kemanusiaan secara
global internasional.
Kalau dalam pergaulan internasional itu kita tidak mempunyai basis
bingkai kebangsaan dan ketanah-airan, maka kita tidak begitu dihargai.
Cenderung dianggap pengungsi, cenderung dianggap wabah yang patut
dikasihani. Sehingga tidak bisa tampil dengan mengangkat kepala. Tapi
ketika kita tampil mewakili bangsa Indonesia, negara Indonesia, yang
luasnya seluas Eropa Barat dan Timur, ketika kita tampil di forum
internasional dengan memiliki basis bingkai kebangsaan dan
ketanah-airan, niscaya ada kebanggaan dan kita pun dihargai.
Jadi, saya ingin menggaris bawahi, bahwa nasionalisme dan kebangsaan
bagi kami adalah sangat fitrah, ‘semula jadi’ dan universal. Sehingga
tidak harus menjadi sesuatu yang sangat complicated dan sulit. Masalah
ini sudah selesai, karena itu bagian dari fitrah.
Kebersamaan dalam Merespon Arus Perubahan
Kita menghadapi arus perubahan yang terus menerus. Terutama dipacu
dan dipicu oleh arus informasi secara global yang demikian deras.
Perubahan mendorong kita untuk merespon bahkan mengantisipasi.
Sebetulnya perubahan itu adalah keniscayaan. Ada istilah dalam bahasa Arab, “Dawamul haal minal muhaal.”, artinya, “Keadaan yang tetap itu adalah sesuatu yang mustahil.”
Jadi memang selalu berubah, dan kita diharapkan mampu menjadi
agen-agen perubahan. Agar jangan tergerus oleh perubahan yang didorong
oleh hegemoni pihak-pihak asing. Tapi perubahan yang dilakukan oleh
bangsa sendiri. Dalam merespon arus perubahan itu sudah barang tentu
kita tidak mungkin sendirian. Sebab perubahan ini pasti dialami oleh
semua komponen bangsa. Oleh karena itu merespon perubahan harus
berdasarkan semangat kebersamaan dan semangat kerjasama dari segenap
komponen bangsa.
Agar kebersamaan itu bisa terjalin, maka forum-forum dialog,
berkomunikasi dan bermusyawarah harus semakin digalakkan. Untuk
memudahkan dialog, berkomunikasi dan musyawarah, kita harus mempunyai ijabiyatur ru’yah atau positive thinking antara satu dengan yang lain.
Semua kita punya potensi positif—dan inilah yang harus kita gali,
kita bangun, kita jalin, kita koordinasikan dan kita konsolidasikan.
Potensi positif yang dimiliki oleh segenap komponen bangsa inilah yang
harus kita himpun. Maka modal dasarnya adalah positif thinking. Jangan ada pandangan minor dan mendeskriditkan satu sama lain.
Insya Allah kalau kita sering musyawarah, sering bertemu, sering berembuk, kita bisa melahirkan al-khittah adz-dzakiyah, atau smart planning, perencanaan
yang cerdas. Perencanaan yang cerdas yang sudah menghimpun daya inovasi
bangsa ini, daya kreatif bangsa ini dan semangat kebersamaan bangsa
ini, serta semangat kerjasama bangsa ini. Sehingga perencanaan kita
Insya Allah menjadi perencanaan yang cerdas, sebab merupakan hasil
urunan, urun rembuk dari seluruh komponen bangsa.
Yang ketiga harus ditindak lanjuti dengan al-a’maal al-qawiyyah (kerja keras). Insya Allah dengan tiga hal ini: positive thinking, smart planning, dan hard working—kita
bisa selalu merespon perubahan. Walaupun perubahan itu sulit, didorong
juga arus globalisasi, tapi dengan semangat kebersamaan, pandangan
positif antara satu dengan yang lain, termasuk juga kepada aspek-aspek
perubahan yang datang dari luar, kita bisa meramu dalam perencanaan kita
yang cerdas, smart planning. Setelah smart planning, kita
bekerja keras untuk merespon arus perubahan dan arus globalisasi.
Sehingga bangsa Indonesia akan terus berjaya dalam merespon perubahan
dan globalisasi. Tidak menjadi bangsa yang ketakutan melihat perubahan,
ketakutan melihat globalisasi. Tapi justeru Insya Allah kita menjadi
bangsa yang maju, bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi.
Menjadi Bangsa yang Unggul
Sudah tentu, untuk bisa mewarnai arus perubahan dan arus globalisasi,
kita harus menjadi bangsa yang unggul. Apalagi bangsa ini secara
geografis dan demografis adalah bangsa yang besar. Wilayahnya luas,
populasinya besar. Sehingga jika bangsa ini berpegang teguh kepada
nilai-nilai yang berakar pada budaya bangsa yaitu bangsa yang religius,
insya Allah kita akan mempunyai winning value, nilai yang unggul, yang menang dalam menghadapi arus globalisasi dan arus perubahan apa pun.
Yang kedua, nilai-nilai itu harus dijabarkan dalam bentuk konsep,
yang disusun bersama oleh komponen-komponen bangsa. Sehingga kita
mempunyai winning concept, konsep yang unggul, yang pantas menang dalam pergaulan internasional.
Yang ketiga, kita juga harus unggul dalam sistem (winning system).
Kalau bicara sistem, harus terkait dengan kerja dan kinerja, terkait
dengan performa, terkait dengan regulasi, terkait dengan
pengaturan-pengaturan, terkait dengan pembagian tugas, terkait dengan
sistem komunikasi dan kerja sama antar komponen bangsa. Sistem inilah
yang harus kita wujudkan. Sistem yang laik menang dalam pergaulan
internasional, winning system.
Yang keempat, kita juga harus menjadi bangsa yang satu dan terpadu.
Dengan kesatuan dan keterpaduan bangsa ini, kita bisa menjadi winning team
dalam pergaulan antar bangsa. Satu tim. Ketika kita tampil di mana pun
adalah merasa mewakili bangsa dan didukung oleh seluruh bangsa dan juga
melaksanakan program-program bangsa dan misi-misi bangsa. Agar bangsa
ini menjadi satu tim.
Walaupun kita berpartai-partai, saya lihat partai-partai ini hanya
sebuah lembaga penataan potensi bangsa. Karena potensi bangsa besar ini
tidak mungkin diurus oleh satu partai. Partai apapun tidak bisa sendiri
mengurus bangsa ini. Tapi kita juga harus berbagi. Menata potensi bangsa
ini, mengelola potensi bangsa ini, dan mengarahkan potensi bangsa ini.
Yang kemudian secara sistematis kita padukan, kita konsolidasikan, kita
koordinasikan, dan kita mobilisasikan untuk mencapai sebesar-besarnya
mashlahat bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Yang kelima, sudah tentu target-target pencapaian perjuangan bangsa
ini sangat banyak. Tapi kita harus ambil skala prioritas, mana yang
didahulukan.Harus ada winning goal. Dimana seluruh komponen
bangsa serentak mencapai kesatuan pencapaian prioritas. Tentu ini perlu
ada kesepakatan bersama, sering berkomunikasi, sering bermusyawarah,
sering duduk bersama. Agar skala prioritas target-target perjuangan
bangsa Indonesia ini bisa kita sepakati tahap demi tahap, sebagai winning goal, atau tujuan yang akan kita unggulkan dan kita menangkan dalam prospek perjuangan bangsa.
Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan memperjelas dan bisa menjawab
pertanyaan tentang nasionalisme atau kebangsaan dalam benak, pikiran
kader-kader PKS. Ini bisa dibilang merupakan jawaban resmi dari PKS.
http://www.al-intima.com/
Label:
Kajian
12.48
Ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada antum sebagai kader pimpinan dan sebagai pemimpin langsung di lapangan, yaitu sebagai berikut:
Pertama, al-istisya’aar bil mas’uliyah ats-tsaqiilah, selalu merasakan dan menghayati adanya tanggungjawab yang berat.
Mengapa? Tak lain karena mata dunia saat ini sudah mulai melihat dan bahkan mengamati kita secara seksama, salban wa ijaban, baik dalam pengertian negative maupun positif. Baik yang pro maupun yang kontra terhadap kita sudah mencermati kita.
Kita terus disorot oleh dunia luar baik dalam arti positif maupun negative. Antum harus bisa merasakan betul harapan-harapan nasional, regional dan bahkan dunia terhadap antum. Hal ini harus direspon secara maknawiyan dengan adanya al-istisya’aar bil mas’uliyahats-tsaqiilah.
Jangan sampai karena sudah menjadi pejabat-pejabat public, baik di legislative maupun eksekutif, antum menjadi lengah atau bersikap santai. Jangan…Saya tidak mengharamkan wasaail (sarana prasarana). Silahkan wasilah modern antum beli dan gunakan, sesuatu yang tidak sempat dilakukan di masa generasi saya. Antum bebas memperoleh danmenggunakannya. Hanyasaja yang penting antum punya tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan ini.
Kedua,ats-tsiqahbiwa’dillahiwarasuulihi, selalupercayadanyakinpadajanji Allah danRasul-Nya.
Betapa pun berat tanggung jawab dan tantangan yang kita hadapi, percayalah pada janji Allah dan surgaNya yang demikian banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Saya tidak akan menyebutkan dalil-dalilnya, karena antum ashabul adillah, orang yang menguasai dalil-dalil. Bahkan di dalam proses takwiniyah ada materi ats-tsiqah. Mulai dari ats-tsiqah billah sampai ats-tsiqah bil qiyadah, biljama’ah dan seterusnya.
Ketiga, al-iltizam bi manhajil islam asy-syamil wal mutakamil, berpegang teguh dengan metode Islam yang komprehensif dan terpadu.
Ketahuilah bahwa syumuliyatul Islam akan semakin mendekat untuk terwujud, bila kita sudah berada di mihwar daulah. Sementara saat ini kita baru berada di mihwar muassasi.
Mihwar muassasi adalah tahapan juz’iyyah menuju syumuliyatul Islam. Dalam perjalanan ini kita menemui kelokan-kelokan yang disebut mun’athafat ‘alaathariiqid dakwah.
Mun’athafat tersebut tidak selalu bermakna negative, melainkan bisa juga positif, yakni berupa jabatan legislative, bupati, gubernur, walikota, dan menteri. Selain itu juga bisa berupa dimilikinya pesantren dan madrasah. Atau bahkan boleh jadi berupa pertanian dan peternakan sapi. Namun semua itu hanyalah sesuatu yang akan kita lalui saja dalam perjalan menuju, insya Allah, I’laai kalimatullahi hiyal ‘ulya.
Hal ini sangat penting di garis bawahi, karena sebagai manusia kadang-kadang kita terjebak pada suatu fenomena fase atau mazhaahir marhaliyah, dan bahkan mungkin berpikir: “Kayaknya sudah enak di sini. Ngapain lagi jauh-jauh?”
Misalkan kita sudah enak mengelola pesantren, lalu ketika ada pilkada maka berpikir: “Wah, uang puluhan milyar dana kampanye kalau digunakan untuk membangun pesantren jadi berapa ya?”
Hal itu bisa menjadi tanda keterjebakan oleh mun’athafat ‘ala athariiqid dakwah, padahal mengelola pesantren, menjadi pejabat di eksekutif, legislative dan yudikatif adalah positif. Tetapi jangan sampai semua itu menjebak kita dalam mazhaahir marhaliyah, karena kita harus tetap berjalan menuju tujuan kita yang sebenarnya yakni menegakkan Islam syamil mutakamil.
Keempat, al-I’timad ‘alaa nizhamis silmi wal dusturi wal qanuni, mengandalkan perjuangan secara damai, konstitusional dan sesuai hukum perundang-undangan.
Kita harus selalu mengingat berada dalam posisi di Indonesia yang merupakan negara merdeka, terbuka, demokratis dan damai—tidak seperti di Afghanistan maupun Palestina—sehingga kita mengandalkan perjuangan damai yang konstitusional sesuai dengan hukum yang berlaku.
Hal ini penting untuk selalu diingat, karena adanya godaan-godaan yang disebut fikrah takfiriyah wa tafjiriyah (ideology pengkafiran dan peledakan). Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) telah memutuskan bahwa kita tidak boleh mempunyai titik sentuh apapun dengan aliran dan fikrah tersebut, karena I’timad kita‘alannizham as-silmi wal dusturi walqanuni. Jangan sampai tergoda oleh pemikiran dan tindakan radikal seperti itu, kita harus selalu ishbiruu wa shabiruu waraabithu ittaqullaha la’allakum tuflihun.
Kelima, at-tamassuk bil minhaji as siyasi almarin ma’a ‘adami tanaazul ‘anits tsawaabit, berpegang teguh pada konsep politik yang supel tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip. Oleh karena itu ada pesan dari DPTP agar kita tidak tergoda dengan konspirasi-konspirasi ini dan itu di tengah jalan. Biarkan semuanya berjalan dusturi wa qanuni. Kita harus tetap supel tapi tanpa harus mengorbankan prinsip.
Keenam, al-muhafazhah ‘alat tadarruj wat tawazun fi numuwwi wa tathawwuri ufuqiyan wa ’amudiyan, memelihara kebertahapan dan keseimbangan dalam pertumbuhan secara horizontal dan vertical. Posisi kita saat ini adalah hasil kerja keras gerak horizontal ikhwan dan akhwat dalam nasyruddakwah. Gerak itulah yang kemudian menghasilkan mobilitas vertical keatas, sehingga ada yang menjadi menteri, gubernur, anggota legislative, walikota atau pun bupati.
Mereka yang sudah berada di dalam posisi vertical harus selalu menyadari bahwa bisa sampai ke posisi tersebut karena dukungan mobilitas horizontal. Oleh karenanya mereka pun pada gilirannya harus memback up intisyar al-ufuqiy, mobilitas horizontal, sehingga nantinya akan menghasilkan intisyar ‘amudiy, mobilitas vertical yang lebih besarlagi. Dalam dinamika proses tersebut, sifat kebertahapan dan keseimbangan harus tetapdijaga.
Ketujuh, al-ihtimam bir-ri’ayah ‘alaa muktasabaatid dakwah, memperhatikan pemeliharaan atas perolehan-perolehan dakwah. Dahulu kita suka menyebutnya dengan muhafazhah ‘ala muktasabatid dakwah awlaa.
Memelihara perolehan dakwah adalah prioritas, dan sekarang lebih ditekankan lagi dengan memakai istilah al-ihtimam, karena khawatir kita melalaikannya.
Pemahaman sederhananya seperti dialog saya dengan Walikota Depok, akh NurMahmudi Ismail, “Antum menjadi walikota Depok adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kini kewajiban antum memenangkanlagi PKS di Depok sebagaimana PKS telah memenangkan antum”.
Begitu juga kepada Gubernur Jawa Barat saya katakan, “Antum bisa sampai ke kursi Gubernur adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kewajiban antum sekarang adalah memenangkan PKS sehingga dapat meningkatkan jumlah kadernya yang jadi menteri dari empat menjadi delapan, duabelas, atau tigapuluh.” Tapi ya tidak boleh mengambilsemua, laa yajuz. Harusbagi-bagidengan yang lain.
Jadi, kesadaran timbal balik antara gerak horizontal dan vertical ini sangat penting. Agar kita sadar jangan sampai ada kader-kader kita yang berkorban habis untuk mobilitas horizontal tiba-tiba merasa kecewa oleh ikhwan dan akhwat yang mempunyai posisi vertical yang tidak ingat kepada pengorbanan gerak horizontal mereka. Ini pesan untuk antum semua, apakahbupati, menteri atau para anggota DPR.
(Diringkas dari buku Bekal Untuk Kader Dakwah,BidangArsip&SejarahSekretariatJenderal DPP PartaiKeadilan Sejahtera)
Pesan Untuk Para Kader Pemimpin Dakwah
Written By Admin on Rabu, 13 Agustus 2014 | 12.48
Ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada antum sebagai kader pimpinan dan sebagai pemimpin langsung di lapangan, yaitu sebagai berikut:
Pertama, al-istisya’aar bil mas’uliyah ats-tsaqiilah, selalu merasakan dan menghayati adanya tanggungjawab yang berat.
Mengapa? Tak lain karena mata dunia saat ini sudah mulai melihat dan bahkan mengamati kita secara seksama, salban wa ijaban, baik dalam pengertian negative maupun positif. Baik yang pro maupun yang kontra terhadap kita sudah mencermati kita.
Kita terus disorot oleh dunia luar baik dalam arti positif maupun negative. Antum harus bisa merasakan betul harapan-harapan nasional, regional dan bahkan dunia terhadap antum. Hal ini harus direspon secara maknawiyan dengan adanya al-istisya’aar bil mas’uliyahats-tsaqiilah.
Jangan sampai karena sudah menjadi pejabat-pejabat public, baik di legislative maupun eksekutif, antum menjadi lengah atau bersikap santai. Jangan…Saya tidak mengharamkan wasaail (sarana prasarana). Silahkan wasilah modern antum beli dan gunakan, sesuatu yang tidak sempat dilakukan di masa generasi saya. Antum bebas memperoleh danmenggunakannya. Hanyasaja yang penting antum punya tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan ini.
Kedua,ats-tsiqahbiwa’dillahiwarasuulihi, selalupercayadanyakinpadajanji Allah danRasul-Nya.
Betapa pun berat tanggung jawab dan tantangan yang kita hadapi, percayalah pada janji Allah dan surgaNya yang demikian banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Saya tidak akan menyebutkan dalil-dalilnya, karena antum ashabul adillah, orang yang menguasai dalil-dalil. Bahkan di dalam proses takwiniyah ada materi ats-tsiqah. Mulai dari ats-tsiqah billah sampai ats-tsiqah bil qiyadah, biljama’ah dan seterusnya.
Ketiga, al-iltizam bi manhajil islam asy-syamil wal mutakamil, berpegang teguh dengan metode Islam yang komprehensif dan terpadu.
Ketahuilah bahwa syumuliyatul Islam akan semakin mendekat untuk terwujud, bila kita sudah berada di mihwar daulah. Sementara saat ini kita baru berada di mihwar muassasi.
Mihwar muassasi adalah tahapan juz’iyyah menuju syumuliyatul Islam. Dalam perjalanan ini kita menemui kelokan-kelokan yang disebut mun’athafat ‘alaathariiqid dakwah.
Mun’athafat tersebut tidak selalu bermakna negative, melainkan bisa juga positif, yakni berupa jabatan legislative, bupati, gubernur, walikota, dan menteri. Selain itu juga bisa berupa dimilikinya pesantren dan madrasah. Atau bahkan boleh jadi berupa pertanian dan peternakan sapi. Namun semua itu hanyalah sesuatu yang akan kita lalui saja dalam perjalan menuju, insya Allah, I’laai kalimatullahi hiyal ‘ulya.
Hal ini sangat penting di garis bawahi, karena sebagai manusia kadang-kadang kita terjebak pada suatu fenomena fase atau mazhaahir marhaliyah, dan bahkan mungkin berpikir: “Kayaknya sudah enak di sini. Ngapain lagi jauh-jauh?”
Misalkan kita sudah enak mengelola pesantren, lalu ketika ada pilkada maka berpikir: “Wah, uang puluhan milyar dana kampanye kalau digunakan untuk membangun pesantren jadi berapa ya?”
Hal itu bisa menjadi tanda keterjebakan oleh mun’athafat ‘ala athariiqid dakwah, padahal mengelola pesantren, menjadi pejabat di eksekutif, legislative dan yudikatif adalah positif. Tetapi jangan sampai semua itu menjebak kita dalam mazhaahir marhaliyah, karena kita harus tetap berjalan menuju tujuan kita yang sebenarnya yakni menegakkan Islam syamil mutakamil.
Keempat, al-I’timad ‘alaa nizhamis silmi wal dusturi wal qanuni, mengandalkan perjuangan secara damai, konstitusional dan sesuai hukum perundang-undangan.
Kita harus selalu mengingat berada dalam posisi di Indonesia yang merupakan negara merdeka, terbuka, demokratis dan damai—tidak seperti di Afghanistan maupun Palestina—sehingga kita mengandalkan perjuangan damai yang konstitusional sesuai dengan hukum yang berlaku.
Hal ini penting untuk selalu diingat, karena adanya godaan-godaan yang disebut fikrah takfiriyah wa tafjiriyah (ideology pengkafiran dan peledakan). Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) telah memutuskan bahwa kita tidak boleh mempunyai titik sentuh apapun dengan aliran dan fikrah tersebut, karena I’timad kita‘alannizham as-silmi wal dusturi walqanuni. Jangan sampai tergoda oleh pemikiran dan tindakan radikal seperti itu, kita harus selalu ishbiruu wa shabiruu waraabithu ittaqullaha la’allakum tuflihun.
Kelima, at-tamassuk bil minhaji as siyasi almarin ma’a ‘adami tanaazul ‘anits tsawaabit, berpegang teguh pada konsep politik yang supel tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip. Oleh karena itu ada pesan dari DPTP agar kita tidak tergoda dengan konspirasi-konspirasi ini dan itu di tengah jalan. Biarkan semuanya berjalan dusturi wa qanuni. Kita harus tetap supel tapi tanpa harus mengorbankan prinsip.
Keenam, al-muhafazhah ‘alat tadarruj wat tawazun fi numuwwi wa tathawwuri ufuqiyan wa ’amudiyan, memelihara kebertahapan dan keseimbangan dalam pertumbuhan secara horizontal dan vertical. Posisi kita saat ini adalah hasil kerja keras gerak horizontal ikhwan dan akhwat dalam nasyruddakwah. Gerak itulah yang kemudian menghasilkan mobilitas vertical keatas, sehingga ada yang menjadi menteri, gubernur, anggota legislative, walikota atau pun bupati.
Mereka yang sudah berada di dalam posisi vertical harus selalu menyadari bahwa bisa sampai ke posisi tersebut karena dukungan mobilitas horizontal. Oleh karenanya mereka pun pada gilirannya harus memback up intisyar al-ufuqiy, mobilitas horizontal, sehingga nantinya akan menghasilkan intisyar ‘amudiy, mobilitas vertical yang lebih besarlagi. Dalam dinamika proses tersebut, sifat kebertahapan dan keseimbangan harus tetapdijaga.
Ketujuh, al-ihtimam bir-ri’ayah ‘alaa muktasabaatid dakwah, memperhatikan pemeliharaan atas perolehan-perolehan dakwah. Dahulu kita suka menyebutnya dengan muhafazhah ‘ala muktasabatid dakwah awlaa.
Memelihara perolehan dakwah adalah prioritas, dan sekarang lebih ditekankan lagi dengan memakai istilah al-ihtimam, karena khawatir kita melalaikannya.
Pemahaman sederhananya seperti dialog saya dengan Walikota Depok, akh NurMahmudi Ismail, “Antum menjadi walikota Depok adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kini kewajiban antum memenangkanlagi PKS di Depok sebagaimana PKS telah memenangkan antum”.
Begitu juga kepada Gubernur Jawa Barat saya katakan, “Antum bisa sampai ke kursi Gubernur adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kewajiban antum sekarang adalah memenangkan PKS sehingga dapat meningkatkan jumlah kadernya yang jadi menteri dari empat menjadi delapan, duabelas, atau tigapuluh.” Tapi ya tidak boleh mengambilsemua, laa yajuz. Harusbagi-bagidengan yang lain.
Jadi, kesadaran timbal balik antara gerak horizontal dan vertical ini sangat penting. Agar kita sadar jangan sampai ada kader-kader kita yang berkorban habis untuk mobilitas horizontal tiba-tiba merasa kecewa oleh ikhwan dan akhwat yang mempunyai posisi vertical yang tidak ingat kepada pengorbanan gerak horizontal mereka. Ini pesan untuk antum semua, apakahbupati, menteri atau para anggota DPR.
(Diringkas dari buku Bekal Untuk Kader Dakwah,BidangArsip&SejarahSekretariatJenderal DPP PartaiKeadilan Sejahtera)
Label:
Kajian
14.34
Wahai Kader Dakwah, Ingatlah Janji Setiamu!
Written By Admin on Senin, 23 Desember 2013 | 14.34
Wahai kader dakwah, di tahun baru ini, ingatlah kembali janjimu kepada Allah!
Bukankah kalian telah berjanji untuk turut beramal bersama dakwah dalam rangka membela syariat-Nya serta berdakwah kepada-Nya?
Bukankah kalian telah berjanji setia kepada Allah untuk mendengar dan taat dalam mentaati Allah, Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya dalam kondisi giat maupun malas dalam keadaan mudah maupun sulit dengan bergabung dalam dakwah?
Bukankah kalian telah berjanji kepada Allah untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan berjihad di jalan-Nya, dan berjanji untuk mendengar dan taat kepada pimpinan dalam keadaan suka maupun tidak suka, dalam hal tidak maksiat, sekuat kemampuan yang ada?
Ingatlah janji setiamu itu. Kemudian hisablah dirimu. Apakah kalian sudah berusaha menjadi kader dakwah yang sesungguhnya? Yakni kader yang memahami dan meyakini fikrah Islam yang murni; yang senantiasa ikhlas, meniatkan ucapan, perbuatan, dan jihadnya untuk Allah, mencari ridho dan mengharap pahala-Nya. Tanpa memandang kekayaan, kemegahan, kehormatan, atau julukan?
Apakah kalian sudah berusaha keras mempersiapkan diri untuk beramal? Memperbaiki diri, membina rumah tangga, membimbing masyarakat, membebaskan tanah air dari pengaruh kekuatan asing, memperbaiki pemerintahan sehingga benar-benar islami, mengembalikan eksistensi umat Islam di panggung internasional dengan mengembalikan khilafah dan persatuan umat, serta menebarkan dakwah ke seluruh penjuru bumi?
Bagaimanakah gelora jihad di hatimu? Bagaimanakah ketabahanmu untuk selalu beramal dan berjihad mencapai tujuan? Masih siapkah kalian melintasi waktu tahun demi tahun, dan terus dalam keadaan seperti itu hingga kalian bertemu Allah?
Apakah masih ada pengaruh faham lain dalam fikrah kalian, padahal fikrah Islam kalian merupakan fikrah paling mulia, lengkap, dan tinggi?
Sudahkah rasa persaudaraan terjalin erat di antara kalian? Dimana ruh dan hati kalian diikat dengan aqidah. Masih terpeliharakah kepercayaan kalian kepada pimpinan? Percaya sepenuhnya akan kemampuan dan keikhlasannya, sehingga membuahkan kecintaan, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan?
Wahai kader dakwah, apakah kalian sudah berusaha keras membentuk diri menjadi batu bata yang kokoh bagi bangunan dakwah, yakni dengan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai seorang kader dakwah?
Allah tujuan kami; Rasulullah tauladan kami; Al-Qur’an pedoman hidup kami; Jihad adalah jalan juang kami; Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.
Wahai kader dakwah, apakah lima kalimat itu selalu terpatri dalam benak kalian kemudian menjadi suatu keyakinan yang membuahkan amal, ataukah hanya sebatas menjadi senandung di bibirmu?
Wahai kader dakwah, seperti apakah karakter fikrah kalian? Dimanakah al-bisathoh (kesederhanaan), at-tilaawah (membaca), as-shalaatu (shalat), al-jundiyah (keprajuritan), dan al-khuluq (akhlak)? Apakah ada dalam gerak langkah kalian sehari-hari?
Jangan malas!
Ayo berusaha keras menjadi kader dakwah sesungguhnya. Jika tidak, maka barisan orang-orang malas masih terbuka lebar untuk kalian.
Wahai kader dakwah, jika kalian bersungguh-sungguh, kalian akan meraih izzah dan kemenangan di dunia, surga, dan ridho Allah di akhirat. Kalian akan menjadi bagian dari mujahid dakwah.
Jika kalian berpaling dan tidak bersungguh-sungguh, maka tidak ada hubungan antara kalian dengan dakwah. Meskipun kalian selalu hadir di arena dakwah dengan gelar paling hebat dan berpenampilan paling mentereng. Allah akan menghisab keengganan kalian! Karena itu, tempatkanlah diri kalian sebaik-baiknya. Mohonlah kepada Allah petunjuk dan pertolongan-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam Telah Berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. Wahai kader dakwah, ingatlah janji setiamu! Laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzim…
http://www.al-intima.com/
Bukankah kalian telah berjanji untuk turut beramal bersama dakwah dalam rangka membela syariat-Nya serta berdakwah kepada-Nya?
Bukankah kalian telah berjanji setia kepada Allah untuk mendengar dan taat dalam mentaati Allah, Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya dalam kondisi giat maupun malas dalam keadaan mudah maupun sulit dengan bergabung dalam dakwah?
Bukankah kalian telah berjanji kepada Allah untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan berjihad di jalan-Nya, dan berjanji untuk mendengar dan taat kepada pimpinan dalam keadaan suka maupun tidak suka, dalam hal tidak maksiat, sekuat kemampuan yang ada?
Ingatlah janji setiamu itu. Kemudian hisablah dirimu. Apakah kalian sudah berusaha menjadi kader dakwah yang sesungguhnya? Yakni kader yang memahami dan meyakini fikrah Islam yang murni; yang senantiasa ikhlas, meniatkan ucapan, perbuatan, dan jihadnya untuk Allah, mencari ridho dan mengharap pahala-Nya. Tanpa memandang kekayaan, kemegahan, kehormatan, atau julukan?
Apakah kalian sudah berusaha keras mempersiapkan diri untuk beramal? Memperbaiki diri, membina rumah tangga, membimbing masyarakat, membebaskan tanah air dari pengaruh kekuatan asing, memperbaiki pemerintahan sehingga benar-benar islami, mengembalikan eksistensi umat Islam di panggung internasional dengan mengembalikan khilafah dan persatuan umat, serta menebarkan dakwah ke seluruh penjuru bumi?
Bagaimanakah gelora jihad di hatimu? Bagaimanakah ketabahanmu untuk selalu beramal dan berjihad mencapai tujuan? Masih siapkah kalian melintasi waktu tahun demi tahun, dan terus dalam keadaan seperti itu hingga kalian bertemu Allah?
Apakah masih ada pengaruh faham lain dalam fikrah kalian, padahal fikrah Islam kalian merupakan fikrah paling mulia, lengkap, dan tinggi?
Sudahkah rasa persaudaraan terjalin erat di antara kalian? Dimana ruh dan hati kalian diikat dengan aqidah. Masih terpeliharakah kepercayaan kalian kepada pimpinan? Percaya sepenuhnya akan kemampuan dan keikhlasannya, sehingga membuahkan kecintaan, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan?
Wahai kader dakwah, apakah kalian sudah berusaha keras membentuk diri menjadi batu bata yang kokoh bagi bangunan dakwah, yakni dengan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai seorang kader dakwah?
Allah tujuan kami; Rasulullah tauladan kami; Al-Qur’an pedoman hidup kami; Jihad adalah jalan juang kami; Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.
Wahai kader dakwah, apakah lima kalimat itu selalu terpatri dalam benak kalian kemudian menjadi suatu keyakinan yang membuahkan amal, ataukah hanya sebatas menjadi senandung di bibirmu?
Wahai kader dakwah, seperti apakah karakter fikrah kalian? Dimanakah al-bisathoh (kesederhanaan), at-tilaawah (membaca), as-shalaatu (shalat), al-jundiyah (keprajuritan), dan al-khuluq (akhlak)? Apakah ada dalam gerak langkah kalian sehari-hari?
Jangan malas!
Ayo berusaha keras menjadi kader dakwah sesungguhnya. Jika tidak, maka barisan orang-orang malas masih terbuka lebar untuk kalian.
Wahai kader dakwah, jika kalian bersungguh-sungguh, kalian akan meraih izzah dan kemenangan di dunia, surga, dan ridho Allah di akhirat. Kalian akan menjadi bagian dari mujahid dakwah.
Jika kalian berpaling dan tidak bersungguh-sungguh, maka tidak ada hubungan antara kalian dengan dakwah. Meskipun kalian selalu hadir di arena dakwah dengan gelar paling hebat dan berpenampilan paling mentereng. Allah akan menghisab keengganan kalian! Karena itu, tempatkanlah diri kalian sebaik-baiknya. Mohonlah kepada Allah petunjuk dan pertolongan-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam Telah Berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. Wahai kader dakwah, ingatlah janji setiamu! Laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzim…
http://www.al-intima.com/
Label:
Kajian
10.19
Assalaamu’alaikum wr wb
Alhamdulilah kita selalu dipertemukan dalam forum-forum seperti ini untuk merujuk kepada sumber-sumber asasi kita, Al Qur’an dan Assunnah, semoga kita selalu mendapatkan petunjuk.
Hari dan jam yang akan tentukan prestasi dakwah kita semakin dekat, hitung mundurnya semakin kecil. Di DPP ada banner hitung mundur sd 9 April 2014. Itu ibarat ajal yang telah ditentukan. Tempo yang telah disepakati.
Mumpung pasar masih buka, lewat tgl 9 April pasar sudah tutup, dagangan sudah tidak laku, maka gunakan pasar ini sebaik-baiknya. Pasar yang dimaksud adalah ladang perjuangan kita mumpung masih terbuka. Calon pembeli masih ada. Barang yang kita jual masih dilirik dan masih diperhatikan orang. Jadi, kalau mau habis-habisan, waktunya sekarang ini. Jangan nanti kalau selesai tanggal 9 April. Kalau sudah lewat, hari pasaran nunggu 5 tahun lagi. Situasi ini harus difahami bahwa sekaranglah saatnya. Kita bicara partai, orang tidak akan bicara macam-macam. Kita mengkampanyekan diri, tidak dipandang aneh karena ini lagi pasarannya.
Yang harus kita persiapkan di hari pasaran ini ada 3 hal :
I. Di hari pasar ini yang harus dipastikan adalah isi hati kita
Bahwa yang mengisi hati ini adalah ikhlas lii’lai kalimatillah, ikhlas dalam menempuh dan meniti jalan Alloh SWT. Mari kita tata hati kita untuk konteks ini. Dan pastikan, inilah yang diketahui Alloh, meskipun Alloh Maha Tahu. Maksudnya kita lah yang memastikan itu, bahwa tak ada yang mengisi hati ini kecuali pujian untuk Alloh, untuk I’lai kalimatillah, perjuangan fi sabilillah, perjuangan untuk litakuuna kalimatullohi hiyal ulya.
Saat antum keluar rumah, mau apa? mau silaturahim cari suara, mau berkunjung ke saudara saya, teman saya, posisikan bahwa ini adalah bagian dari cara kita menerjemahkan proses menuju i’lai kalimatillah. Kenapa harus begitu? Kita akan gagah memperjuangan apa yang mesti diperjuangkan di jalan Alloh ini, kalimatulloh ini, manakala kita punya keyakinan bahwa ada sekian banyak suara aspirasi yang kita perjuangkan. Kalau di belakang kita sedikit, mereka akan mengatakan dengan bahasa seperti bahasa Fir’aun, Innahu lasyirzhimatun qoliiluun... (Itu kan suara di pojok-pojok sana. Suara-suara pinggiran yang tidak perlu diperhatikan.)
Maka dari itu mari kita tata hati bahwa yang kita lakukan adalah dalam rangka I’laai kalimatillah.
Disamping tentang menata hati sedemikian rupa, Alloh SWT kaitkan isi hati ini dengan banyak hal.
Dalam QS Maryam 96, Allah kaitkan isi hati ini, keikhlasan ini dengan respon dan sambutan publik.
Innalladziina aamanuu wa’amilushsholihaati sayaj’aluhumurrahmaanu wudda…
Dijadikan cinta kasih di antara hamba-hamba Alloh. Manakala hati kita baik, maqbul 'indalloh, maka Alloh akan panggil Jibril, ”Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintai dia, dan Jibril membuat pengumuman di langit, bahwa Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia. Dan penduduk langit pun mencintai dia." Kalau Alloh sudah mencintai dia, Jibril dan penduduk langit juga mencintai dia,maka orang itu di bumi ini di mana-mana diterima, direspon dan disambut. Yudhou lahu qobuulu fil ardh.
Mungkin orang memilih kita walaupun kita banyak catatan, karena mesakke, kasihan. Tidak penting bagi kita, kita dipilih karena dicintai atau karena mesakke. Yang penting adalah dipilih. Yang bisa mengatur hati adalah Alloh. Karena itu sekali lagi, pertama kali di hari pasaran ini, yang CAD, yang AD, yang kader, yang simpatisan, masing-masing kita menata hati, semua dalam rangka I’lai kalimatillah, fii sabilillah, litakuuna kalimatullohi hiyal ulya. Mungkin yang datang kepada mereka banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Alloh mengatur hati orang untuk memastikan pilihannya kepada kita. Itu rahasiamya ada pada hati.
Dalam QS Al Anfal 70, Alloh mengaitkan kebersihan hati itu dengan 2 hal : pengganti yang lebih baik dan pengampunan dari Alloh SWT.
Yaa ayyuhanabiyyu qul liman fii aidiikum minal asro…….
Di hari perjuangan seperti ini banyak yang hilang dari kita. Sama-sama hilang, maka kita tata bahwa hilangnya itu dengan kebersihan hati. Misal, pas ada keinginan untuk beli ini-itu, namun uangnya kita gunakan untuk menyumbang biaya pemilu. Mungkin waktu kita yang hilang, mungkin juga kesempatan-kesempatan kita yang hilang, karena digunakan untuk perjuangan itu.
Tapi manakala in ya’lamillahu fii qulubikum khoiro..... jika Alloh tahu di dalam hati kita itu kebaikan yang ada, maka Alloh akan mengganti semua yang hilang itu dengan yang lebih baik. Tidak disebutkan apa gantinya itu. Asas iman itu adalah iman bil ghoib. Kalau tak iman dengan yang ghoib, hilanglah iman itu. Yang penting adalah iman. Apa yang lebih baik itu, wallohu a’lam.
Ayat ini turun berkaitan dengan Al Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasululloh SAW, yang sebenarnya muslim, tetapi dapat tugas khusus untuk tetap berada di kalangan kafir quraisy di Makkah, sebagai informan. Saat perang Badar, beliau terpaksa ikut rombongan orang kafir memerangi kaum muslim. Repotnya, yang tahu tugas khusus beliau sangat sedikit. Alhamdulillah, Abbas tidak terbunuh, hanya tertawan. Sampai keluar keputusan bahwa setiap tawanan kalau mau bebas, harus bayar tebusan. Abbas datang kepada Rasul, “Bukankan saya muslim, apakah bayar tebusan juga?” Namun Rasul menjawab dengan jawaban standar : "Engkau kan tawanan, kalau ingin bebas, bayarlah tebusan."
Abbas berkata, hartaku telah habis. (Rasul SAW tidak memberikan dana operasional untuk tugas khususnya di Makkah). Namun Rasul menyampaikan, “Bukankah sebelum perang Badar engkau menemui seorang wanita dengan rahasia di Makkah, dan menitipkan hartamu kepadanya, apabila engkau mati dalam perang, harta itu untuk diberikan kepada keturunanmu? Dan kalau masih hidup akan kau ambil lagi?”
Bisa dibayangkan, betapa berat perasaan Abbas. Bahkan yang rahasia pun telah dibuka oleh Alloh, hingga tak punya apa-apa lagi. Habis semua. Maka sebagai hiburan, Alloh SWT menurunkan Al Anfal ayat 90 ini. Allah akan mengganti kalau dia ikhlas dengan sesuatu yang lebih baik, dan akan diampuni. Maka Abbas pun percaya, iman bil ghoib, dan tidak bertanya-tanya lagi.
Di hari tuanya, Al Abbas ini menjadi sangat kaya. Milyuner. Ia berkata kepada generasi berikutnya, “Saya yakin, ini adalah wujud janji Alloh yang pertama. Dan saya masih menunggu janji yang kedua, yaitu ampunan."
Suka atau tidak suka, banyak yang hilang dalam perjuangan ini. Tapi yang penting, hilangnya itu by design, bukan accident, dan ikhlas agar ada ganti yang lebih baik.
Dalam Al Fath 18
Alloh kaitkan masalah hati ini dengan sakinah, kemenangan, dan ghonimah.
Laqod rodhiyallohu ‘amil mu’miniina….
Berdasarkan apa yang Alloh tahu itu, maka Alloh berikan 3 hal:
(1) Faanzalahuu sakinatan, turun ketenangan, ketentraman
Sakinah ada hubunganya dengan kata sikkin, pisau. Lihatlah ayam jago, yang ke mana-mana. Kalau sudah ketemu pisau, maka dia sakinah. Dimakan pun diam saja..
Contoh lain tentang sakinah, Waktu perang Hunain, 12 ribu pasukan muslimin melawan 4000 kafir hawazin. Saat melewati jalan yang sempit di antara dua bukit, tiba-tiba kaum muslimin dihujani panah, maka tercerai berai dan berlarian ke sana kemari. 12 ribu yang tadinya simbol keunggulan, maka di jalan sempit itu justru jadi masalah. Wa dhooqot ‘alaikumul ardhu bimaa rokhubat… Tsumma anzalalloohu sakiinatahu ala rosuulihi wa ‘alal mukminin ( QS 9 : 25-26).... Setelah sakinah turun, seakan-akan tak ingat lagi ada hujan panah saking tenangnya. Bahkan dalam siroh diceritakan, kuda-kuda pada lari menjauh dan susah digerakkan, setelah sakinah turun maka bisa diarahkan lagi, dan mereka turun dari kuda di jalan sempit itu, jalan kaki menyambut panggilan Rasululloh SAW.
Kalau tak ada sakinah, kita gampang panik.
Lihat baliho kompetitor saja panik... padahal Alloh yang atur siapa yang akan dipilih. Datang di satu tempat, keduluan orang lain, tak usah panik. Mereka punya harapan dari kedatangannya itu, namun kita pun berharap kepada Alloh.
Sakinah juga berkaitan dengan litaskunu ilaiha antara suami istri.
Tapi jangan terlalu sakinah, jadinya malah sukun, kebalikan dari harokat, mati, diam.
(2) wa atsaabahu fathan qoriibaa, Alloh mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat.
(3) wamaghonima katsiirotan, bukan ghonimah biasa, namun ghonimah yang sangat banyak !
Lagi-lagi dikaitkan dengan kondisi hati. Karenanya yang perlu ditata pertama adalah masalah hati.
***
II. Mari mentadabburi As Sajdah 17, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi
Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a’yun
“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disebunyikan untuk mereka yaitu ( bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”
Pasti jiwa akan tahu, apa yang dirahasiakan dari mereka, segala hal yang membuat jiwa senang.
Dalam konteks kita, apa yang akan menyenangkan kita:
-semua kader bekerja, semua terlibat pemenangan. Itu menyenangkan. Akhirnya dapat suara banyak, itu menyenangkan. Target kursi terpenuhi, itu menyenangkan.
Tapi semua yang menyenangkan ini dikaitkan dengan jazaan bimaa kanuu ya’maluun. Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita berkesempatan mendapat maa ukhfiya lahu, asalkan mau bekerja. Apalagi slogan kita: cinta kerja harmoni.
Rasul SAW bersabda,
“jika kiamat datang dan ada benih di tanganmu, dan masih ada kemampuan untuk menanam, maka tanamlah, karena pada menanam itu ada pahala”
Andai antum tahu dan yakin jika jam 1 siang akan mati, dan jam 12 antum dapat tugas menanam kelapa, bagaimana? Untuk apa? Sudah mau mati. Menunggu panen butuh bertahun-tahun. Tapi Rasul ajarkan, ini bahkan kiamat, yang tak ada hari lagi untuk menunggu hasil panen. Sudah sampai pada hari yang kholidiina fihaa... tapi diajarkan, tanam saja, karena dalam menanam itu ada pahala.
Maka kita pun bekerja apakah jadi suara apa tidak, entahlah, serahkan saja pada Alloh.
Rasul SAW pun memberi contoh : Rasululloh SAW punya tetangga seorang Yahudi. Dan anak si yahudi sering bermain bersama anak-anak muslim. Ternyata anak-anak pun tak luput dari perhatian Rasululloh SAW. Suatu ketika, si anak Yahudi tidak terlihat di antara anak-anak muslim. Maka Rasul SAW bertanya kepada anak-anak, dimana dia. Teman-temannya bilang, si anak Yahudi sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal. Rasul pun menanggapi dengan serius. Rasul SAW terlihat panik dan tegang, lalu mengajak beberapa shahabat untuk menjenguk. Beliau dapati si anak sedang sakaratul maut. Maka beliau mentalqin, membaca 2 kalimat syahadat. Andai Rasul SAW politisi murni, pasti tak mau melakukan itu. Ini anak belum nyoblos. Kalaupun nyoblos, bahkan sudah mau mati.
Si anak menengok ke arah bapaknya. Mungkin bapaknya mikir juga, anaknya sedang jadi target dua kalimat syahadat, padahal sudah mau mati. Ini pasti Muhammad tidak sedang sekedar cari pengikut. Si bapak juga tidak menemukan tafsir materi. Pasti Muhammad menginginkan kebaikan untuk anaknya. Maka si bapak bilang, “Turuti saja Abul Qosim (Muhammad)”. Si yahudi tak mau menyebut nama Muhammad, karena berarti dia mengakui kenabian Muhammad sebagaimana yang namanya disebutkan dalam kitab suci mereka. Maka sang anak mengucap syahadat kemudian meninggal. Rasul SAW tampak gembira dan bersabda “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari neraka”.
Jadi, kerja saja lah. Komunikasi, datangi, semoga dengan kerja ini, dengan spirit Jazaa’an bimaa kanuu ya’maluun, insyaalloh Alloh akan berikan janjinya, memberikan qurrota a’yun, dengan syarat, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.
***
III. QS Al Baqoroh ayat 249-252
Falamma fashola thooluutu bil junudi...
Dari cerita Thalut ini, salah satu ujian dalam perjuangan adalah kita dihadapkan pada kekuatan lawan. Pasukan Thalut dihadapkan pada fakta bahwa kekuatan jalut dahsyat dan luar biasa. Orangnya gedhe-gedhe. Dalam cerita Israiliyat dikatakan saking gedhenya, ketika 12 orang mata-mata Israel tertangkap, mereka disuruh berjalan di lengan orang-orang nya Jalut. Ini cerita Israeliyat tidak untuk diimani, terkadang isinya aneh-aneh. Seperti cerita asal usul kucing versi israeliyat…
Yang mentalnya lemah, daya juangnya lemah akan berkata laa thoqotalana.... Kita juga begitu. Jumlah kita sedikit, uang sedikit, stiker sedikit, kalender kecil-kecil. Kenyataan bahwa lawan lebih hebat itulah ujian. Yang bisa membuat kita tegak adalah manakala kita punya stok ma’nawi yang kuat. Alloh yang atur semuanya. Maka kalkulasi kita jangan pada hebatnya musuh. Yang penting kerja, hasil terserah Alloh.
Coba bayangkan, apa hebatnya Maryam, saat diminta untuk menggoyang pohon kurma, apalagi hingga kurma berjatuhan. Seberapa kuatkah... wa huzzii ilaiki bijidz’innakhlati tusaaqith alaiki ruthoban janiyya.. (QS 19 : 25). Alloh bermaksud memberikan makanan yang tepat berupa ruthob, tapi untuk itu perlu usaha, berusaha menggoyang pohon. Pohonnya goyang apa tidak, itu tidak penting. Alloh lah yang menjatuhkan kurmanya. Yang penting digoyang saja.
Dalam melihat situasi begini, 3 hal yang perlu kita pastikan, sebagaimana saat pasukan Thalut melihat pasukan jalut: Kita berdoa kepada Alloh :
Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron
Mohon agar Alloh SWT memberikan, bahkan menumpahkan kesabaran kepada kita. Bahkan kalau kita ingin mendapatkan al falah (kemenangan), di akhir surat ali Imron disebutkan, bukan cuma shabar, tapi perlu mushabarah. Menurut tafsir Al Maududi, mushabarah artinya punya kesabaran yang mengungguli dan melebihi kesabaran para kompetitor. Kita minta kesabaran itu agar la’allakum tuflihun (diberi kemenangan).
Malam-malam mereka sosialisasi, pasang spanduk, dll itu kesabaran mereka. Kita perlu punya kesabaran yang lebih. Bahkan dikatakan oleh Al Maududi, jika kalian tak punya kesabaran 105% jangan harap mendapat kemenangan, kalau mereka punya 100%. Dalam berbagai hal kita kalah, kalau tak ditutup dengan daya juang tinggi yang lebih dari mereka, kita tak akan menang.
Itulah yang diminta oleh pasukan Thalut. Dalam bahasa lain, afrigh 'alaina shobron : karuniai kami konsistensi untuk terus bekerja.
Jangan berhenti, kendor dan nglokro.
Watsabbit aqdaamanaa
Kita harus bertahan dengan eksistensi kita. Tunjukkan kita masih ada. Jangan gara-gara yang lain begitu gegap gempita mengkampanyekan partai dan diri mereka, justru kita ngilang. Tunjukkan nahnu maujud. Kita masih ada, tidak ngilang, tidak sembunyi.
Wanshurnaa ....
Kita tetep melanjutkan upaya ekspansi kita
Manakala ini dipenuhi, dan itu yang kita mintakan kepada Alloh, maka fahazamuuhum biidznillah, bahkan waqotala dawudu jaluta... Pasukan thalut yang kecil mengalahkan tentara Jalut yang besar. Kata israiliyat, Jalut mati kena ketapel. Raksasa itu mati karena ketapel.
Mungkin tak seberapa yang kita berikan, tapi jadi suara. Di perang Badar, falam taqtuluuhum.....Tugas Rasul dan para shahabat adalah melempar. Rasul SAW begitu diserbu oleh kaum musyrikin, Rasul SAW mengambil pasir dan dilempar ke arah mereka. Yang menjadikan pasir itu kena matanya musyrikin adalah Allah. Wamaa romaita idz romaita walaakinnalloha romaa... Kena pasir seember di tubuh kita tidak apa-apa. Tapi kalau yang kena mata, 3 butir pun sudah menyakiti.
Jadi kita terus bekerja, datangi mereka, jelaskan ke mereka, ajak mereka. Jadi suara atau tidak, adalah Allah yang tentukan.
Intinya, teruslah bekerja. Kata hati kita, manakala Alloh tahu kita berhak untuk menang, maka apapun yang kita lakukan, maka itu akan mentes dan diterima oleh masyarakat.
*Disampaikan Ust Musyaffa AR (Ketua Kaderisasi DPP PKS) dalam Election Update PKS DIY (Ahad, 15 Desember 2013)
Taujih Ust Musyaffa: "Yang Harus Kita Lakukan di Hari-Hari Ini"
Written By Admin on Selasa, 17 Desember 2013 | 10.19

Assalaamu’alaikum wr wb
Alhamdulilah kita selalu dipertemukan dalam forum-forum seperti ini untuk merujuk kepada sumber-sumber asasi kita, Al Qur’an dan Assunnah, semoga kita selalu mendapatkan petunjuk.
Hari dan jam yang akan tentukan prestasi dakwah kita semakin dekat, hitung mundurnya semakin kecil. Di DPP ada banner hitung mundur sd 9 April 2014. Itu ibarat ajal yang telah ditentukan. Tempo yang telah disepakati.
Mumpung pasar masih buka, lewat tgl 9 April pasar sudah tutup, dagangan sudah tidak laku, maka gunakan pasar ini sebaik-baiknya. Pasar yang dimaksud adalah ladang perjuangan kita mumpung masih terbuka. Calon pembeli masih ada. Barang yang kita jual masih dilirik dan masih diperhatikan orang. Jadi, kalau mau habis-habisan, waktunya sekarang ini. Jangan nanti kalau selesai tanggal 9 April. Kalau sudah lewat, hari pasaran nunggu 5 tahun lagi. Situasi ini harus difahami bahwa sekaranglah saatnya. Kita bicara partai, orang tidak akan bicara macam-macam. Kita mengkampanyekan diri, tidak dipandang aneh karena ini lagi pasarannya.
Yang harus kita persiapkan di hari pasaran ini ada 3 hal :
I. Di hari pasar ini yang harus dipastikan adalah isi hati kita
Bahwa yang mengisi hati ini adalah ikhlas lii’lai kalimatillah, ikhlas dalam menempuh dan meniti jalan Alloh SWT. Mari kita tata hati kita untuk konteks ini. Dan pastikan, inilah yang diketahui Alloh, meskipun Alloh Maha Tahu. Maksudnya kita lah yang memastikan itu, bahwa tak ada yang mengisi hati ini kecuali pujian untuk Alloh, untuk I’lai kalimatillah, perjuangan fi sabilillah, perjuangan untuk litakuuna kalimatullohi hiyal ulya.
Saat antum keluar rumah, mau apa? mau silaturahim cari suara, mau berkunjung ke saudara saya, teman saya, posisikan bahwa ini adalah bagian dari cara kita menerjemahkan proses menuju i’lai kalimatillah. Kenapa harus begitu? Kita akan gagah memperjuangan apa yang mesti diperjuangkan di jalan Alloh ini, kalimatulloh ini, manakala kita punya keyakinan bahwa ada sekian banyak suara aspirasi yang kita perjuangkan. Kalau di belakang kita sedikit, mereka akan mengatakan dengan bahasa seperti bahasa Fir’aun, Innahu lasyirzhimatun qoliiluun... (Itu kan suara di pojok-pojok sana. Suara-suara pinggiran yang tidak perlu diperhatikan.)
Maka dari itu mari kita tata hati bahwa yang kita lakukan adalah dalam rangka I’laai kalimatillah.
Disamping tentang menata hati sedemikian rupa, Alloh SWT kaitkan isi hati ini dengan banyak hal.
Dalam QS Maryam 96, Allah kaitkan isi hati ini, keikhlasan ini dengan respon dan sambutan publik.
Innalladziina aamanuu wa’amilushsholihaati sayaj’aluhumurrahmaanu wudda…
Dijadikan cinta kasih di antara hamba-hamba Alloh. Manakala hati kita baik, maqbul 'indalloh, maka Alloh akan panggil Jibril, ”Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintai dia, dan Jibril membuat pengumuman di langit, bahwa Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia. Dan penduduk langit pun mencintai dia." Kalau Alloh sudah mencintai dia, Jibril dan penduduk langit juga mencintai dia,maka orang itu di bumi ini di mana-mana diterima, direspon dan disambut. Yudhou lahu qobuulu fil ardh.
Mungkin orang memilih kita walaupun kita banyak catatan, karena mesakke, kasihan. Tidak penting bagi kita, kita dipilih karena dicintai atau karena mesakke. Yang penting adalah dipilih. Yang bisa mengatur hati adalah Alloh. Karena itu sekali lagi, pertama kali di hari pasaran ini, yang CAD, yang AD, yang kader, yang simpatisan, masing-masing kita menata hati, semua dalam rangka I’lai kalimatillah, fii sabilillah, litakuuna kalimatullohi hiyal ulya. Mungkin yang datang kepada mereka banyak, tapi yang penting adalah bagaimana Alloh mengatur hati orang untuk memastikan pilihannya kepada kita. Itu rahasiamya ada pada hati.
Dalam QS Al Anfal 70, Alloh mengaitkan kebersihan hati itu dengan 2 hal : pengganti yang lebih baik dan pengampunan dari Alloh SWT.
Yaa ayyuhanabiyyu qul liman fii aidiikum minal asro…….
Di hari perjuangan seperti ini banyak yang hilang dari kita. Sama-sama hilang, maka kita tata bahwa hilangnya itu dengan kebersihan hati. Misal, pas ada keinginan untuk beli ini-itu, namun uangnya kita gunakan untuk menyumbang biaya pemilu. Mungkin waktu kita yang hilang, mungkin juga kesempatan-kesempatan kita yang hilang, karena digunakan untuk perjuangan itu.
Tapi manakala in ya’lamillahu fii qulubikum khoiro..... jika Alloh tahu di dalam hati kita itu kebaikan yang ada, maka Alloh akan mengganti semua yang hilang itu dengan yang lebih baik. Tidak disebutkan apa gantinya itu. Asas iman itu adalah iman bil ghoib. Kalau tak iman dengan yang ghoib, hilanglah iman itu. Yang penting adalah iman. Apa yang lebih baik itu, wallohu a’lam.
Ayat ini turun berkaitan dengan Al Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasululloh SAW, yang sebenarnya muslim, tetapi dapat tugas khusus untuk tetap berada di kalangan kafir quraisy di Makkah, sebagai informan. Saat perang Badar, beliau terpaksa ikut rombongan orang kafir memerangi kaum muslim. Repotnya, yang tahu tugas khusus beliau sangat sedikit. Alhamdulillah, Abbas tidak terbunuh, hanya tertawan. Sampai keluar keputusan bahwa setiap tawanan kalau mau bebas, harus bayar tebusan. Abbas datang kepada Rasul, “Bukankan saya muslim, apakah bayar tebusan juga?” Namun Rasul menjawab dengan jawaban standar : "Engkau kan tawanan, kalau ingin bebas, bayarlah tebusan."
Abbas berkata, hartaku telah habis. (Rasul SAW tidak memberikan dana operasional untuk tugas khususnya di Makkah). Namun Rasul menyampaikan, “Bukankah sebelum perang Badar engkau menemui seorang wanita dengan rahasia di Makkah, dan menitipkan hartamu kepadanya, apabila engkau mati dalam perang, harta itu untuk diberikan kepada keturunanmu? Dan kalau masih hidup akan kau ambil lagi?”
Bisa dibayangkan, betapa berat perasaan Abbas. Bahkan yang rahasia pun telah dibuka oleh Alloh, hingga tak punya apa-apa lagi. Habis semua. Maka sebagai hiburan, Alloh SWT menurunkan Al Anfal ayat 90 ini. Allah akan mengganti kalau dia ikhlas dengan sesuatu yang lebih baik, dan akan diampuni. Maka Abbas pun percaya, iman bil ghoib, dan tidak bertanya-tanya lagi.
Di hari tuanya, Al Abbas ini menjadi sangat kaya. Milyuner. Ia berkata kepada generasi berikutnya, “Saya yakin, ini adalah wujud janji Alloh yang pertama. Dan saya masih menunggu janji yang kedua, yaitu ampunan."
Suka atau tidak suka, banyak yang hilang dalam perjuangan ini. Tapi yang penting, hilangnya itu by design, bukan accident, dan ikhlas agar ada ganti yang lebih baik.
Dalam Al Fath 18
Alloh kaitkan masalah hati ini dengan sakinah, kemenangan, dan ghonimah.
Laqod rodhiyallohu ‘amil mu’miniina….
Berdasarkan apa yang Alloh tahu itu, maka Alloh berikan 3 hal:
(1) Faanzalahuu sakinatan, turun ketenangan, ketentraman
Sakinah ada hubunganya dengan kata sikkin, pisau. Lihatlah ayam jago, yang ke mana-mana. Kalau sudah ketemu pisau, maka dia sakinah. Dimakan pun diam saja..
Contoh lain tentang sakinah, Waktu perang Hunain, 12 ribu pasukan muslimin melawan 4000 kafir hawazin. Saat melewati jalan yang sempit di antara dua bukit, tiba-tiba kaum muslimin dihujani panah, maka tercerai berai dan berlarian ke sana kemari. 12 ribu yang tadinya simbol keunggulan, maka di jalan sempit itu justru jadi masalah. Wa dhooqot ‘alaikumul ardhu bimaa rokhubat… Tsumma anzalalloohu sakiinatahu ala rosuulihi wa ‘alal mukminin ( QS 9 : 25-26).... Setelah sakinah turun, seakan-akan tak ingat lagi ada hujan panah saking tenangnya. Bahkan dalam siroh diceritakan, kuda-kuda pada lari menjauh dan susah digerakkan, setelah sakinah turun maka bisa diarahkan lagi, dan mereka turun dari kuda di jalan sempit itu, jalan kaki menyambut panggilan Rasululloh SAW.
Kalau tak ada sakinah, kita gampang panik.
Lihat baliho kompetitor saja panik... padahal Alloh yang atur siapa yang akan dipilih. Datang di satu tempat, keduluan orang lain, tak usah panik. Mereka punya harapan dari kedatangannya itu, namun kita pun berharap kepada Alloh.
Sakinah juga berkaitan dengan litaskunu ilaiha antara suami istri.
Tapi jangan terlalu sakinah, jadinya malah sukun, kebalikan dari harokat, mati, diam.
(2) wa atsaabahu fathan qoriibaa, Alloh mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat.
(3) wamaghonima katsiirotan, bukan ghonimah biasa, namun ghonimah yang sangat banyak !
Lagi-lagi dikaitkan dengan kondisi hati. Karenanya yang perlu ditata pertama adalah masalah hati.
***
II. Mari mentadabburi As Sajdah 17, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi
Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a’yun
“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disebunyikan untuk mereka yaitu ( bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”
Pasti jiwa akan tahu, apa yang dirahasiakan dari mereka, segala hal yang membuat jiwa senang.
Dalam konteks kita, apa yang akan menyenangkan kita:
-semua kader bekerja, semua terlibat pemenangan. Itu menyenangkan. Akhirnya dapat suara banyak, itu menyenangkan. Target kursi terpenuhi, itu menyenangkan.
Tapi semua yang menyenangkan ini dikaitkan dengan jazaan bimaa kanuu ya’maluun. Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kita berkesempatan mendapat maa ukhfiya lahu, asalkan mau bekerja. Apalagi slogan kita: cinta kerja harmoni.
Rasul SAW bersabda,
“jika kiamat datang dan ada benih di tanganmu, dan masih ada kemampuan untuk menanam, maka tanamlah, karena pada menanam itu ada pahala”
Andai antum tahu dan yakin jika jam 1 siang akan mati, dan jam 12 antum dapat tugas menanam kelapa, bagaimana? Untuk apa? Sudah mau mati. Menunggu panen butuh bertahun-tahun. Tapi Rasul ajarkan, ini bahkan kiamat, yang tak ada hari lagi untuk menunggu hasil panen. Sudah sampai pada hari yang kholidiina fihaa... tapi diajarkan, tanam saja, karena dalam menanam itu ada pahala.
Maka kita pun bekerja apakah jadi suara apa tidak, entahlah, serahkan saja pada Alloh.
Rasul SAW pun memberi contoh : Rasululloh SAW punya tetangga seorang Yahudi. Dan anak si yahudi sering bermain bersama anak-anak muslim. Ternyata anak-anak pun tak luput dari perhatian Rasululloh SAW. Suatu ketika, si anak Yahudi tidak terlihat di antara anak-anak muslim. Maka Rasul SAW bertanya kepada anak-anak, dimana dia. Teman-temannya bilang, si anak Yahudi sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal. Rasul pun menanggapi dengan serius. Rasul SAW terlihat panik dan tegang, lalu mengajak beberapa shahabat untuk menjenguk. Beliau dapati si anak sedang sakaratul maut. Maka beliau mentalqin, membaca 2 kalimat syahadat. Andai Rasul SAW politisi murni, pasti tak mau melakukan itu. Ini anak belum nyoblos. Kalaupun nyoblos, bahkan sudah mau mati.
Si anak menengok ke arah bapaknya. Mungkin bapaknya mikir juga, anaknya sedang jadi target dua kalimat syahadat, padahal sudah mau mati. Ini pasti Muhammad tidak sedang sekedar cari pengikut. Si bapak juga tidak menemukan tafsir materi. Pasti Muhammad menginginkan kebaikan untuk anaknya. Maka si bapak bilang, “Turuti saja Abul Qosim (Muhammad)”. Si yahudi tak mau menyebut nama Muhammad, karena berarti dia mengakui kenabian Muhammad sebagaimana yang namanya disebutkan dalam kitab suci mereka. Maka sang anak mengucap syahadat kemudian meninggal. Rasul SAW tampak gembira dan bersabda “Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan anak ini dari neraka”.
Jadi, kerja saja lah. Komunikasi, datangi, semoga dengan kerja ini, dengan spirit Jazaa’an bimaa kanuu ya’maluun, insyaalloh Alloh akan berikan janjinya, memberikan qurrota a’yun, dengan syarat, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.
***
III. QS Al Baqoroh ayat 249-252
Falamma fashola thooluutu bil junudi...
Dari cerita Thalut ini, salah satu ujian dalam perjuangan adalah kita dihadapkan pada kekuatan lawan. Pasukan Thalut dihadapkan pada fakta bahwa kekuatan jalut dahsyat dan luar biasa. Orangnya gedhe-gedhe. Dalam cerita Israiliyat dikatakan saking gedhenya, ketika 12 orang mata-mata Israel tertangkap, mereka disuruh berjalan di lengan orang-orang nya Jalut. Ini cerita Israeliyat tidak untuk diimani, terkadang isinya aneh-aneh. Seperti cerita asal usul kucing versi israeliyat…
Yang mentalnya lemah, daya juangnya lemah akan berkata laa thoqotalana.... Kita juga begitu. Jumlah kita sedikit, uang sedikit, stiker sedikit, kalender kecil-kecil. Kenyataan bahwa lawan lebih hebat itulah ujian. Yang bisa membuat kita tegak adalah manakala kita punya stok ma’nawi yang kuat. Alloh yang atur semuanya. Maka kalkulasi kita jangan pada hebatnya musuh. Yang penting kerja, hasil terserah Alloh.
Coba bayangkan, apa hebatnya Maryam, saat diminta untuk menggoyang pohon kurma, apalagi hingga kurma berjatuhan. Seberapa kuatkah... wa huzzii ilaiki bijidz’innakhlati tusaaqith alaiki ruthoban janiyya.. (QS 19 : 25). Alloh bermaksud memberikan makanan yang tepat berupa ruthob, tapi untuk itu perlu usaha, berusaha menggoyang pohon. Pohonnya goyang apa tidak, itu tidak penting. Alloh lah yang menjatuhkan kurmanya. Yang penting digoyang saja.
Dalam melihat situasi begini, 3 hal yang perlu kita pastikan, sebagaimana saat pasukan Thalut melihat pasukan jalut: Kita berdoa kepada Alloh :
Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron
Mohon agar Alloh SWT memberikan, bahkan menumpahkan kesabaran kepada kita. Bahkan kalau kita ingin mendapatkan al falah (kemenangan), di akhir surat ali Imron disebutkan, bukan cuma shabar, tapi perlu mushabarah. Menurut tafsir Al Maududi, mushabarah artinya punya kesabaran yang mengungguli dan melebihi kesabaran para kompetitor. Kita minta kesabaran itu agar la’allakum tuflihun (diberi kemenangan).
Malam-malam mereka sosialisasi, pasang spanduk, dll itu kesabaran mereka. Kita perlu punya kesabaran yang lebih. Bahkan dikatakan oleh Al Maududi, jika kalian tak punya kesabaran 105% jangan harap mendapat kemenangan, kalau mereka punya 100%. Dalam berbagai hal kita kalah, kalau tak ditutup dengan daya juang tinggi yang lebih dari mereka, kita tak akan menang.
Itulah yang diminta oleh pasukan Thalut. Dalam bahasa lain, afrigh 'alaina shobron : karuniai kami konsistensi untuk terus bekerja.
Jangan berhenti, kendor dan nglokro.
Watsabbit aqdaamanaa
Kita harus bertahan dengan eksistensi kita. Tunjukkan kita masih ada. Jangan gara-gara yang lain begitu gegap gempita mengkampanyekan partai dan diri mereka, justru kita ngilang. Tunjukkan nahnu maujud. Kita masih ada, tidak ngilang, tidak sembunyi.
Wanshurnaa ....
Kita tetep melanjutkan upaya ekspansi kita
Manakala ini dipenuhi, dan itu yang kita mintakan kepada Alloh, maka fahazamuuhum biidznillah, bahkan waqotala dawudu jaluta... Pasukan thalut yang kecil mengalahkan tentara Jalut yang besar. Kata israiliyat, Jalut mati kena ketapel. Raksasa itu mati karena ketapel.
Mungkin tak seberapa yang kita berikan, tapi jadi suara. Di perang Badar, falam taqtuluuhum.....Tugas Rasul dan para shahabat adalah melempar. Rasul SAW begitu diserbu oleh kaum musyrikin, Rasul SAW mengambil pasir dan dilempar ke arah mereka. Yang menjadikan pasir itu kena matanya musyrikin adalah Allah. Wamaa romaita idz romaita walaakinnalloha romaa... Kena pasir seember di tubuh kita tidak apa-apa. Tapi kalau yang kena mata, 3 butir pun sudah menyakiti.
Jadi kita terus bekerja, datangi mereka, jelaskan ke mereka, ajak mereka. Jadi suara atau tidak, adalah Allah yang tentukan.
Intinya, teruslah bekerja. Kata hati kita, manakala Alloh tahu kita berhak untuk menang, maka apapun yang kita lakukan, maka itu akan mentes dan diterima oleh masyarakat.
*Disampaikan Ust Musyaffa AR (Ketua Kaderisasi DPP PKS) dalam Election Update PKS DIY (Ahad, 15 Desember 2013)
Label:
Kajian
10.12
Ikhwan dan akhwat sekalian yang saya cintai.
Alhamdulillah sampailah kita akhirnya pada sesi terakhir dari election update yang telah kita mulai kemarin. Dan Saya mengikuti acara ini dari awal sampai akhir. Dan merasakan bahwa confidence kita, kepercayaan diri kita, secara kolektif tumbuh jauh lebih bagus dari pada sebelumnya. Ini election update terbaik yang pernah kita adakan dibanding yang pertama dan yang kedua. Kita juga merasakan bahwa aura dari election update yang ke tiga ini rasaya jauh lebih positif, jauh lebih cerah dan jauh lebih percaya diri dari pada bulan-bulan sebelumnya.
Ikhwah sekalian,
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tiga hal. Yang pertama adalah pada awal-awal saya diberi amanah sebagai presiden. Hampir semua taujih-taujih yang saya sampaikan, saya menyampaikan satu hal yang sangat penting. Yaitu masalah almuayyasah al ‘amaliyah ma’al qur’aan. Bagaimana kita bermuayyasah (berinteraksi -ed) secara amaliyah dengan alqur’an sepanjang kita menghadapi semua tantangan, semua badai yang sedang berlangsung. Karena ini adalah momentum yang paling bagus untuk mentarbiyah diri kita semuanya. Baik secara individu maupun secara jama’iy melalui cobaan-cobaan yang kita hadapi.
Begitu juga –ikhwah sekalian- Saya menyampaikan beberapa surat untuk kita pelajari secara lebih seksama. Dari setiap milestone saya menyebutkan surat-surat yang kita pelajari itu semuanya. Dan Saya kira sedikit atau banyak kita semuanya sudah mendapatkan banyak sekali inspirasi dari surat-surat itu.
Ikhwah sekalian,
Dari pengalaman kita baik dalam muayyasah dengan quran maupun dengan inspirasi yang kita peroleh di lapangan. Saya kira setidak-tidaknya kita mendapatkan tiga hal;
Yang pertama adalah semua tantangan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita itu adalah merupakan cara Allah SWT untuk meningkatkan kadar keikhlasan ‘ubudiyah kita kepada-Nya. Atau ikhlaashul ‘ubuudiyah lillaah. Supaya kita melakukan reorientasi, memperbaiki niat kembali, memperbaiki arah hidup. Bahwa pada akhirnya niat awal kita semuanya terlibat dalam pergerakan ini adalah niat ibadah dan dakwah. Dan niat itu harus terus menerus kita pertahankan dalam semua situasi yang kita hadapi.
Semua cobaan-cobaan yang diberikan Allah SWT kepada kita bertujuan menyadarkan kita kita tentang qudratullah (keMaha berdayaan Allah SWT) sekaligus juga kelemahan kita. Oleh karena itu yang ingin dilihat oleh Allah SWT dari kita semuanya sebagai hambaNya dalam situasi seperti ini adalah Al inkisaar. Al Inkisaar ini adalah orang yang merasa seperti luluh lantak dihadapan Allah SWT. Supaya kita merasakan bahwa pada akhirnya kita ini tidak punya apa-apa di hadapan Allah SWT. Dan pada akhirnya semua daya kita itu adalah pemberian Allah SWT. Saya kira penting masalah-masalah seperti ini untuk kita hadirkan terus menerus dalam sepanjang jalan perjuangan kita semuanya. Supaya semua kelelahan yang telah kita rasakan dalam perjuangan ini. Begitu juga semua pengorbanan yang sudah kita keluarkan tidak hilang sia-sia. Karena dari awalnya kita sadar bahwa ini semuanya untuk Allah SWT.
***
Yang kedua ikhwah sekalian. Pada bulan-bulan inilah, kira-kira dari Februari sampai Sekarang. Sepuluh bulan lamanya. Kita merasakan apa artinya sabar. Dan kalau kita belajar dari qur’an –ikhwah sekalian- sifat yang paling banyak diulangi di dalam qur’an itu adalah sabar. Antum bandingkan kata sabar dalam alqur’an dengan semua akhlak yang lainnya, sabarlah paling banyak terulang. Sehingga para ulama mengatakan sabar itu adalah Ummul Akhlaq (ibunya semua akhlak yang terpuji).
Sabar itu –ikhwah sekalian- dalam qur’an misalnya berhubungan dengan kemampuan orang untuk survival, untuk bertahan. Misalnya Allah SWT mengatakan :
{ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ} [البقرة: 155
Tanpi antum perhatikan ikhwan-akhwat sekalian. Sebelum Allah sampai pada ayat
{وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 155، 156
Allah SWT mengatakan, antum perhatikan alqur’an menggunakan kata nakirah.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ
Dengan sedikit, tidak banyak. Bi syai-in minal khauf. Rasa takut. Dan saya pikir-pikir hampir kita semuanya sepanjang bulan-bulan ini seperti nasibnya Nabi Musa AS.
{فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 18
Setelah beliau membunuh orang, maka Nabi Musa berada dalam kota itu dalam keadaan takut dan waspada, was-was. Bahkan ketika beliau mendapatkan berita bahwa beliau akan dibunuh. Kalimat nya diulangi kembali oleh qur’an:
{فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 21
Jadi nasib kita ini mirip. Berada dalam tekanan selama berbulan-bulan dan rasanya tidak selesai sampai sekarang. Dan mungkin tidak akan selesai entah sampai kapan. Tapi kita merasakan bahwa kita ada dalam kondisi jiwa yang sama seperti itu. Dan ini yang dimaksud dalam qur’an.. wanabluwakum bi syai-in minal khaufi wal juu’iy. Kita juga merasakan keterbatasan sumber daya. Saya mengatakan kepada banyak ikhwah sepanjang kita melakukan jaulah. Yang ikut beserta saya. Selama kita menghadapi musibah ini sebaiknya kita tidak meminta tolong kepada orang lain. Karena muka kita lagi jelek. Kita atasi persoalan kita sendiri dengan cara kita sendiri, dengan sumber daya kita sendiri, dengan kantong kita sendiri. Sebab apa yang paling penting untuk kita tunjukkan dalam situasi seperti itu adalah menjawab pertanyaan mendasar sejauh mana kita bisa bertahan dalam keadaan dimana kita hanya benar-benar mengandalkan kemampuan kita sendiri tanpa orang lain. Dan supaya kita membuktikan kepada diri kita dan juga kepada orang lain. Bahwa kita ini serius menolong agama kita sendiri. Serius menolong nilai-nilai perjuangan kita dan cita-cita kita semuanya.
Kadang-kadang ikhwah sekalian, ada situasi yang kita hadapi bukan hanya dalam politik, dalam kehidupan dakwah secara umum. Tapi yang sekarang kita rasakan. Ada situasi seperti yang dihadapi oleh nabi Yunus. Terjebak dalam situasi dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh manusia. Coba antum bayangkan seandainya kita berada dalam perut ikan seperti itu dan tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Tapi tidak mati juga, Cuma kita ada dalam situasi seperti itu. Yang membuat orang bertahan dalam situasi seperti itu adalah sabar dan tetap berharap. Karena itu kalau kita lihat –ikhwah sekalian- doa nabi yunus itu adalah doa yang sangat sederhana.
{لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ} [الأنبياء: 87
Laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minazhzhaalimiin.
Itu bukan doa tapi pengakuan dosa. Jadi ada situasi dimana seperti itu. Dan karena itu ikhwah sekalian, sabarlah yang membuat orang itu bertahan hidup dan survive dalam situasi yang paling sulit. Saya kira kita akan menghadapi tekanan jiwa dan tekanan finansial ini dan juga kekurangan dukungan dst. Sampai kita pemilu. Tetapi kita mesti dari sini mengukur kemampuan kita untuk bertahan. Tapi yang menarik –ikhwah sekalian- sabar ini juga di dalam qur’an dihubungkan dengan kepemimpinan.
{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا} [السجدة: 24
Kenapa Ikhwah sekalian? Apa yang paling berat dalam politik itu adalah waktu kita berada dalam satu situasi dimana satu-satunya hal yang paling bijak yang kita lakukan pada saat itu adalah diam. Itu situasi yang sangat berat. Kita mau bergerak tapi memang situasi menuntut kita diam. Dan itu yang membuat banyak orang melakukan kesalahan dalam politik adalah ketika seharusnya dia diam, dia bergerak. Dan dalam satu hadist Rasulullah saw mengatakan, “akan datang satu fitnah kepada manusia…
الًقَاعِدُونَ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَ الْقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي
Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari pada yang berjalan. Dan yang berjalan pada waktu lebih baik dari pada yang berdiri.
Jadi ikhwah sekalian, Itu yg membuat orang menjadi pemimpin karena dia mampu mengendalikan diri dalam situasi yang paling sulit seperti itu. Dalam situasi serba kekurangan. Dan karena itu –ikhwah sekalian-, salah satu pengalaman menarik secara spiritual itu adalah pada waktu Rasulullah SAW menghadapi embargo selama tiga tahun. Begitu embargo itu selesai ikhwah sekalian, surat yang turun itu adalah surat adh-dhuha dan surat al insyirah. Dua surat itu semuanya, itu memperkuat nilai-nilai keyakinan Rasulullah SAW tentang hal ini.
Saya merasa penting untuk mengungkap kembali hal ini -ikhwah sekalian-. Karena kita akan memasuki tahapan-tahapan akhir dari perjuangan kita ini. Dan ini membutuhkan energy yang jauh lebih besar, kesabaran yang jauh lebih besar. Dan disinilah kita membuktikan apakah kita bisa memimpin atau benar-benar tidak bisa memimpin.
***
Yang ketiga ikhwah sekalian, kita juga merasakan bahwa salah satu sisi penting dari tarbiyah qur’aniyah itu adalah menyadari apa dimaksud oleh quran itu dengan istilah taufik. Karena kita juga tahu dalam politik itu momentum itu nilai yang sangat penting (timing). Dan yang dimaksud taufik itu adalah
الْتِقاء الإِرَادَةِ الإِلَهِية مَعَ الإِرَادَةِ البَشَرِيَة فِي الزَمَانِ المُنَاسِب وَ الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ وَ الْمَكَانِ المُنَاسِبِ
(iltiqaaul iraadah ilaahiyah ma’al iraadah basyariyah fi zamaanil munaasib wal waqtil munaasib wal makaanil munaasib.)
Bertemunya kehendak Allah daan harapan manusia pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat.
Kita semua adalah orang yang percaya kepada takdir. Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang ditakdirkan kepada kita.Sehingga kita adalah orang yang terus menerus berusaha meraba, menemukan, mencari tahu apa sesungguhnya takdir kita itu. Dan saya kira –ikhwah sekalian- pelajaran yang paling penting sepanjang bulan-bulan ini yang saya rasakan setidak-tidaknya secara pribadi adalah bahwa ternyata tingkat ketepatan kita itu tidak pernah benar-benar bisa kita rencanakan. Jadi apa yang kita maksud dengan terburu-buru atau terlambat, timing. Itu tidak pernah kita benar-benar bisa tahu. Dan itu murni sepenuhnya adalah takdir Allah SWT. Sebab kita bergerak dalam situasi dimana sebagian besar komponen-komponen perubahan itu tidak ada dalam kendali kita. Dan satu-satunya cara untuk menghadirkan semua komponen-komponen seperti yang kita inginkan itu adalah menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba dan sisanya menyerahkannya kepada Allah SWT. Biarlah Dia yang mengaturnya dengan caranya sendiri.
Seperti sekarang ketika selama dua hari ini kita membicarakan soal capres. Kita tidak tahu apakah ini momentumnya tepat atau tidak. Tetapi yang bisa kita lakukan itu adalah memfirasati zaman, memfirasati waktu. Dan berharap-harap bahwa kira-kira yang ada dalam takdir Allah SWT juga akan begini jadinya.
Tetapi masalah ini ikhwah sekalian, saya penting menghadirkan makna ini kembali supaya dalam proses pengambilan keputusan kita semuanya dan dalam cara kita melangkah. Kita menghadirkan tiga makna ini dalam satu rangkaian sekaligus: Ikhlaashul ‘ubuudiyati lillaah, ash-shabru wal mushaabarah dan raja-ut taufiiq ilaahiy.
Karena nilai keputusan ini bisa dianggap tepat pada hari ini dalam pandangan kasat mata kita. Tapi belum tentu tepat bagi kita. Sama seperti ketika orang lain mungkin merencanakan makar kepada kita, dari situlah datangnya makar Allah kepada mereka. Jadi makna-makna ini ikhwah sekalian adalah ma’aani ruuhiyyah. Makna-makna spiritual ini perlu kita hadirkan kembali. Dan dengan makna-makna spiritual ini kita memberikan al-lamsar ruuhiyyah lil ‘amaliyatis siyaasiyyah. Kita memberikan sentuhan spiritual yang kuat dalam seluruh kerja-kerja politik kita. Dan kalau ada yang menjelaskan mengapa pada dua hari ini kita tampak mempunyai confinden yang jauh lebih bagus. Aura kita jauh lebih bagus. Saya kira karena itu adalah bagian dari pengejawantahan tiga makna yang saya sebutkan tadi itu.
***
Ikhwah sekalian,
Point kedua yang ingin saya sampaikan adalah masalah sepanjang bulan-bulan ini juga. Rasanya kita telah mengembangkan apa yang saya sebut dengan al-kafaa-ah siyaasiyyah, kemampuan politik kita. Baik dalam pemahaman maupun dalam performan. Saya termasuk yang selalu percaya bahwa satu partai yang ingin menjadi besar memang mesti menghadapi tantangan yang lebih besar. Dan makin besar tantangan yang kita hadapi, itu juga berarti bahwa kita menghadapi satu proses penggemblengan lapangan secara langsung yang mengupgrade kemampuan kita bekerja. Jauh lebih baik dibanding ketika kita tidak menghadapi tantangan-tantangan seperti ini.
Dan salah satu manfaat dari musibah-musibah yang menimpa kita itu adalah dia membuka mata kita kepada kelemahan-kelemahan kita. Tapi pada waktu yang sama, dia juga membuka mata kita kepada kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan kita yang mungkin selama ini kita tidak sadari. Kalau ada satu hal yang pantas kita catat suatu waktu, lima, sepuluh tahun, dua puluh tahun yang akan datang tentang periode ini. Menurut saya diantara bagian yang paling penting adalah bahwa kita telah memberikan pelajaran kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain di luar sana. Bagaimana caranya untuk tetap menjadi solid dan militan dalam keadaan yang paling sulit. Belum tentu dalam keadaan damai kita bisa menjadi solid dan militan seperti sekarang. Tapi bulan-bulan ini kita belajar luar biasa. Mengatasi semua keterbatasan kita, menghadapi masalah di dalam , menghadapi masalah di luar dan seterusnya. Dan kita bisa tetap menunjukkkan soliditas dan mengelola sebuah organisasi yang besar dalam sebuah Negara yang besar. Dan bisa eksis dalam situasi seperti ini. Itu adalah suatu pelajaran yang pantas untuk dipelajari. Tidak sekarang tapi beberapa tahun yang akan datang. Insya Allah…
Dan antum semua adalah bagian dari pelaku yang menciptakan pelajaran penting itu. Saya selalu perlu mengulangi persoalan ini. Karena kita ini, PKS ini tumbuh dengan tradisi kerendahan hati. Karena itu biasanya kita juga terbiasa underestimate bahkan dengan diri kita sendiri. Kemarin di Babel (Bangka Belitung) saya menyampaikan ke ikhwah. Ini ada angka-angka yang kalau konstruksi ini tidak gampang konstruksinya. Dihitung-hitung dalam situasi yang paling buruk ini, dengan menang di dua pilkada besar untuk Gubernur (Jabar, Sumut). Total populasi yang kita pimpin di republik ini 60 juta. Atau sama dengan 45% dari total penduduk republik Indonesia. Kalau ini kita compare, bandingkan dengan angka-angka yang lain. Kira-kira ini dua kalinya syiria, tiga kalinya irak, hampir tiga kalinya Malaysia. Dan kalau seluruh Negara teluk digabung, kira-kira sekitar tiga kali lipat. Hampir sama dengan Iran wilayah ini. Hampir sama dengan Turki, hampir sama dengan Mesir tidak terlalu jauh bedanya. Dua kalinya Maroko, sepuluh kalinya Lybia, enam kalinya Tunisia.
Jadi ikhwah sekalian antum ini tidak memimpin wilayah yang kecil. Tapi kita tidak menyadari. Setiap hari kita mengkritik gubernur kita dan kita sendiri tidak puas dengan performan mereka itu. Kita tidak merasa cukup besar. Jadi mengelola satu organisasi yang besar seperti ini. Ini tidak gampang. Dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, kita bisa mempertahankan soliditas dan militansi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Menurut saya ini adalah bagian yang pantas untuk kita pelajari dalam perjalanan organisasi kita ini beberapa tahun ke depan. Dan sekali lagi antum semua adalah pelaku utama dari periode ini.
Begitu juga ikhwah sekalian, pemahaman kita tentang politik ini jauh berkembang lebih baik dari pada sebelumnya. Saya kira kita mulai sampai pada satu keseimbangan, satu iklim baru tentang apa yang selama ini kita pertentangkan. Misalnya antara idealisme dan pragmatisme.
Saya kira kita tidak pernah –Insyaa Allaah- kehilangan idealisme kita. Tapi yang berkembang itu adalah fiqhul waaqi’ kita itu jauh lebih bagus dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan karena itu cara kita melakukan mu’aalajatul waaqi’ itu juga jauh lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak berubah menjadi sangat pragmatis sebagaimana yang mungkin kita tuduhkan kepada diri kita sendiri. Tetapi kita menjadi jauh lebih realistis, jauh lebih sabar mengelola situasi kita karena pengetahuan kita tentang realitas jauh lebih detil dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan ini satu nilai ikhwah sekalian, yang sejak lama dalam hampir semua ceramah saya. Dalam tulisan-tulisan saya. Konsep tentang apa yang saya sebut dengan learning organization. Organisasi pembelajar yang terus menerus belajar. Dan dalam proses belajar itu kita mengalami proses jatuh bangun, jatuh bangun, jatuh bangun. Ada gagal dan seterusnya. Tetapi yang muncul itu ikhwah sekalian adalah satu mindset baru, satu kemampuan berfikir baru yang tidak mungkin kita punyai kecuali kalau kita terjun ke lapangan. Ini yang saya sebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah (akal empiris). Kita tumbuh dengan cara berfikir normative dan salah satu kelemahan umat Islam itu adalah emosinya kepada idiologi terlalu kuat. Tapi begitu dia mengalami benturan di lapangan. Dia berlari kembali kepada normanya, dia meninggalkan lapangan. Kenapa? Karena ada yang kosong dalam struktur pengetahuannya, dalam struktur pemikirannya yaitu bahwa dia tidak mempunyai apa yang disebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah.
Pengalaman itu ikhwah sekalian adalah sesuatu yang terbuka untuk dipelajari. Dan jangan pernah mengharamkan diri kita untuk gagal pada suatu waktu. Karena kegagalan itu sendiri adalah materi pembelajaran. Dan kalau ada hal yang lebih penting menurut saya dalam proses pencapaian kita semuanya ini adalah tumbuhnya kemampuan berfikir empiric yang ada dalam diri kita sekarang ini. Dan karena itu kita mulai bisa menerapkan ilmu pengetahuan dalam hampir semua aspek cara kita bekerja. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, kita mentransformasi diri kita secara perlahan-lahan menjadi salah satu model dari apa yang sekarang disebut orang dengan knowledge society (masyarakat berpengetahuan). Yang menggunakan pengetahuannya sebagai sebuah fungsi untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu.
Menurut saya –ikhwah sekalian- pencapaian-pencapaian seperti ini dalam organisasi kita dalam pertumbuhan jama’ah kita. Ini penting untuk terus menerus kita catat. Karena ini mempunyai implikasi yang sangat panjang dalam daya tahan organisasi ini melawan waktu yang panjang di masa yang akan datang. Dan saya kira dalam hal ini kita mudah-mudahan insyaa Allah ada dalam on the track belajar secara jauh lebih bagus dari proses-proses yang kita alami selama ini. Dan sekali lagi ikhwah sekalian, nilai ini. Ini yang saya maksud dengan Peningkatan pada kafaa-ah siyaasiyah kita fahman wa adaa-an. Baik dalam pemahaman, dalam pembentukan, penyempurnaan dan struktur berfikir kita semuanya maupun dalam kemampuan kerja kita semuanya. Saya kira ini adalah suatu prestasi yang pantas kita catat dan ini adalah hikmah yang kita peroleh sepanjang bulan-bulan kita menghadapi tantangan-tantangan berat ini.
*Disampaikan pada PENUTUPAN ELECTION UPDATE III PKS
Taujih Presiden PKS Anis Matta: "MENJEMPUT KEMENANGAN"
Written By Admin on Senin, 16 Desember 2013 | 10.12
TAUJIH PRESIDEN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
UST. HM. ANIS MATTA, LC
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا وجعلنا إخوانا متحابين عاملين داعين مجاهدين في سبيله
أحييكم معاشر الإخوان والأخوات جميعا بالتحية الإسلام
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwan dan akhwat sekalian yang saya cintai.
Alhamdulillah sampailah kita akhirnya pada sesi terakhir dari election update yang telah kita mulai kemarin. Dan Saya mengikuti acara ini dari awal sampai akhir. Dan merasakan bahwa confidence kita, kepercayaan diri kita, secara kolektif tumbuh jauh lebih bagus dari pada sebelumnya. Ini election update terbaik yang pernah kita adakan dibanding yang pertama dan yang kedua. Kita juga merasakan bahwa aura dari election update yang ke tiga ini rasaya jauh lebih positif, jauh lebih cerah dan jauh lebih percaya diri dari pada bulan-bulan sebelumnya.
Ikhwah sekalian,
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tiga hal. Yang pertama adalah pada awal-awal saya diberi amanah sebagai presiden. Hampir semua taujih-taujih yang saya sampaikan, saya menyampaikan satu hal yang sangat penting. Yaitu masalah almuayyasah al ‘amaliyah ma’al qur’aan. Bagaimana kita bermuayyasah (berinteraksi -ed) secara amaliyah dengan alqur’an sepanjang kita menghadapi semua tantangan, semua badai yang sedang berlangsung. Karena ini adalah momentum yang paling bagus untuk mentarbiyah diri kita semuanya. Baik secara individu maupun secara jama’iy melalui cobaan-cobaan yang kita hadapi.
Begitu juga –ikhwah sekalian- Saya menyampaikan beberapa surat untuk kita pelajari secara lebih seksama. Dari setiap milestone saya menyebutkan surat-surat yang kita pelajari itu semuanya. Dan Saya kira sedikit atau banyak kita semuanya sudah mendapatkan banyak sekali inspirasi dari surat-surat itu.
Ikhwah sekalian,
Dari pengalaman kita baik dalam muayyasah dengan quran maupun dengan inspirasi yang kita peroleh di lapangan. Saya kira setidak-tidaknya kita mendapatkan tiga hal;
Yang pertama adalah semua tantangan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita itu adalah merupakan cara Allah SWT untuk meningkatkan kadar keikhlasan ‘ubudiyah kita kepada-Nya. Atau ikhlaashul ‘ubuudiyah lillaah. Supaya kita melakukan reorientasi, memperbaiki niat kembali, memperbaiki arah hidup. Bahwa pada akhirnya niat awal kita semuanya terlibat dalam pergerakan ini adalah niat ibadah dan dakwah. Dan niat itu harus terus menerus kita pertahankan dalam semua situasi yang kita hadapi.
Semua cobaan-cobaan yang diberikan Allah SWT kepada kita bertujuan menyadarkan kita kita tentang qudratullah (keMaha berdayaan Allah SWT) sekaligus juga kelemahan kita. Oleh karena itu yang ingin dilihat oleh Allah SWT dari kita semuanya sebagai hambaNya dalam situasi seperti ini adalah Al inkisaar. Al Inkisaar ini adalah orang yang merasa seperti luluh lantak dihadapan Allah SWT. Supaya kita merasakan bahwa pada akhirnya kita ini tidak punya apa-apa di hadapan Allah SWT. Dan pada akhirnya semua daya kita itu adalah pemberian Allah SWT. Saya kira penting masalah-masalah seperti ini untuk kita hadirkan terus menerus dalam sepanjang jalan perjuangan kita semuanya. Supaya semua kelelahan yang telah kita rasakan dalam perjuangan ini. Begitu juga semua pengorbanan yang sudah kita keluarkan tidak hilang sia-sia. Karena dari awalnya kita sadar bahwa ini semuanya untuk Allah SWT.
***
Yang kedua ikhwah sekalian. Pada bulan-bulan inilah, kira-kira dari Februari sampai Sekarang. Sepuluh bulan lamanya. Kita merasakan apa artinya sabar. Dan kalau kita belajar dari qur’an –ikhwah sekalian- sifat yang paling banyak diulangi di dalam qur’an itu adalah sabar. Antum bandingkan kata sabar dalam alqur’an dengan semua akhlak yang lainnya, sabarlah paling banyak terulang. Sehingga para ulama mengatakan sabar itu adalah Ummul Akhlaq (ibunya semua akhlak yang terpuji).
Sabar itu –ikhwah sekalian- dalam qur’an misalnya berhubungan dengan kemampuan orang untuk survival, untuk bertahan. Misalnya Allah SWT mengatakan :
{ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ} [البقرة: 155
Tanpi antum perhatikan ikhwan-akhwat sekalian. Sebelum Allah sampai pada ayat
{وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 155، 156
Allah SWT mengatakan, antum perhatikan alqur’an menggunakan kata nakirah.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ
Dengan sedikit, tidak banyak. Bi syai-in minal khauf. Rasa takut. Dan saya pikir-pikir hampir kita semuanya sepanjang bulan-bulan ini seperti nasibnya Nabi Musa AS.
{فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 18
Setelah beliau membunuh orang, maka Nabi Musa berada dalam kota itu dalam keadaan takut dan waspada, was-was. Bahkan ketika beliau mendapatkan berita bahwa beliau akan dibunuh. Kalimat nya diulangi kembali oleh qur’an:
{فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 21
Jadi nasib kita ini mirip. Berada dalam tekanan selama berbulan-bulan dan rasanya tidak selesai sampai sekarang. Dan mungkin tidak akan selesai entah sampai kapan. Tapi kita merasakan bahwa kita ada dalam kondisi jiwa yang sama seperti itu. Dan ini yang dimaksud dalam qur’an.. wanabluwakum bi syai-in minal khaufi wal juu’iy. Kita juga merasakan keterbatasan sumber daya. Saya mengatakan kepada banyak ikhwah sepanjang kita melakukan jaulah. Yang ikut beserta saya. Selama kita menghadapi musibah ini sebaiknya kita tidak meminta tolong kepada orang lain. Karena muka kita lagi jelek. Kita atasi persoalan kita sendiri dengan cara kita sendiri, dengan sumber daya kita sendiri, dengan kantong kita sendiri. Sebab apa yang paling penting untuk kita tunjukkan dalam situasi seperti itu adalah menjawab pertanyaan mendasar sejauh mana kita bisa bertahan dalam keadaan dimana kita hanya benar-benar mengandalkan kemampuan kita sendiri tanpa orang lain. Dan supaya kita membuktikan kepada diri kita dan juga kepada orang lain. Bahwa kita ini serius menolong agama kita sendiri. Serius menolong nilai-nilai perjuangan kita dan cita-cita kita semuanya.
Kadang-kadang ikhwah sekalian, ada situasi yang kita hadapi bukan hanya dalam politik, dalam kehidupan dakwah secara umum. Tapi yang sekarang kita rasakan. Ada situasi seperti yang dihadapi oleh nabi Yunus. Terjebak dalam situasi dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh manusia. Coba antum bayangkan seandainya kita berada dalam perut ikan seperti itu dan tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Tapi tidak mati juga, Cuma kita ada dalam situasi seperti itu. Yang membuat orang bertahan dalam situasi seperti itu adalah sabar dan tetap berharap. Karena itu kalau kita lihat –ikhwah sekalian- doa nabi yunus itu adalah doa yang sangat sederhana.
{لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ} [الأنبياء: 87
Laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minazhzhaalimiin.
Itu bukan doa tapi pengakuan dosa. Jadi ada situasi dimana seperti itu. Dan karena itu ikhwah sekalian, sabarlah yang membuat orang itu bertahan hidup dan survive dalam situasi yang paling sulit. Saya kira kita akan menghadapi tekanan jiwa dan tekanan finansial ini dan juga kekurangan dukungan dst. Sampai kita pemilu. Tetapi kita mesti dari sini mengukur kemampuan kita untuk bertahan. Tapi yang menarik –ikhwah sekalian- sabar ini juga di dalam qur’an dihubungkan dengan kepemimpinan.
{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا} [السجدة: 24
Kenapa Ikhwah sekalian? Apa yang paling berat dalam politik itu adalah waktu kita berada dalam satu situasi dimana satu-satunya hal yang paling bijak yang kita lakukan pada saat itu adalah diam. Itu situasi yang sangat berat. Kita mau bergerak tapi memang situasi menuntut kita diam. Dan itu yang membuat banyak orang melakukan kesalahan dalam politik adalah ketika seharusnya dia diam, dia bergerak. Dan dalam satu hadist Rasulullah saw mengatakan, “akan datang satu fitnah kepada manusia…
الًقَاعِدُونَ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَ الْقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي
Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari pada yang berjalan. Dan yang berjalan pada waktu lebih baik dari pada yang berdiri.
Jadi ikhwah sekalian, Itu yg membuat orang menjadi pemimpin karena dia mampu mengendalikan diri dalam situasi yang paling sulit seperti itu. Dalam situasi serba kekurangan. Dan karena itu –ikhwah sekalian-, salah satu pengalaman menarik secara spiritual itu adalah pada waktu Rasulullah SAW menghadapi embargo selama tiga tahun. Begitu embargo itu selesai ikhwah sekalian, surat yang turun itu adalah surat adh-dhuha dan surat al insyirah. Dua surat itu semuanya, itu memperkuat nilai-nilai keyakinan Rasulullah SAW tentang hal ini.
Saya merasa penting untuk mengungkap kembali hal ini -ikhwah sekalian-. Karena kita akan memasuki tahapan-tahapan akhir dari perjuangan kita ini. Dan ini membutuhkan energy yang jauh lebih besar, kesabaran yang jauh lebih besar. Dan disinilah kita membuktikan apakah kita bisa memimpin atau benar-benar tidak bisa memimpin.
***
Yang ketiga ikhwah sekalian, kita juga merasakan bahwa salah satu sisi penting dari tarbiyah qur’aniyah itu adalah menyadari apa dimaksud oleh quran itu dengan istilah taufik. Karena kita juga tahu dalam politik itu momentum itu nilai yang sangat penting (timing). Dan yang dimaksud taufik itu adalah
الْتِقاء الإِرَادَةِ الإِلَهِية مَعَ الإِرَادَةِ البَشَرِيَة فِي الزَمَانِ المُنَاسِب وَ الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ وَ الْمَكَانِ المُنَاسِبِ
(iltiqaaul iraadah ilaahiyah ma’al iraadah basyariyah fi zamaanil munaasib wal waqtil munaasib wal makaanil munaasib.)
Bertemunya kehendak Allah daan harapan manusia pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat.
Kita semua adalah orang yang percaya kepada takdir. Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang ditakdirkan kepada kita.Sehingga kita adalah orang yang terus menerus berusaha meraba, menemukan, mencari tahu apa sesungguhnya takdir kita itu. Dan saya kira –ikhwah sekalian- pelajaran yang paling penting sepanjang bulan-bulan ini yang saya rasakan setidak-tidaknya secara pribadi adalah bahwa ternyata tingkat ketepatan kita itu tidak pernah benar-benar bisa kita rencanakan. Jadi apa yang kita maksud dengan terburu-buru atau terlambat, timing. Itu tidak pernah kita benar-benar bisa tahu. Dan itu murni sepenuhnya adalah takdir Allah SWT. Sebab kita bergerak dalam situasi dimana sebagian besar komponen-komponen perubahan itu tidak ada dalam kendali kita. Dan satu-satunya cara untuk menghadirkan semua komponen-komponen seperti yang kita inginkan itu adalah menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba dan sisanya menyerahkannya kepada Allah SWT. Biarlah Dia yang mengaturnya dengan caranya sendiri.
Seperti sekarang ketika selama dua hari ini kita membicarakan soal capres. Kita tidak tahu apakah ini momentumnya tepat atau tidak. Tetapi yang bisa kita lakukan itu adalah memfirasati zaman, memfirasati waktu. Dan berharap-harap bahwa kira-kira yang ada dalam takdir Allah SWT juga akan begini jadinya.
Tetapi masalah ini ikhwah sekalian, saya penting menghadirkan makna ini kembali supaya dalam proses pengambilan keputusan kita semuanya dan dalam cara kita melangkah. Kita menghadirkan tiga makna ini dalam satu rangkaian sekaligus: Ikhlaashul ‘ubuudiyati lillaah, ash-shabru wal mushaabarah dan raja-ut taufiiq ilaahiy.
Karena nilai keputusan ini bisa dianggap tepat pada hari ini dalam pandangan kasat mata kita. Tapi belum tentu tepat bagi kita. Sama seperti ketika orang lain mungkin merencanakan makar kepada kita, dari situlah datangnya makar Allah kepada mereka. Jadi makna-makna ini ikhwah sekalian adalah ma’aani ruuhiyyah. Makna-makna spiritual ini perlu kita hadirkan kembali. Dan dengan makna-makna spiritual ini kita memberikan al-lamsar ruuhiyyah lil ‘amaliyatis siyaasiyyah. Kita memberikan sentuhan spiritual yang kuat dalam seluruh kerja-kerja politik kita. Dan kalau ada yang menjelaskan mengapa pada dua hari ini kita tampak mempunyai confinden yang jauh lebih bagus. Aura kita jauh lebih bagus. Saya kira karena itu adalah bagian dari pengejawantahan tiga makna yang saya sebutkan tadi itu.
***
Ikhwah sekalian,
Point kedua yang ingin saya sampaikan adalah masalah sepanjang bulan-bulan ini juga. Rasanya kita telah mengembangkan apa yang saya sebut dengan al-kafaa-ah siyaasiyyah, kemampuan politik kita. Baik dalam pemahaman maupun dalam performan. Saya termasuk yang selalu percaya bahwa satu partai yang ingin menjadi besar memang mesti menghadapi tantangan yang lebih besar. Dan makin besar tantangan yang kita hadapi, itu juga berarti bahwa kita menghadapi satu proses penggemblengan lapangan secara langsung yang mengupgrade kemampuan kita bekerja. Jauh lebih baik dibanding ketika kita tidak menghadapi tantangan-tantangan seperti ini.
Dan salah satu manfaat dari musibah-musibah yang menimpa kita itu adalah dia membuka mata kita kepada kelemahan-kelemahan kita. Tapi pada waktu yang sama, dia juga membuka mata kita kepada kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan kita yang mungkin selama ini kita tidak sadari. Kalau ada satu hal yang pantas kita catat suatu waktu, lima, sepuluh tahun, dua puluh tahun yang akan datang tentang periode ini. Menurut saya diantara bagian yang paling penting adalah bahwa kita telah memberikan pelajaran kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain di luar sana. Bagaimana caranya untuk tetap menjadi solid dan militan dalam keadaan yang paling sulit. Belum tentu dalam keadaan damai kita bisa menjadi solid dan militan seperti sekarang. Tapi bulan-bulan ini kita belajar luar biasa. Mengatasi semua keterbatasan kita, menghadapi masalah di dalam , menghadapi masalah di luar dan seterusnya. Dan kita bisa tetap menunjukkkan soliditas dan mengelola sebuah organisasi yang besar dalam sebuah Negara yang besar. Dan bisa eksis dalam situasi seperti ini. Itu adalah suatu pelajaran yang pantas untuk dipelajari. Tidak sekarang tapi beberapa tahun yang akan datang. Insya Allah…
Dan antum semua adalah bagian dari pelaku yang menciptakan pelajaran penting itu. Saya selalu perlu mengulangi persoalan ini. Karena kita ini, PKS ini tumbuh dengan tradisi kerendahan hati. Karena itu biasanya kita juga terbiasa underestimate bahkan dengan diri kita sendiri. Kemarin di Babel (Bangka Belitung) saya menyampaikan ke ikhwah. Ini ada angka-angka yang kalau konstruksi ini tidak gampang konstruksinya. Dihitung-hitung dalam situasi yang paling buruk ini, dengan menang di dua pilkada besar untuk Gubernur (Jabar, Sumut). Total populasi yang kita pimpin di republik ini 60 juta. Atau sama dengan 45% dari total penduduk republik Indonesia. Kalau ini kita compare, bandingkan dengan angka-angka yang lain. Kira-kira ini dua kalinya syiria, tiga kalinya irak, hampir tiga kalinya Malaysia. Dan kalau seluruh Negara teluk digabung, kira-kira sekitar tiga kali lipat. Hampir sama dengan Iran wilayah ini. Hampir sama dengan Turki, hampir sama dengan Mesir tidak terlalu jauh bedanya. Dua kalinya Maroko, sepuluh kalinya Lybia, enam kalinya Tunisia.
Jadi ikhwah sekalian antum ini tidak memimpin wilayah yang kecil. Tapi kita tidak menyadari. Setiap hari kita mengkritik gubernur kita dan kita sendiri tidak puas dengan performan mereka itu. Kita tidak merasa cukup besar. Jadi mengelola satu organisasi yang besar seperti ini. Ini tidak gampang. Dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, kita bisa mempertahankan soliditas dan militansi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Menurut saya ini adalah bagian yang pantas untuk kita pelajari dalam perjalanan organisasi kita ini beberapa tahun ke depan. Dan sekali lagi antum semua adalah pelaku utama dari periode ini.
Begitu juga ikhwah sekalian, pemahaman kita tentang politik ini jauh berkembang lebih baik dari pada sebelumnya. Saya kira kita mulai sampai pada satu keseimbangan, satu iklim baru tentang apa yang selama ini kita pertentangkan. Misalnya antara idealisme dan pragmatisme.
Saya kira kita tidak pernah –Insyaa Allaah- kehilangan idealisme kita. Tapi yang berkembang itu adalah fiqhul waaqi’ kita itu jauh lebih bagus dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan karena itu cara kita melakukan mu’aalajatul waaqi’ itu juga jauh lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak berubah menjadi sangat pragmatis sebagaimana yang mungkin kita tuduhkan kepada diri kita sendiri. Tetapi kita menjadi jauh lebih realistis, jauh lebih sabar mengelola situasi kita karena pengetahuan kita tentang realitas jauh lebih detil dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan ini satu nilai ikhwah sekalian, yang sejak lama dalam hampir semua ceramah saya. Dalam tulisan-tulisan saya. Konsep tentang apa yang saya sebut dengan learning organization. Organisasi pembelajar yang terus menerus belajar. Dan dalam proses belajar itu kita mengalami proses jatuh bangun, jatuh bangun, jatuh bangun. Ada gagal dan seterusnya. Tetapi yang muncul itu ikhwah sekalian adalah satu mindset baru, satu kemampuan berfikir baru yang tidak mungkin kita punyai kecuali kalau kita terjun ke lapangan. Ini yang saya sebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah (akal empiris). Kita tumbuh dengan cara berfikir normative dan salah satu kelemahan umat Islam itu adalah emosinya kepada idiologi terlalu kuat. Tapi begitu dia mengalami benturan di lapangan. Dia berlari kembali kepada normanya, dia meninggalkan lapangan. Kenapa? Karena ada yang kosong dalam struktur pengetahuannya, dalam struktur pemikirannya yaitu bahwa dia tidak mempunyai apa yang disebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah.
Pengalaman itu ikhwah sekalian adalah sesuatu yang terbuka untuk dipelajari. Dan jangan pernah mengharamkan diri kita untuk gagal pada suatu waktu. Karena kegagalan itu sendiri adalah materi pembelajaran. Dan kalau ada hal yang lebih penting menurut saya dalam proses pencapaian kita semuanya ini adalah tumbuhnya kemampuan berfikir empiric yang ada dalam diri kita sekarang ini. Dan karena itu kita mulai bisa menerapkan ilmu pengetahuan dalam hampir semua aspek cara kita bekerja. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, kita mentransformasi diri kita secara perlahan-lahan menjadi salah satu model dari apa yang sekarang disebut orang dengan knowledge society (masyarakat berpengetahuan). Yang menggunakan pengetahuannya sebagai sebuah fungsi untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu.
Menurut saya –ikhwah sekalian- pencapaian-pencapaian seperti ini dalam organisasi kita dalam pertumbuhan jama’ah kita. Ini penting untuk terus menerus kita catat. Karena ini mempunyai implikasi yang sangat panjang dalam daya tahan organisasi ini melawan waktu yang panjang di masa yang akan datang. Dan saya kira dalam hal ini kita mudah-mudahan insyaa Allah ada dalam on the track belajar secara jauh lebih bagus dari proses-proses yang kita alami selama ini. Dan sekali lagi ikhwah sekalian, nilai ini. Ini yang saya maksud dengan Peningkatan pada kafaa-ah siyaasiyah kita fahman wa adaa-an. Baik dalam pemahaman, dalam pembentukan, penyempurnaan dan struktur berfikir kita semuanya maupun dalam kemampuan kerja kita semuanya. Saya kira ini adalah suatu prestasi yang pantas kita catat dan ini adalah hikmah yang kita peroleh sepanjang bulan-bulan kita menghadapi tantangan-tantangan berat ini.
*Disampaikan pada PENUTUPAN ELECTION UPDATE III PKS
Label:
Kajian
13.23
Doa Dari Sang Guru
Written By Admin on Selasa, 10 Desember 2013 | 13.23
Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Parta Keadilan di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.
Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran
terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan
kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala
kasih"
Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang
menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang
marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan
laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan
oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu
wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik
khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam,
dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan
dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-
Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan
yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal
usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu
Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang
memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis
dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati,
ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua
kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan
kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami
da'i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai
kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
(http://zonapelajar-smart.blogspot.com)
Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran
terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan
kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala
kasih"
Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang
menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang
marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan
laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan
oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu
wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik
khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam,
dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan
dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-
Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan
yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal
usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu
Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang
memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis
dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati,
ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua
kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan
kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami
da'i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai
kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda'wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
(http://zonapelajar-smart.blogspot.com)
Label:
Kajian
13.51
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah SWT.
Alhamdulillah wasyukrulillah. Hari demi hari, waktu demi waktu menunjukkan bahwa Alhamdulillah wa syukrulilla sampai sekarang kita masih dalam garis dan berada di jalan dakwah ini. Terus meniti jalan ini, langkah-demi langkah. Dan pepatah mengatakan
Allaahu Akbar…
Dalam mensikapi program atau kerja atau target. Atau dalam mensikapi satu masalah yang muncul. Ada beberapa opsi atau beberapa sikap. Ada yang bersikap seperti yang diceritakan dalam surat at-taubah. Yang belum apa-apa sudah memandang bahwa apa yang akan dijalani itu jauh dan berat. Diceritakan oleh Alqur’anul Kariim.
{لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ } [التوبة: 42
Ada yang belum apa-apa, pikirannya adalah terlalu jauh, ini terlalu sulit. Padahal jauh dan sulit itu hanyalah perasaan saja. Karenanya ayatnya mengatakan : “wa laakin ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah”. Kata Allahu Yarham ust. Rahmat Abdullah, ayatnya mengatakan “ba’udat ‘alaihimus syuqqah” bukan “ba’udatisy-syuqqah ‘alaihim”. Kalau tadabbur beliau “ba’udatisy syuqqah ‘alaihim” itu jauh secara waqi’iy dan realitanya jauh. Tapi kalau “ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah” itu artinya jauh dan berat di perasaan saja. Yang pada hakikatnya tidaklah jauh dan tidaklah berat. Itu masalah pensikapan. Dan saya mengutip beliau lagi, kalau memang itu masalah pensikapan jiwa dan perasaan kita. Maka solusinya adalah apa yang Allah firmankan di surat albalad. Allah berfirman ;
{فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13)} [البلد: 11 - 13
Rintangan yang dianggap jauh, rintangan yang dianggap berat itu sebenarnya perasaan saja. Perasaan kita, kondisi kejiwaan kita. Maka solusi qur’an terhadap masalah itu adalah ‘aqabah yang biasa diartikan bukit. Itu bukan di daki tapi ‘aqabah itu mesti ditabrak.
Oleh karena itu ikhwati fillah, perasaan-perasaan berat, sulit. Solusinhya adalah kita mesti tabrak itu bukit. Allaahu Akbar…
Makanya ayatnya mengatakan, “Falaqtahamal ‘aqabah”, demi Allah hendaklah manusia itu menabrak aqabah tersebut. Lalu Allah jelaskan bahwa perasaan yang berat yang mesti ditabrak itu, yang paling utama adalah berkenaan dengan masalah kesiapan kita untuk berkorban dan untuk berjuang. Terutama adalah at-tadlhiyyah bil maal. Karenanya lanjutannya adalah “fakku raqabah aw ith’aamun fii yaumin dzii masghabah. Yatiiman dzaa maqrabah aw miskinan dzaa matrabah”.
Ikhwati wal akhwati fillah,
Itu satu sikap kejiwaan, mensikapi tanggung jawab atau mas-uliyah yang kita lakukan.
Ada sikap lain yang diungkapkan oleh pribahasa arab juga. Begitu dia sadar bahwa tanggung jawab atau mas-uliyahnya besar. Tapi ada yang keliru dalam mensikapi. Dia ingin segera selesai dari tanggung jawab itu. Ingin cepat-cepat menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Maka yang dia lakukan adalah Dia memacu kendaraan atau fasilitas atau daya dukung yang dia miliki diluar kemampuan yang dimiliki. Tapi akibatnya:
فَإِنَّ مُنْبَثًّا لَا عَرْضًا قَطَعَ وَ لَا ظَهْرًا عَبْقَى
Bahwa orang yang memaksa-maksakan diri. Ceritanya adalah seseorang menempuh perjalanan jauh. Melewati padang pasir, menunggang seekor kuda. Karena dia ingin segera sampai dan ingin segera istirahat. Maka kuda itu dipacu diluar sampai batas maksimal. Bahkan diluar kemampuan kuda tersebut. Akhirnya di tengah jalan kudanya mati, dia pun tidak lama lagi mungkin juga akan menyusul mati. “laa ‘ardhan qatha’a”. jarak tempuh yang hendak dilalui itu tidak sampai. “walaa zhahran ‘abqaa” dan kendaraannya pun mati. Itu sikap yang tidak tepat. Sikap terburu-buru, memaksakan diri, dalam arti melampaui batas yang mungkin kita bisa lakukan.
Tetapi sikap yang benar adalah “wa man saara ‘aladdarbi washola”. Apa yang menjadi mas-uliyah kita , kita jalanin saja. Sedikit demi sedikit, pelan tetapi pasti dan tidak pernah berhenti. Jadi terus melangkah, terus berjalan. Manakala kita jalan, In syaa Allaah man saara ‘alad darbi washala”.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah.
Dalam masalah ini “lanaa fi rasulillaahi shallaahu ‘alaihi wasallam uswatun hasanah”. Kita mempunyai uswah atau keteladanan dari Rasul kita Muhammad saw sebagaimana difirmankan dalam surat al ahzab ayat 21-22. Dan ayat 21-22 yang biasa kita pakai untuk menjelaskan bahwa Rasulullah teladan kita. Oleh Allah SWT aspek keteladanan Rasulullah saw, cerita ayatnya ditempatkan di tengah-tengah suasana perang ahzaab. Bahwa seakan-akan makna spesifiknya adalah saat kaum muslimin ketika menghadapi situasi atau kondisi yang seperti perang ahzab. Maka teladan yang baik dalam mensikapi itu adalah Rasulullah saw. Meskipun ayat tersebut berlaku untuk segala bentuk sisi-sisi keteladanan Rasulullah saw. Tapi penempatannya di tengah-tengah cerita perang ahzab menggambarkan bahwa khususnya saat kita menghadapi situasi dan kondisi seperti yang terjadi di dalam ahzab tsb.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب: 21
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah swt.
Alqur’anul karim saat bercerita tentang ahzab ini. Menggambarkan bahwa sikap yang di capture oleh Allah SWT itu ada berbagai macam. Ada yang digambarkan oleh Allah SWT dengan istilah almunafiqun walladziina fii qulubihim maradh. Saat terjadi berita tentang ahzab ini ternyata ada kelompok yang oleh ayat ini disebut dengan istilah “almunaafiquuna walladziina fii quluubihim maradh”. Allah berfirman :
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا} [الأحزاب: 12
Orang munafik itu berkata bahwa semua yang dijanjikan oleh Allah SWT. Semua yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. Itu hanyalah tipuan belaka.
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah SWT.
Yang perlu kita bangun ditengah suasana seperti sekarang ini adalah bahwa masa depan itu adalah untuk Islam, almustaqbal li haadzad diin. Allaahu Akbar…
Sebagaimana pernah ditulis oleh Sayyid Qutbh rahimahullah. Atau “Al Islam wal mustaqbalul basyariyah”, islam dan masa depan umat manusia. Sebagaimana pernah ditulis oleh Abdullah Azzam rahimahullah. Atau yang ditulis oleh DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Mubasysyiraat bi intishaaril Islaam”. Bahwa masa-masa yang akan datang adalah semuanya memberi berita gembira tentang kemenangan Islam. Oleh karena itu spirit istibsyaar, merasa mendapatkan berita gembira bahwa kita akan menghadapi intishaaril Islaam di masa yang akan datang itulah yang harus kita bangun pada diri kita sekarang ini. Jangan menjadi seperti almunaafiquun dan alladziina fii quluubihim maradh. Yang mengatakan “Maa wa’adanallaahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.
Sirah menceritakan bahwa menjelang perang ahzab terjadi saat kaum muslimin menggali parit. Ada bagian dari parit itu berupa batu besar yang tidak bisa digali. Dan kalau itu tidak digali artinya menjadi titik lemah pertahanan kaum muslimin. Singkat cerita akhirnya
Rasulullah sendiri turun tangan dan memukul batu besar itu dan saat batu tersebut dipukul keluar cahaya. Dan Rasulullah kemudian bersabda “futihat kunuzusy Syaam. Futihat kunuuzul kisra”. Bahwa kunuuz, gudang-gudang kekayaan, materi yang ada di syam dan yang ada di Persia telah dibuka oleh Allah SWT untuk diberikan kepada kaum muslimin. Allaahu Akbar…
Tetapi setelah perang benar-benar terjadi, orang-orang yang disebut al-munafiqun dan alladziina fii quluubihim maradh. Karena perangnya sangat dahsyat meskipun tidak terjadi adu fisik. Tapi sangat melelahkan, karena dikepung. Pada waktu itu belum turun syariat shalat khauf, sehingga kaum muslimin tidak sempat shalat zhuhur pada waktunya, tidak sempat shalat ashar di waktunya dan tidak sempat shalat maghrib di waktunya. Dan shalat zhuhur, ashar, maghrib , isya baru dilaksanakan sekaligus pada waktu isya. Waktu itu belum ada shalat khauf.
Situasi yang sulit ini direspon oleh ayat itu. Yang disebut almunaafiquun walladziina fii quluubihim maradh. Mereka mengatakan, “boro-boro kita mendapatkan kunuuzusy-syaam. Boro-boro kita mendapatkan kunuuzul kisra. Mau kencing saja kita tidak sempat”. Memang orang-orang al-munafiquun walladziina fii quluubihim maradh urusannya adalah urusan makan dan keluar setelah makan. Dan itulah yang digambarkan dengan istilah, “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.
Tetapi sebagai kebalikan sikap ini digambarkan di ayat 22 adalah :
{وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا} [الأحزاب: 22
Tetapi bagi orang-orang beriman. Kondisi yang sulit seperti itu justeru menjadi berita gembira. Orang beriman logikanya sederhana. Memang sekarang kita berada di jam 3 misalnya masih siang. Tiga jam lagi nanti masuk waktu maghrib, mulai gelap. Setelah ditunggu bukan semakin terang, semakin gelap. Karena memasuki waktu isya. Dan semakin ditunggu bukan semakin terang, semakin bertambah gelap. Dan semakin ditunggu wakatu itu semakin bertambah gelap. Tapi bagi orang beriman, begitu waktu itu semakin gelap pertanda tidak lama lagi akan datang fajar. Allaahu Akbar…
Mungkin kita kemarin merasa bahwa kita sudah berada di tempat yang gelap. Setelah kita bekerja, kita tunggu bukannya semakin terang tapi malah semakin gelap. Tapi kita terus bekerja lagi dan kita tunggu lagi. Bukannya semakin ringan tapi malah semakin gelap. Kondisi seperti itu –ikhwati fillah- justeru bagi kita sebagai pejuang dan aktivis harus semakin yakin bahwa justeru itulah janji Allah semakin dekat. Sebab “A laisa shubhu bi qarib”. Dan memang kalau malam-malam semakin gelap begitu, yang perlu kita ingat adalah surat albaqarah ayat 187. Allah SWT berfirman:
{أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187
Supaya tidak capek nunggunya. Allaahu Akbar….
Maksudnya supaya jangan terlalu. “ini kok semakin gelap ditunggu”.
Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.
Ada juga kelompok dalam situasi seperti ahzab itu yang oleh ayat disebut dengan istilah thaa-ifah dan fariiqun. Allah berfirman :
Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.
Jangan sampai kita masuk dalam kategori al munafiqun atau dalam kategori alladziina fii qulubihim maradh. Yang memahami situasi dan kondisi dengan pemahaman yang salah. Lalu berkesimpulan salah, mengatakan “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”. Tapi juga jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dengan istilah thaa-ifah dan yang digambarkan dengan istilah fariiqun ini. Bagaimana itu? Begitu suasana ahzab itu semakin mencekam, semakin mengerikan dan semakin menakutkan. Sebagian dari mereka itu (dari kaum muslimin maksudnya) ada yang mulai mencari-cari cara untuk bisa menghindar dari tanggung jawab dan tugas. Digambarkan :
{وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا} [الأحزاب: 13
Sia-sia saja kalian berada di tempat ini. Tidak ada gunanya berjuang, karena buang-buang waktu, buang-buang tenaga, buang-buang potensi. Oleh karena itu “farji’uu”, kita pulang sajalah. Nggak usah dilanjutkan perjuangan ini sampai selesai.
Jangan sampaai kita masuk seperti ini dan juga jangan sampai masuk seperti yang digambarkan:
{وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ } [الأحزاب: 13
Yang mulai cari-cari alasan. “afwan urusan saya ini, apakah pekerjaan saya atau urusan rumah tangga saya, atau urusan karir saya menuntut perhatian khusus. Menuntut ihtimam khaash. Oleh karena itu saya minta izin sekarang untuk pulang dulu”.
Padahal ;
{وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13
Jangan sampai kita masuk di situ. Ikhwati fillaah… Allaahu Akbar…
Kenapa? Karena
{وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ} [الأحزاب: 15
Kita sudah bermu’ahadah dan berbaiat untuk terus berjuang. Dan komitmen kita adalah fil mansyath wal makrah. Mansyath artinya saat situasinya enak, bendahara kasnya juga tebal, citra kita juga bagus. Kita bershilaturahim semuanya menyambut “ahlan wa sahlan”. Bahkan ada yang menyambutnya seperti syaikha madyan. Saat Nabi Musa mengatakan, “innii uriidu an unkiha ihda ibnatai”. Itu kalau lagi mansyath oke. Tapi komitmen kita, mua’ahadah kita adalah fil makrah. Saat suasananya sangat tidak mendukung, saat tidak menyenangkan. Citra lagi terpuruk, kita bolak-balik datang ke bendahara. Kata bendahara, “Maa laisy, in syaa Allaah ghadan”. Jawabannya selalu “maa lays”. Itu makrah. Juga sambutan tidak menyenangkan kalau kita datang. Tapi komitmen kita adalah kita tetap harus bekerja dan berjuang fil mansyath wal makrah. Allaahu Akbar…
Bahkan dalam riwayat sirahnya itu ada tambahan kata-kata lagi. Yang dikita ini ma’mum walaupun tidak disebutkan yaitu wa fii aatsaratin ‘alainaa. Dan termasuk kita tetap harus berjuang meskipun perjuangan itu menuntut dan mengorbankan hak-hak pribadi kita, hak-hak personal kita. Oleh karena itu jita tetap lanjutkan komitmen ini. Dan jangan sampai masuk kategori yang disinggung oleh Allah SWT dengan istilah ;
وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13
Ikhwati fillah
Juga jangan sampai dalam keadaan dan situasi yang seperti sekarang ini. Kita masuk kepada apa yang disinggung Allah SWT dalam surat al ahzab ayat 18. Yang Allah berfirman;
Jangan sampai kita termasuk al mu’awwiquun. Almu’awwiquun ini, mohon maaf kalau saya menggunakan istilah jawa. saya merasa terjemahan jawa paling pas mewakili perasaan saya. Almu’awwiquun itu artinya tukang cerimpungi. Mu’awwiquun itu menggambarkan bahwa dalam suasana seperti ahzab itu masih banyak yang bekerja, terus bekerja. Dan bekerja itu pasti menggerakkan kakinya. Ada orang yang tidak bekerja dalam arti berbuat tapi kerjanya adalah nyerimpung. Nyerimpung itu dua kaki, memasukkan kakinya diantara dua kaki. Sehingga saat berjalan, yang bekerja jatuh. Itu namanya nyerimpung, bahasa indonesianya saya tidak tahu. Allaahu Akbar…
Ikhwati-akhwati fillah,
Dalam suasana seperti sekarang ini begitu. Mungkin muncul sifat-sifat seperti itu, -na’udzubillahi min dzaalik-. Saat kita mendorong para kader ikhwan-akhwat bekerja, muncul orang-orang yang kerjanya menyerimpungi yang bekerja itu. Supaya yang bekerja itu jatuh, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Jadi jangan sampai kita masuk ke dalam itu. Dan Allah mengancam mereka yang mu’awwiquun. Allah SWT berfirman ;
قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ
Meskipun “qad” disini masuk fi’il mudhari’ tapi maknanya tetap fi’il maadhi.
Sungguh Allah telah mengetahui mereka-mereka yang masuk kategori al-mu’awwiquun. Dan juga masuk kategori :
وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا
Oleh karena itu ikhwati-akhwati fillah. Justeru ketika kita melihat saudara kita bekerja, kita memberikan support dorongan agar semakin meningkatkan kerjanya. Jangan justeru malah nyerimpungi tadi. Nah, setelah Allah SWT menceritakan tentang perilaku yang tidak tepat ketika menghadapi keadaan seperti al ahzab itu. Lagi-lagi saya mengawali di bagian awal tadi, mengulang. Sikap yang benar adalah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan juga orang-orang beriman.
Saat kaum muslimin mendengar informasi bahwa telah terjadi pembentukan pasukan koalisi untuk menyerang madinah. Jumlah pasukan koalisi itu sendiri, seandainya mereka berhasil memasuki kota madinah, niscaya tidak akan menyisakan apapun di Madinah. Karena sepuluh ribu itu lebih besar dari total seluruh penduduk madinah. Termasuk perempuan dan anak-anak. Bisa dibayangkan begitu mendengar berita seperti ini. Waktunya sangat mendesak dan mepet. Tetapi dengan prinsip “wa man saara ‘alad darbi washal” tadi. Rasulullah kemudian melakukan musyawarah. Dalam musyawarah itu disepakati bahwa cara bertahan yang baik adalah dengan menggali parit di posisi yang kemungkinan besar disitu musuh akan menyerang. Nah, kebetulan secara topografi, madinah itu sebelah barat dan timur itu terdiri dari perbukitan yang tidak mungkin dilalui. Perbukitan yang sangat terjal tidak mungkin dilalui oleh pasukan. Yang disebut dengan istilah alharratan. Harrah itu artinya batu yang tebingnya sangat tinggi, terjal dan sulit dipanjat atau sulit diterjuni. Itu ada dua.
Kemudian di bagian selatan itu adalah kebun-kebun korma yang sangat rapat dan perkampungan orang-orang yahudi. Karena kebun korma sangat rapat banyak pohon, musuh kemungkinan besar tidak masuk lewat situ. Karena mereka akan takut, dibalik setiap pohon itu ada pasukan yang siap menanti mereka. Yang sisanya terbuka adalah bagian utara. Bagian utara terbuka dan disitulah berdasarkan hasil musyawarah akhirnya dibuat parit. Kaum muslimin dibagi-bagi tugas. Setiap sepuluh orang diperintahkan untuk menggali parit sepanjang 40 dziraa’ atau 40 hasta. Waktu musim dingin, waktu itu juga musim paceklik, tidak banyak makanan. Tetapi situasi dan kondisi seperti itu harus terus dihadapi dengan penuh ketabahan, dijalani, mereka tetap menggali dari pagi hingga sore dalam keadaan tidak mendapatkan makanan dan dalam keadaan udara yang sangat dingin. Dan mereka terus menggali sehingga sebelum musih benar-benar tiba. Penggalian parit itu telah benar-benar selesai. Dan karena pertahanan gaya parit itu tidak pernah dikenal oleh orang arab. Dan mereka juga tidak mendapatkan bocoran tentang hal itu. Begitu pasukan datang, mereka dikejutkan adanya parit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah gambaran dari mensikapi situasi dan kondisi. Jalani saja, lakoni saja, kerja terus, tidak pernah berhenti. Insya Allah wa bi idznillaah kalau kita tunjukkan kepada Allah kerja dan semangat kerja seperti ini. Maka Allah akan memberikan pertolongan kepada kita semuanya. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin. Itu yang bisa saya sampaikan semoga ada manfaatnya.
Aquulu qauli hadzaa was taghfirullaha walakum
Wassalamu’alaikum wr.wb.
TAUJIH Ust Musyaffa Ahmad Rahim pada Election Update III DPP PKS
Written By Admin on Kamis, 05 Desember 2013 | 13.51
TAUJIH UST. MUSYAFFA’ AHMAD RAHIM, LC
PADA ELECTION UPDATE KE III
DPP PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
(JCC-SENAYAN/RABU, 20 NOPEMBER 2013)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد
لله نحمده ونستعينه و نستغفره و نستهديه ونتنوب إليه ونعوذ بالله من شرور
أنفسنا و من سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضلله ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله.
اللهم فصل وسلم على نبينا وحبيبنا وقدوتنا محمد صلى الله عليه وسلم وعلى
آله وصحابته و من سار على نهجه إلى يوم الدين. أما بعد.
يقول
سبحانه وتعالى في كتابه الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله
الرحمن الرحيم {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ
كَثِيرًا (21) وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا
مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا
زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) } [الأحزاب: 21، 22
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah SWT.
Alhamdulillah wasyukrulillah. Hari demi hari, waktu demi waktu menunjukkan bahwa Alhamdulillah wa syukrulilla sampai sekarang kita masih dalam garis dan berada di jalan dakwah ini. Terus meniti jalan ini, langkah-demi langkah. Dan pepatah mengatakan
وَمَنْ سَارَ عَلَى الدَّربِ وَصَلَ
Man saara ‘alad-darbi washal
“dan siapa yang melangkahkan kaki diatas jalan. Meskipun pelan atau lambat, asal terus melangkah insya Allah kita akan mencapai tujuan”
Allaahu Akbar…
Dalam mensikapi program atau kerja atau target. Atau dalam mensikapi satu masalah yang muncul. Ada beberapa opsi atau beberapa sikap. Ada yang bersikap seperti yang diceritakan dalam surat at-taubah. Yang belum apa-apa sudah memandang bahwa apa yang akan dijalani itu jauh dan berat. Diceritakan oleh Alqur’anul Kariim.
{لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ } [التوبة: 42
Ada yang belum apa-apa, pikirannya adalah terlalu jauh, ini terlalu sulit. Padahal jauh dan sulit itu hanyalah perasaan saja. Karenanya ayatnya mengatakan : “wa laakin ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah”. Kata Allahu Yarham ust. Rahmat Abdullah, ayatnya mengatakan “ba’udat ‘alaihimus syuqqah” bukan “ba’udatisy-syuqqah ‘alaihim”. Kalau tadabbur beliau “ba’udatisy syuqqah ‘alaihim” itu jauh secara waqi’iy dan realitanya jauh. Tapi kalau “ba’udat ‘alaihim asy-syuqqah” itu artinya jauh dan berat di perasaan saja. Yang pada hakikatnya tidaklah jauh dan tidaklah berat. Itu masalah pensikapan. Dan saya mengutip beliau lagi, kalau memang itu masalah pensikapan jiwa dan perasaan kita. Maka solusinya adalah apa yang Allah firmankan di surat albalad. Allah berfirman ;
{فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13)} [البلد: 11 - 13
Rintangan yang dianggap jauh, rintangan yang dianggap berat itu sebenarnya perasaan saja. Perasaan kita, kondisi kejiwaan kita. Maka solusi qur’an terhadap masalah itu adalah ‘aqabah yang biasa diartikan bukit. Itu bukan di daki tapi ‘aqabah itu mesti ditabrak.
Oleh karena itu ikhwati fillah, perasaan-perasaan berat, sulit. Solusinhya adalah kita mesti tabrak itu bukit. Allaahu Akbar…
Makanya ayatnya mengatakan, “Falaqtahamal ‘aqabah”, demi Allah hendaklah manusia itu menabrak aqabah tersebut. Lalu Allah jelaskan bahwa perasaan yang berat yang mesti ditabrak itu, yang paling utama adalah berkenaan dengan masalah kesiapan kita untuk berkorban dan untuk berjuang. Terutama adalah at-tadlhiyyah bil maal. Karenanya lanjutannya adalah “fakku raqabah aw ith’aamun fii yaumin dzii masghabah. Yatiiman dzaa maqrabah aw miskinan dzaa matrabah”.
Ikhwati wal akhwati fillah,
Itu satu sikap kejiwaan, mensikapi tanggung jawab atau mas-uliyah yang kita lakukan.
Ada sikap lain yang diungkapkan oleh pribahasa arab juga. Begitu dia sadar bahwa tanggung jawab atau mas-uliyahnya besar. Tapi ada yang keliru dalam mensikapi. Dia ingin segera selesai dari tanggung jawab itu. Ingin cepat-cepat menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Maka yang dia lakukan adalah Dia memacu kendaraan atau fasilitas atau daya dukung yang dia miliki diluar kemampuan yang dimiliki. Tapi akibatnya:
فَإِنَّ مُنْبَثًّا لَا عَرْضًا قَطَعَ وَ لَا ظَهْرًا عَبْقَى
Bahwa orang yang memaksa-maksakan diri. Ceritanya adalah seseorang menempuh perjalanan jauh. Melewati padang pasir, menunggang seekor kuda. Karena dia ingin segera sampai dan ingin segera istirahat. Maka kuda itu dipacu diluar sampai batas maksimal. Bahkan diluar kemampuan kuda tersebut. Akhirnya di tengah jalan kudanya mati, dia pun tidak lama lagi mungkin juga akan menyusul mati. “laa ‘ardhan qatha’a”. jarak tempuh yang hendak dilalui itu tidak sampai. “walaa zhahran ‘abqaa” dan kendaraannya pun mati. Itu sikap yang tidak tepat. Sikap terburu-buru, memaksakan diri, dalam arti melampaui batas yang mungkin kita bisa lakukan.
Tetapi sikap yang benar adalah “wa man saara ‘aladdarbi washola”. Apa yang menjadi mas-uliyah kita , kita jalanin saja. Sedikit demi sedikit, pelan tetapi pasti dan tidak pernah berhenti. Jadi terus melangkah, terus berjalan. Manakala kita jalan, In syaa Allaah man saara ‘alad darbi washala”.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah.
Dalam masalah ini “lanaa fi rasulillaahi shallaahu ‘alaihi wasallam uswatun hasanah”. Kita mempunyai uswah atau keteladanan dari Rasul kita Muhammad saw sebagaimana difirmankan dalam surat al ahzab ayat 21-22. Dan ayat 21-22 yang biasa kita pakai untuk menjelaskan bahwa Rasulullah teladan kita. Oleh Allah SWT aspek keteladanan Rasulullah saw, cerita ayatnya ditempatkan di tengah-tengah suasana perang ahzaab. Bahwa seakan-akan makna spesifiknya adalah saat kaum muslimin ketika menghadapi situasi atau kondisi yang seperti perang ahzab. Maka teladan yang baik dalam mensikapi itu adalah Rasulullah saw. Meskipun ayat tersebut berlaku untuk segala bentuk sisi-sisi keteladanan Rasulullah saw. Tapi penempatannya di tengah-tengah cerita perang ahzab menggambarkan bahwa khususnya saat kita menghadapi situasi dan kondisi seperti yang terjadi di dalam ahzab tsb.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا} [الأحزاب: 21
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah swt.
Alqur’anul karim saat bercerita tentang ahzab ini. Menggambarkan bahwa sikap yang di capture oleh Allah SWT itu ada berbagai macam. Ada yang digambarkan oleh Allah SWT dengan istilah almunafiqun walladziina fii qulubihim maradh. Saat terjadi berita tentang ahzab ini ternyata ada kelompok yang oleh ayat ini disebut dengan istilah “almunaafiquuna walladziina fii quluubihim maradh”. Allah berfirman :
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا} [الأحزاب: 12
Orang munafik itu berkata bahwa semua yang dijanjikan oleh Allah SWT. Semua yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. Itu hanyalah tipuan belaka.
Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allah SWT.
Yang perlu kita bangun ditengah suasana seperti sekarang ini adalah bahwa masa depan itu adalah untuk Islam, almustaqbal li haadzad diin. Allaahu Akbar…
Sebagaimana pernah ditulis oleh Sayyid Qutbh rahimahullah. Atau “Al Islam wal mustaqbalul basyariyah”, islam dan masa depan umat manusia. Sebagaimana pernah ditulis oleh Abdullah Azzam rahimahullah. Atau yang ditulis oleh DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Mubasysyiraat bi intishaaril Islaam”. Bahwa masa-masa yang akan datang adalah semuanya memberi berita gembira tentang kemenangan Islam. Oleh karena itu spirit istibsyaar, merasa mendapatkan berita gembira bahwa kita akan menghadapi intishaaril Islaam di masa yang akan datang itulah yang harus kita bangun pada diri kita sekarang ini. Jangan menjadi seperti almunaafiquun dan alladziina fii quluubihim maradh. Yang mengatakan “Maa wa’adanallaahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.
Sirah menceritakan bahwa menjelang perang ahzab terjadi saat kaum muslimin menggali parit. Ada bagian dari parit itu berupa batu besar yang tidak bisa digali. Dan kalau itu tidak digali artinya menjadi titik lemah pertahanan kaum muslimin. Singkat cerita akhirnya
Rasulullah sendiri turun tangan dan memukul batu besar itu dan saat batu tersebut dipukul keluar cahaya. Dan Rasulullah kemudian bersabda “futihat kunuzusy Syaam. Futihat kunuuzul kisra”. Bahwa kunuuz, gudang-gudang kekayaan, materi yang ada di syam dan yang ada di Persia telah dibuka oleh Allah SWT untuk diberikan kepada kaum muslimin. Allaahu Akbar…
Tetapi setelah perang benar-benar terjadi, orang-orang yang disebut al-munafiqun dan alladziina fii quluubihim maradh. Karena perangnya sangat dahsyat meskipun tidak terjadi adu fisik. Tapi sangat melelahkan, karena dikepung. Pada waktu itu belum turun syariat shalat khauf, sehingga kaum muslimin tidak sempat shalat zhuhur pada waktunya, tidak sempat shalat ashar di waktunya dan tidak sempat shalat maghrib di waktunya. Dan shalat zhuhur, ashar, maghrib , isya baru dilaksanakan sekaligus pada waktu isya. Waktu itu belum ada shalat khauf.
Situasi yang sulit ini direspon oleh ayat itu. Yang disebut almunaafiquun walladziina fii quluubihim maradh. Mereka mengatakan, “boro-boro kita mendapatkan kunuuzusy-syaam. Boro-boro kita mendapatkan kunuuzul kisra. Mau kencing saja kita tidak sempat”. Memang orang-orang al-munafiquun walladziina fii quluubihim maradh urusannya adalah urusan makan dan keluar setelah makan. Dan itulah yang digambarkan dengan istilah, “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”.
Tetapi sebagai kebalikan sikap ini digambarkan di ayat 22 adalah :
{وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا} [الأحزاب: 22
Tetapi bagi orang-orang beriman. Kondisi yang sulit seperti itu justeru menjadi berita gembira. Orang beriman logikanya sederhana. Memang sekarang kita berada di jam 3 misalnya masih siang. Tiga jam lagi nanti masuk waktu maghrib, mulai gelap. Setelah ditunggu bukan semakin terang, semakin gelap. Karena memasuki waktu isya. Dan semakin ditunggu bukan semakin terang, semakin bertambah gelap. Dan semakin ditunggu wakatu itu semakin bertambah gelap. Tapi bagi orang beriman, begitu waktu itu semakin gelap pertanda tidak lama lagi akan datang fajar. Allaahu Akbar…
Mungkin kita kemarin merasa bahwa kita sudah berada di tempat yang gelap. Setelah kita bekerja, kita tunggu bukannya semakin terang tapi malah semakin gelap. Tapi kita terus bekerja lagi dan kita tunggu lagi. Bukannya semakin ringan tapi malah semakin gelap. Kondisi seperti itu –ikhwati fillah- justeru bagi kita sebagai pejuang dan aktivis harus semakin yakin bahwa justeru itulah janji Allah semakin dekat. Sebab “A laisa shubhu bi qarib”. Dan memang kalau malam-malam semakin gelap begitu, yang perlu kita ingat adalah surat albaqarah ayat 187. Allah SWT berfirman:
{أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187
Supaya tidak capek nunggunya. Allaahu Akbar….
Maksudnya supaya jangan terlalu. “ini kok semakin gelap ditunggu”.
Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.
Ada juga kelompok dalam situasi seperti ahzab itu yang oleh ayat disebut dengan istilah thaa-ifah dan fariiqun. Allah berfirman :
وَإِذْ
قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ
فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ
بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا
فِرَارًا (13) وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ
سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لَآتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا بِهَا إِلَّا يَسِيرًا
(14) وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ
الْأَدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًا (15) قُلْ لَنْ
يَنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ
وَإِذًا لَا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا (16) قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي
يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ
رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا
نَصِيرًا (17)} [الأحزاب: 13 - 17
Ikhwan dan akhwat fillah yang dimuliakan Allah SWT.
Jangan sampai kita masuk dalam kategori al munafiqun atau dalam kategori alladziina fii qulubihim maradh. Yang memahami situasi dan kondisi dengan pemahaman yang salah. Lalu berkesimpulan salah, mengatakan “maa wa’adallahu wa rasuuluhu illaa ghuruuraa”. Tapi juga jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dengan istilah thaa-ifah dan yang digambarkan dengan istilah fariiqun ini. Bagaimana itu? Begitu suasana ahzab itu semakin mencekam, semakin mengerikan dan semakin menakutkan. Sebagian dari mereka itu (dari kaum muslimin maksudnya) ada yang mulai mencari-cari cara untuk bisa menghindar dari tanggung jawab dan tugas. Digambarkan :
{وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا} [الأحزاب: 13
Sia-sia saja kalian berada di tempat ini. Tidak ada gunanya berjuang, karena buang-buang waktu, buang-buang tenaga, buang-buang potensi. Oleh karena itu “farji’uu”, kita pulang sajalah. Nggak usah dilanjutkan perjuangan ini sampai selesai.
Jangan sampaai kita masuk seperti ini dan juga jangan sampai masuk seperti yang digambarkan:
{وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ } [الأحزاب: 13
Yang mulai cari-cari alasan. “afwan urusan saya ini, apakah pekerjaan saya atau urusan rumah tangga saya, atau urusan karir saya menuntut perhatian khusus. Menuntut ihtimam khaash. Oleh karena itu saya minta izin sekarang untuk pulang dulu”.
Padahal ;
{وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13
Jangan sampai kita masuk di situ. Ikhwati fillaah… Allaahu Akbar…
Kenapa? Karena
{وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ} [الأحزاب: 15
Kita sudah bermu’ahadah dan berbaiat untuk terus berjuang. Dan komitmen kita adalah fil mansyath wal makrah. Mansyath artinya saat situasinya enak, bendahara kasnya juga tebal, citra kita juga bagus. Kita bershilaturahim semuanya menyambut “ahlan wa sahlan”. Bahkan ada yang menyambutnya seperti syaikha madyan. Saat Nabi Musa mengatakan, “innii uriidu an unkiha ihda ibnatai”. Itu kalau lagi mansyath oke. Tapi komitmen kita, mua’ahadah kita adalah fil makrah. Saat suasananya sangat tidak mendukung, saat tidak menyenangkan. Citra lagi terpuruk, kita bolak-balik datang ke bendahara. Kata bendahara, “Maa laisy, in syaa Allaah ghadan”. Jawabannya selalu “maa lays”. Itu makrah. Juga sambutan tidak menyenangkan kalau kita datang. Tapi komitmen kita adalah kita tetap harus bekerja dan berjuang fil mansyath wal makrah. Allaahu Akbar…
Bahkan dalam riwayat sirahnya itu ada tambahan kata-kata lagi. Yang dikita ini ma’mum walaupun tidak disebutkan yaitu wa fii aatsaratin ‘alainaa. Dan termasuk kita tetap harus berjuang meskipun perjuangan itu menuntut dan mengorbankan hak-hak pribadi kita, hak-hak personal kita. Oleh karena itu jita tetap lanjutkan komitmen ini. Dan jangan sampai masuk kategori yang disinggung oleh Allah SWT dengan istilah ;
وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا} [الأحزاب: 13
Ikhwati fillah
Juga jangan sampai dalam keadaan dan situasi yang seperti sekarang ini. Kita masuk kepada apa yang disinggung Allah SWT dalam surat al ahzab ayat 18. Yang Allah berfirman;
قَدْ
يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ
لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا
قَلِيلًا (18) أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ
يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ
مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ
أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ
أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (19)} [الأحزاب: 18، 19
Jangan sampai kita termasuk al mu’awwiquun. Almu’awwiquun ini, mohon maaf kalau saya menggunakan istilah jawa. saya merasa terjemahan jawa paling pas mewakili perasaan saya. Almu’awwiquun itu artinya tukang cerimpungi. Mu’awwiquun itu menggambarkan bahwa dalam suasana seperti ahzab itu masih banyak yang bekerja, terus bekerja. Dan bekerja itu pasti menggerakkan kakinya. Ada orang yang tidak bekerja dalam arti berbuat tapi kerjanya adalah nyerimpung. Nyerimpung itu dua kaki, memasukkan kakinya diantara dua kaki. Sehingga saat berjalan, yang bekerja jatuh. Itu namanya nyerimpung, bahasa indonesianya saya tidak tahu. Allaahu Akbar…
Ikhwati-akhwati fillah,
Dalam suasana seperti sekarang ini begitu. Mungkin muncul sifat-sifat seperti itu, -na’udzubillahi min dzaalik-. Saat kita mendorong para kader ikhwan-akhwat bekerja, muncul orang-orang yang kerjanya menyerimpungi yang bekerja itu. Supaya yang bekerja itu jatuh, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Jadi jangan sampai kita masuk ke dalam itu. Dan Allah mengancam mereka yang mu’awwiquun. Allah SWT berfirman ;
قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ
Meskipun “qad” disini masuk fi’il mudhari’ tapi maknanya tetap fi’il maadhi.
Sungguh Allah telah mengetahui mereka-mereka yang masuk kategori al-mu’awwiquun. Dan juga masuk kategori :
وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا
Oleh karena itu ikhwati-akhwati fillah. Justeru ketika kita melihat saudara kita bekerja, kita memberikan support dorongan agar semakin meningkatkan kerjanya. Jangan justeru malah nyerimpungi tadi. Nah, setelah Allah SWT menceritakan tentang perilaku yang tidak tepat ketika menghadapi keadaan seperti al ahzab itu. Lagi-lagi saya mengawali di bagian awal tadi, mengulang. Sikap yang benar adalah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan juga orang-orang beriman.
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو
اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) وَلَمَّا
رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا
إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22) } [الأحزاب: 21، 22
Saat kaum muslimin mendengar informasi bahwa telah terjadi pembentukan pasukan koalisi untuk menyerang madinah. Jumlah pasukan koalisi itu sendiri, seandainya mereka berhasil memasuki kota madinah, niscaya tidak akan menyisakan apapun di Madinah. Karena sepuluh ribu itu lebih besar dari total seluruh penduduk madinah. Termasuk perempuan dan anak-anak. Bisa dibayangkan begitu mendengar berita seperti ini. Waktunya sangat mendesak dan mepet. Tetapi dengan prinsip “wa man saara ‘alad darbi washal” tadi. Rasulullah kemudian melakukan musyawarah. Dalam musyawarah itu disepakati bahwa cara bertahan yang baik adalah dengan menggali parit di posisi yang kemungkinan besar disitu musuh akan menyerang. Nah, kebetulan secara topografi, madinah itu sebelah barat dan timur itu terdiri dari perbukitan yang tidak mungkin dilalui. Perbukitan yang sangat terjal tidak mungkin dilalui oleh pasukan. Yang disebut dengan istilah alharratan. Harrah itu artinya batu yang tebingnya sangat tinggi, terjal dan sulit dipanjat atau sulit diterjuni. Itu ada dua.
Kemudian di bagian selatan itu adalah kebun-kebun korma yang sangat rapat dan perkampungan orang-orang yahudi. Karena kebun korma sangat rapat banyak pohon, musuh kemungkinan besar tidak masuk lewat situ. Karena mereka akan takut, dibalik setiap pohon itu ada pasukan yang siap menanti mereka. Yang sisanya terbuka adalah bagian utara. Bagian utara terbuka dan disitulah berdasarkan hasil musyawarah akhirnya dibuat parit. Kaum muslimin dibagi-bagi tugas. Setiap sepuluh orang diperintahkan untuk menggali parit sepanjang 40 dziraa’ atau 40 hasta. Waktu musim dingin, waktu itu juga musim paceklik, tidak banyak makanan. Tetapi situasi dan kondisi seperti itu harus terus dihadapi dengan penuh ketabahan, dijalani, mereka tetap menggali dari pagi hingga sore dalam keadaan tidak mendapatkan makanan dan dalam keadaan udara yang sangat dingin. Dan mereka terus menggali sehingga sebelum musih benar-benar tiba. Penggalian parit itu telah benar-benar selesai. Dan karena pertahanan gaya parit itu tidak pernah dikenal oleh orang arab. Dan mereka juga tidak mendapatkan bocoran tentang hal itu. Begitu pasukan datang, mereka dikejutkan adanya parit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah gambaran dari mensikapi situasi dan kondisi. Jalani saja, lakoni saja, kerja terus, tidak pernah berhenti. Insya Allah wa bi idznillaah kalau kita tunjukkan kepada Allah kerja dan semangat kerja seperti ini. Maka Allah akan memberikan pertolongan kepada kita semuanya. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin. Itu yang bisa saya sampaikan semoga ada manfaatnya.
Aquulu qauli hadzaa was taghfirullaha walakum
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Label:
Kajian








