Jonathan Arief
Suatu hari saya menjenguk teman di rumah sakit besar di Qatar ini.
Kebetulan orang tua teman ini baru datang dari Indonesia untuk menjenguk
juga. Dan kamipun terlibat dalam obrolan. Saya tidak begitu konsen
ngobrolin apa, tiba-tiba dia bertanya;
“Adik kader PKS?”
“Hah?” saya terpaksa harus menatap mata bapak ini lebih lama untuk
mendalami pertanyaan tersebut. Tadi ngomong apa saya ya, kok
bisa-bisanya dia nanya kayak gitu.
“Eh emm enggak juga, cuman simpatisan saja.” jawab saya jengah.
“Ooh.” dan percakapan tentang PKS pun tidak berlanjut.
***
Ketika umroh tahun lalu, saya dan istri kebetulan dimintai tolong
seorang ibu-ibu yang terpisah dari rombongan dan kehilangan arah untuk
kembali ke hotelnya. Kebetulan saya sedikit tahu tentang penanganan
jamaah yang nyasar seperti ini, kemudian saya cari informasi alamat
hotel dari name-tag-nya si ibu, dan Alhamdulillah ketemu juga hotelnya.
Kembali pertanyaan aneh saya dengar lagi;
“Anak muda ini kader PKS bukan?”
“Oh bukan bu, saya kebetulan simpatisan saja.” Saya berulang kali
melirik istri yang terlihat tersenyum bahagia. Sudah berulangkali memang
dia menyarankan saya agar ikut pengajian PKS. Tapi berbagai alasan
selalu ‘menyelamatkan’ saya untuk bisa menghindar dan gaul dengan
kegiatan partai itu. Meski kalau tiap ada acara keluarga, saya pasti
datang dan ketemu dengan pengurus-pengurusnya. Istri saya sendiri, sejak
di Indonesia memang sudah aktif ikut acara-acara PKS.
Dan selepas itu, habislah saya di-direct-selling-in sama istri.
“Mas, kamu itu sebenernya sudah mirip kader PKS makanya orang-orang suka bertanya begitu.” selorohnya sambil tertawa.
Tahun lalu, ketika kami mudik kebetulan dititipi teman untuk memberikan
infak ke salah satu panti asuhan. Selepas ngobrol kesana kemari berbagi
cerita dengan pengurus panti, lagi-lagi pertanyaan gak penting itu
muncul lagi;
“Masnya kader PKS ya?”
“Iya.” kali ini saya challenge saja untuk menjawab itu. Saya melirik
istri untuk sekedar tahu ekspresinya. Tidak perlu diceritakan bagaimana
raut mukanya ketika itu. Andai ruangan itu gelap, pastilah akan jadi
benderang karenanya. (#uhuks -ed)
“Gimana perkembangan dakwah disana? Apa saja kegiatan disana? Suka ada
acara apa saja? Kaderisasinya bagaimana? na na na, bla bla bla…”
Kalau tidak salah hitung, ada tujuh atau delapan pertanyaan beruntun
yang diluapkan dengan perasaan gembira dari pengurus panti ini. Dia
pengurus panti, dan bukan pengurus partai. Atau mungkin pengurus panti
yang nyambi jadi pengurus partai. Ah entahlah.
Terlihat sekali betapa dia seperti menemukan saudaranya yang hilang
bertahun-tahun. Tinggal saya yang kebingungan, untung dengan sigap istri
menjawab semua pertanyaannya.
Di perjalanan pulang, istri berkata;
“Akhirnya…” sambil nyengir kuda. Andai saya gak nyetir gak tau apa yang akan terjadi.
Cerita-cerita dicurigainya saya jadi kader PKS membangunkan kesadaran,
kenapa saya gak pake kaos PKS saja kemana-mana sekalian. Dan hal ini
pernah saya diskusikan dengan salah seorang pimpinan PIP PKS (Pusat
Informasi dan Pelayanan PKS) disini. Tapi jawabannya sungguh diluar
nalar saya, sebagai orang yang awam berpolitik, dan selalu mengangap
politik itu kotor.
“Kalau kebaikan antum diasosiasikan dengan PKS, ya Alhamdulillah berkah
buat PKS, tapi bukankah kebaikan itu muncul dari dalam, dan dengan mudah
dikenali bahkan tanpa antum tempeli dengan atribut apapun.” jawabnya.
“Maksudnya?” mengernyit dalam saya balik bertanya.
“Seperti yang antum ceritakan. Tanpa pakai kaos, tanpa tempel stiker,
kalau antum lakukan kebaikan itu dengan ikhlas, maka orang akan dengan
mudah mengenal antum itu siapa.” lanjutnya.
“Sebenernya ane pingin aja mereka tahu dengan mudah bahwa ane ini
sekarang sudah jadi kader PKS.” sergah saya, meski gak yakin juga kalau
saya sudah diakui jadi kader.
“Akhi, pemilu itu urusan lima tahun sekali. Sementara dakwah itu urusan
antum sepanjang hidup. 24/7. Apa antum perlu pakai aksesoris itu
sepanjang hidup antum? Apakah antum bisa menjaga keikhlasan ketika
membantu orang tanpa memakai kaos partai.” katanya penuh takzim.
Saya tidak mau berdebat lebih panjang dengan pengurus partai yang aneh
ini. Ya aneh banget lah. Tapi ada satu hal yang saya dapatkan yaitu
tentang menjaga keikhlasan. Cool juga bapak pengurus ini, begitu batin
saya.
Saya dan istripun semakin semangat untuk ikut acara-acara PKS.
Hingga beberapa bulan lalu ketika meledak kasus pimpinan PKS yang
ditangkap KPK. Saat membaca berita di media online, serasa runtuh
bangunan ruangan tempat saya duduk. Mata berkunang-kunang, kepercayaan
diri saya tiba-tiba sirna. Seharusnya saya sedang bersuka cita ketika
itu, dimana berbagai bonus baru saja dibagikan, tapi kegembiraan itu
tiba-tiba hilang berganti perasaan gulana.
Terlebih baru beberapa bulan juga saya merubah status political view
saya di FB, dari non-partisan menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Dan
rekan-rekan kerja di kantor sudah mengenal saya sebagai kader PKS. Mau
ditaruh dimana muka ini?
Tak lepas saya dari gadget online memantau pemberitaan dan komen-komen
nyinyir terhadap PKS dari detik ke detik. Perlahan saya terbawa arus
emosi dan mulai mencurigai jangan-jangan memang pimpinan partai ini sama
saja dengan yang lainnya. Atau saya harus percaya dengan ucapan
presiden baru partai ini, bahwa ada konspirasi. Ah, otak saya tidak
mampu berpikir sejauh itu. Sekarang saya harus mencari cara untuk
menjawab berbagai pertanyaan teman-teman yang sudah saya closing
beberapa bulan ini. Saya menghubungi pengurus PIP lewat telfon atau
messenger, dan tidak ada satupun jawaban yang bisa memuaskan saya.
Semuanya normatif. Sabar, taubat, konspirasi…
Dan, hari-hari sayapun berlalu kelabu. Bahkan kemenangan dua pilkada
besar di tanah air belum cukup mengembalikan keceriaan saya. Saya mulai
jauh dengan pengurus PIP, dan istri sayapun sangat menjaga komunikasi
ketika berhubungan dengan tema PKS.
Hingga suatu hari, ketika nyetir di North Road. Baru saja masuk highway,
terlihat seseorang berdiri di tepi jalan dan mengacungkan jempol tanda
minta menumpang. Sayapun menepikan kendaraan dan tersenyum mengajaknya
masuk. Rupanya dia adalah pekerja dari Indonesia juga.
“Bapak kader PKS bukan?” tanyanya, persis setelah dia menutup pintu mobil.
“Bukan.” jawab saya, takut kalau pertanyaan lanjutannya berkaitan dengan sapi.
“Emang kenapa nanya gitu pak?” lanjut saya.
“Soalnya bapak baik. Baru kali ini saya menumpang ketemu orang Indonesia.” katanya.
“Ah, kebetulan saja pak. Emang orang PKS baik-baik ya? Itu, pimpinannya aja terlibat kasus korupsi.” pancing saya.
“Waah bapak jangan percaya begitu saja sama berita pak. Itu banyak
bohongnya. Saya sangat tidak percaya kalau bapak Lutfi itu terlibat. Itu
pasti ada akal-akalan musuh politiknya…” bertubi penjelasannya.
“Bapak kerja dimana pak?” selidik saya.
“Saya kerja di pembangunan jalan ini.” katanya sambil menunjuk jalan yang sedang kami lewati dan memang baru dibuka.
“Kok bapak tahu banyak tentang PKS?” tanya saya.
“Walah Pak, susah saya menceritakan kebaikan-kebaikan kader PKS itu.
Mereka banyak kegiatannya, malah dikampung saya sudah berapa sekolah
yang dididirikan mereka. Tapi ya seperti bapak ini, mereka baik, mereka
tidak menonjolkan PKS-nya. Mereka bilang sih dakwah nomor satu. Tapi
saya kasihan sama mereka yang selalu difitnah, dicurigai…”
terengah-engah, berapi-api.
Obrolan PKS berlanjut, dan saya mulai melihat sebersit sinar diujung
mata hati saya. Dengan runtut dia menjelaskan pentingnya kita berada
dekat dengan orang-orang baik agar kebaikannya bisa menular kepada kita.
Manggut-manggut sambil jaga kecepatan saya mendengarkan. Bersit-bersit
sinar lain menembusi pemahaman saya.
Saya membatin mungkin itu juga alasan kenapa saya selama ini selalu
dianggap kader PKS, karena saya dekat dengan mereka. Sekedar jadi teman
mereka, meski bukan kader. Apalagi kalau sudah jadi kader.
“Pak, tadi saya hanya bercanda… sebetulnya saya kader PKS.” kata saya sambil melirik dia.
Dan tumpahlah air mata si bapak ini.
—dihimpun dari berbagai cerita @pksqatar - 23-03-2013—
*http://regional.kompasiana.com/2013/03/23/kader-pks-bukan-539631.html