Al Amal
Yang kami inginkan dari al-amal adalah :Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Karim: “Dan katakanlah : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (QS At Taubah :105)Adapun urut-urutan amalnya adalah :1. Mengoreksi dan memperbaiki diri2. Membentuk dan membina keluarga muslim3. Member petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing5. Memperbaiki pemerintahan6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada ummat Islam7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia
Banyak orang merasa
telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu
perubahan fisik, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan ketrampilan beramal.
Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik.
Karenanya Al-Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal
shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah
tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr (kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan
shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuknya (keserasian) suatu beramal dengan sasaran, tuntunan,
tuntutan dan daya dukung.amal disebut shalih bila pelakunya mengisi ruang dan
waktu yang seharusnya diisi.
Seorang pendusta atau
pengikar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat arogan terhadap agama
itu. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat
yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan Allah menyebut pendusta agama,
karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan
si miskin (QS 107:2-3) Allah telah mengajarkan kita bagaimana bersikap benar,
bahkan kepada tetangga yang Yahudi atau Nasrani. Dakwah adalah kerja yang amat
mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama yaitu Al Ikhlas was shawab
Ikhlas karena dilakukan
semata-mata untuk dan karena Allah. Shawab
(benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullah Saw. Mungkin seseorang
menampakkan dirinya berdakwah ke jalan Allah, tetapi ia telah berdakwah ke
jalan dirinya, demikian catatan dan komentar syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi al Haddad dalam Ad
Da’watut Taammah.
Betapa banyak amal
menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi
bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula
sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya
akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anna (kelelahan) dan niat tanpa
ikhlasnya jadinya habaa (debu-kesia-siaan)
dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi)
jadinya ghutsaa (buih)
Kita tak punya
kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal Islami. Bahkan
mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya
pada saatnya kita mendapat penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi
salah atas aksi salah yang dilakukan para aktivis Islami. Qadliyah (Problema) kaum Khawarij dan berbagai gerakan lainya
menunjukan fenomena para pengamal, dari ikhlas minus fiqh, sampai yang
oportunis dan pemafaat jargon.
Alkisah disuatu masa,
seorang alim menyelamatkan seekor beruan yang terhimpit sebatang besar. Sebagai
tanda terimakasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawal
yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang tuan tertidur
kelelahan. Sesuai ikrarnya beruang menjaga tuannya dengan setia, agar tak
mendapat bahaya atau gangguan. Yang menjengkelkannya yaitu lalat-lalat yang
hinggap-pergi di wajah syaikh, membuat tidurnya tak nyaman. Ia angkat batu
besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang hinggap didahi tuannya. Pecah
kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.
Hama-hama Amal
Sebagaimana tumbuhan,
amalpun terancam hama. Riya (beramal
untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk
popular/didengar), mann (membangkit-bangkit
pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seseorang aktivis yang
berkorban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat
hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu yang berterbangan)
“mereka membangkit-bangkitkan kepadamu keislaman mereka (sebagai jasa).
Katakanlah: janganlah kalian bangkit-bangkit keislaman kalian kepadaku, bahkan
sesungguhnya Allah-lah yang telah member karunia besar kepadamu karena Ia telah
membimbing kalian untuk beriman, jika kalian adalah orang-orang yang benar.”
(qs 49:17)
Tidak serta merta
rasa beban berat dalam beramal berubah menjadi kesukaan. Kata kuncinya terletak
pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup. Junaid
albaghdadi mengatakan :”selama 40 tahun kusembah Allah, ditahun ke-40 itulah
baru kutemukan lezatnya.”
Pelipatgandaan
kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tidak dapat dikejar
generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua decade saja telah perubahan yang
sangat mendasar pada pola sikap, pandangan hidup dan tradisi bangsa Arab dan
bangsa-bangsa muslim lainnya. Kerja besar taghyir
(perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam maalim fit Thariq berkat komitmen mereka yang (1) menuntut ilmu
bukan sekedar untuk mengoleksi ilmu, (2) putus dari jahiliyah kemarin dan
menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke
kancah jahiliyah dan (3) bersiap siaga menunggu komandi Al –Qur’an seperti
prajurit siap siaga menunggu aba-aba komandan.
Kerja Untuk Perubahan Masyarakat
Kecenderungan sufi
murung, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah Saw, namun selalu mendapat koreksi
dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang
mujahid terpesona oleh keindahan wahah
(oase) ditengah padang pasir dengan rumpunan kurma, sebongkah lahan produktif
dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.
Oh alangkah nikmatnya
bila aku tinggal disni beribadah ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan
masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah Saw segera mengoreksi: “Janganlah
lakukan itu, karena kedudukan kalian dijalan Allah sehari saja, menandingi 70
tahun tinggal dan beribadah disini.”
Bahkan Imam Ali bin
Abi Thalib ra mengecam para pengikutnya yang loyo dalam memperjuangkan kebenaran
dan dan pendirian yang mereka yakini:
Oh alangkah mencengangkan keberanianMereka dalam melihat kebatilanDan lesu kalian dalam memperjuangkan hakOh ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembakKalian diserang dan tak balas menyerangAllah ditentang dan kalian tenang
Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia
bekerja sama diberbagai kawasan untuk menyebar fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu
beli TV, tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka
dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa
berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat depat berubah dengan gunjingan
dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidakkah setiap orang patut
memberi bantuan memadamkan api walaupun dengan segelas air; dengan pulsa
perangko dan kertas surat yang dikirim kepada pedagang kerusakan dan menegaskan
pengingkaran terhadap ulah mereka dengan siaran dan penerbitan fasad, sebelum mereka mengirim darah dan
nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?
Banyak usaha
dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan
berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa
peduli subtansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban
ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan Ahli Kitab yang bangga dengan
status zahir mereka, ia menyebutkan: “Mereka
mengatakan, tak akan masuk syurga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani.
Itulah angan-angan mereka”. Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman
kaum beriman, disebut prestasi mereka: “Barangsiapa
yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat Ihsan, maka baginya
ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakuatan atas mereka, tiada pula mereka
akan bersedih”. (QS Al Baqarah:111-112)
Banyak orang
mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah
berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun saying mereka tidak
meneladani keutamaan mereka. “Barang
siapa lambat amalnya tidak akan cepat karena nasabnya” (HR Muslim)
Apa yang harus dikerjakan ?
Hanya pada saat
kekikiran dituruti, hawa nafsu ditaati dan setiap orang kagum hanya kepada
dirinya sendiri, maka ummat ini boleh mulai mendaftar koleksi orang-orang khassahnya dan meninggalkan awam yang
tenggelam. Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini (HR Abu
Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)
Sebagai kerja dakwah
memang kata, tetapi dapat dituding sebagai Cuma omong, seperti halnya penyiar
dan reporter yang mengisi daftar profesi kerjanya dengan ngomong. Namun perlu
dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan member informasi
seram kepada khalayak, atau meninabobokkan khalayak dengan mimpi-mimpi indah
atau mengingatkan bahaya seraya member jalan keluar. Mampukah mereka tampil
sebagai problem solver, ataukah cukup
menjadi problem speaker, lalu peluang
terbesarnya hanya jadi problem maker.
Dan hari banyak juga orang kayak arena jadi problem
trader.
Penerbit
Pustaka Da'watuna
Pengarang
Rahmat Abdullah
Yang menjadi salah satu keunggulan dari karya ini, adalah kedalaman reflektifnya. Itu yang membedakannya dengan tulisan-tulisan karya orang lain seputar prinsip tersebut. Dan itulah kekuatannya. Dengan refleksi ini Anda aka diajak merenungkan 10 prinsip-prinsip dakwah itu dalam setting situasi, makna, dan fungsi yang luas. Dan itu pula yang menjadikan kumpulan tulisan ini, meski judulnya untuk kader dakwah tapi layak dibaca oleh siapa saja. Mungkin, sesekali memang terasa agak berat memahami beberapa penggal kalimat. Tetapi justru itu memberi penekanan makna sendiri pada saat Anda mencoba mencernanya kembali.
Pustaka Da'watuna
Pengarang
Rahmat Abdullah
Yang menjadi salah satu keunggulan dari karya ini, adalah kedalaman reflektifnya. Itu yang membedakannya dengan tulisan-tulisan karya orang lain seputar prinsip tersebut. Dan itulah kekuatannya. Dengan refleksi ini Anda aka diajak merenungkan 10 prinsip-prinsip dakwah itu dalam setting situasi, makna, dan fungsi yang luas. Dan itu pula yang menjadikan kumpulan tulisan ini, meski judulnya untuk kader dakwah tapi layak dibaca oleh siapa saja. Mungkin, sesekali memang terasa agak berat memahami beberapa penggal kalimat. Tetapi justru itu memberi penekanan makna sendiri pada saat Anda mencoba mencernanya kembali.
belum punya bukunya?, segera beli, mudah-mudahan masih ada stok, abis buku termasuk dah lama ^^
(and)