Trending Topik

Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kenapa Rasul Melarang Mencela Makanan?

Written By Admin on Rabu, 11 Maret 2015 | 09.38

 
Pernahkah Anda ditawari makanan oleh seseorang, kemudian anda menolaknya? Ya, bagi sebagian orang pasti pernah melakukan penolakan itu, dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang menolaknya dengan diam, ada yang mengungkapkan ketidak gemarannya terhadap makanan tersebut dan lain sebagainya, namun bagaimanakah jika penolakannya dengan mencela makanan, apa pandangan islam tentang hal itu?
Jika seseorang merasakan ketidak lezatan makanan yang sedang ia santap, hendaklah ia berdiam tanpa celaan terhadap makanan tersebut. Jika ia suka hendaklah ia menyantap dan memakannya sampai habis, namun jika ia tidak menyukainya maka hendaklah ia meninggalkannya yakni tidak memakannya. Sebagaimana di dalam hadits shahih berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau mau, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau meninggalkannya,” (HR al-Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud)

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Semua makanan yang mubah (dibolehkan untuk dimakan), Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencelanya. Adapun yang haram, maka Beliau mencela dan menghinanya serta dilarang dari (memakan)nya. Terdapat keagungan akhlak Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau senantiasa menjaga perasaan para pembuat makanan dan juru masaknya. Beliau tidak mencela karya mereka, tidak mengoyak perasaan mereka dan mematahkah hati mereka. Terdapat penjelasan akan adab yang baik, karena seseorang itu terkadang tidak berhasrat kepada suatu makanan tetapi berminat kepada makanan yang lainnya.”

Maksudnya adalah jika seseorang memakan suatu makanan, lalu ia merasakan makanan tersebut tidak enak, maka janganlah ia berkata yang tidak-tidak akan makanan tersebut. Jangan pula ia mencela, mengejek dan mengolok-oloknya, apalagi sampai mengucapkan, ‘makanan apa ini? rasanya tidak enak sekali!’. Atau mengatakan, ‘Aduh makanannya asin banget, atau hambar sekali, dan sejenisnya. Atau jika dihidangkan kurma kepada seseorang, namun kondisi kurma itu kurang baik maka janganlah ia mengatakan, ‘Ini kurma yang jelek’. Maka jika ia berselera, silahkanlah ia memakannya. Tetapi jika tidak, tinggalkanlah kurma tersebut tanpa mencela dan mengejeknya.

Dan dalam hadits yang lain, apabila makanan tersebut terasa lezat dan nikmat, maka dianjurkan baginya untuk memuji makanan tersebut ketika sedang menikmatinya.
Dari Jabir bin Abdillah radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah meminta lauk daripada para isterinya. Maka para isterinya berkata, “Tiada apa di sisi kami kecuali khall (cuka).” Maka beliau pun meminta dibawakan cuka tersebut lalu beliau pun makan berlauk dengannya. Dan beliau mengatakan, “Lauk yang paling nikmat (enak) adalah cuka, lauk yang paling nikmat adalah cuka,” (HR Muslima, Turmudziy, Ibnu Majah, ad-Darimiy, Ahmad)
Tetapi apabila ditanya kenapa kita tidak makan makanan tertentu, maka dibolehkan menyatakan alasannya dengan baik tanpa memburuk-burukkan makanan tersebut. Ini sebagaimana hadits dari Kholid bin al-Walid di mana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam enggan makan makanan berupa daging dhabb (biawak padang pasir).
Apabila beliau ditanya tentang dhabb apakah haram dimakan, maka Rasulullah mengatakan, “Dhabb tersebut tidak terdapat di kampung halamanku (bukan makanan kebiasaan bagi masyarakatnya), jadi aku rasa tidak biasa dengannya (atau tidak selera terhadapnya),” [HR al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, al-Baihaqiy dan asy-Syafi’i)
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan ini juga termasuk dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa jika Beliau menyukai suatu makanan maka Beliau akan memujinya. Dan seperti itu pula seandainya engkau menyanjung (kelezatan rasa) roti yaitu engkau mengatakan, ‘Roti yang paling nikmat adalah roti si Fulan atau yang semisalnya’. Maka ini juga jelas termasuk dari sunnah Rasul Shallallahu alaihi wa sallam.”
Nah itu lah, adab bagaimana seorang Muslim harus dapat menempatkan kata-katanya dengan baik dan tidak mencela makanan yang tidak digemari atau disukai, sehingga salah satu pihak tidak ada yang merasa sakit hati. Sesungguhnya dengan kita menjaga lisan adalah salah satu amal yang disukai Allah SWT. 
[Sumber: Hadits Budi Luhur/Karya: Muhammad Said/Penerbit: Putra Al Ma’arif)/www.rumahkeluarga-indonesia.com

Menilik Gaya Blusukan Mensos Salim Segaf

Written By Admin on Senin, 22 Juli 2013 | 05.45


Matahari sedang tidak terlihat di sebuah pemukiman kecil di daerah Tanah Abang. Meski begitu udara terasa begitu panas dan pengap.

Memasuki gang sempit selebar satu meter di pemukiman padat nan kumuh di kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tercium bau tidak sedap sepanjang kaki melangkah. Rumah-rumah berukuran tidak lebih dari 3x3 meter nampak berdesak-desakan di sepanjang gang.

Beberapa warga kaget tiba-tiba ada banyak orang berkerumun di dekat rumah mereka. Bingung dan penasaran sebab kerumunan itu, beberapa warga memberanikan diri mendekat.

"Ada apa sih? Ada pak Jokowi ya?," tanya seorang ibu paruh baya dengan raut muka sumringah.

"Ada Pak Menteri Sosial bu," jawab seorang pria berbaju batik dan berperawakan tegap. Pria yang tangan kanannya menggenggam handy talky itu adalah ajudan sang menteri.

Dengan muka yang masih menyiratkan tanya kemudian sang ibu mendekati menteri. Entah apa yang terbesit dalam benaknya, tiba-tiba perempuan berbaju cokelat itu menyapa menteri sosial, Salim Segaf Al Jufri.

"Pak saya Asih, sudah dua puluh tahun jadi pemulung. Mari Pak mampir ke rumah saya," ucapnya sambil menunjuk sebuah gubuk kecil yang terbuat dari beberapa papan kayu yang disusun seadanya.

Salim Segaf Al Jufri langsung mengambil tawaran dari perempuan itu. Dia kemudian berjalan menyeberang rel kereta api. Mensos terlihat bingung mencari tempat duduk, akhirnya dia memutuskan untuk duduk di atas rel kereta api yang juga menjadi pekarangan rumah asih.

Dua orang tetangga gubuk asih datang mendekat dan ikut duduk bersama sang menteri. Salim terlihat terlibat dalam obrolan dalam bersama tiga wanita yang semuanya berprofresi sebagai pemulung itu. Muka sang menteri terlihat begitu serius mendengarkan omongan tiga wanita itu. Sekitar 15 menit mereka terlibat dalam perbincangan, sebelum akhirnya Salim harus bergegas pergi.

"Tadi mereka cerita tentang keadaan mereka, ya menurut saya ini tidak layak, nanti kita pikirkan jalan keluarnya," ucap. Salim Segaf sambil berjalan.

Pemukiman kumuh yang terletak di Jl Jatibundar, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat memang menjadi tempat tinggal dari beberapa keluarga miskin. Warga pemukiman itu rata-rata bermata pencaharian sebagai pemulung dan buruh angkut di pasar Tanah Abang yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka

sumber : http://news.detik.com.
 
Support : Copyright © 2011. DPC PKS BATANGHARI LAMPUNG TIMUR - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger