Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tips_unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips_unik. Tampilkan semua postingan
21.28

Bahayanya Tidur Setelah Sahur
Written By Admin on Sabtu, 13 Juli 2013 | 21.28
Tidur
setelah sahur memang gak haram. Namun, dari sisi ilmu gizi dan
kesehatan, tidur setelah makan sangat gak dianjurkan bahkan dalam
kategori dilarang karena dampak buruknya sangat banyak.
Pramono,
ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin dalam
tulisannya kepada Tribunnews.com mengatakan dampaknya antara lain perut
akan jadi buncit karena saat tidur tubuh jadi hemat energi dan secara
otomatis lemak akan mudah tertimbun di perut kita.
Juga
akan terjadi refluks--makanan belum dicerna maka bisa berbalik dari
lambung ke kerongkongan, karena pengaruh gravitasi akibat kita tidur.
"Jika
terjadi refluks maka asam lambung akan naik dan melukai kerongkongan.
Karena mengalami luka, kerongkongan akan terasa panas seperti terbakar,
dan mulut pun terasa pahit," tulis Pramono.
Normalnya
isi lambung/maag akan kosong kembali sekitar dua jam setelah kita
makan, tapi kalau posisi tubuh kita berada pada posisi baring, maka
proses pengosongan lambung/maag akan terhambat/terlambat. Hal ini akan
mengakibatkan timbulnya gangguan pencernaan seperti mencret atau
sembelit tergantung bahan makanan yang kita makan.
Meningkatnya
resiko terkena stroke juga bisa saja terjadi kalau kita tidur setelah
sahur. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda
paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah untuk
mengalami stroke.
Jika seandainya kita masih ingin tidur setelah makan sahur atur saja minimal 2 jam setelah makan sahur baru tidur.
Gak heran jika banyak ulama berpendapat bahwa tidur setelah makan sahur sebaiknya tidak dilakukan .
Nabi
Muhammad SAW telah memberikan tuntunan bahwa makan sahur jangan
ditinggalkan dan dianjurkan untuk diakhirkan waktunya jadi sampai
menjelang subuh atau waktu imsyak sehingga secara logika setelah sahur
maka langsung dilanjutkan ibadah Sholat Subuh, dan jika setelah sholat
subuh dilanjutkan dengan wirid yang cukup panjang maka matahari telah
terbit dan sudah waktunya untuk beraktivitas.
Rasulullah
SAW tidak langsung tidur setelah makan. Beliau beraktivitas terlebih
dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan
baik sehingga mudah dicerna.
Caranya
bisa juga dengan shalat. Rasulullah SAW bersabda,"Cairkan makanan
kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan shalat, serta janganlah
kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian
menjadi keras."(HR Abu Nu'aim dari Aisyah r.a.).
Ih ternyata serem ya Sob... O_o
tribunnews.com
tribunnews.com
http://www.annida-online.com
20.49
Libur telah tiba [hore-hore hatiku gembira ^___^]
Written By Admin on Minggu, 16 Desember 2012 | 20.49
Liburan akhir tahun adalah saat yang pas untuk berwisata bersama keluarga.
Berbeda jika kita berwisata bareng teman atau berpetualang sendiri alias
backpakeran, berwisata bersama keluarga apalagi membawa anak kecil, tentu memerlukan
persiapan lebih baik.
Bisa saja kita merencanakan secara spontan kegiatan wisata bersama keluarga, hal ini dapat kita lakukan jika tujuan wisata kita adalah masih dalam jarak yang terjangkau atau masih dalam satu kota. Misalnya bagi keluarga yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, berwisata ke Ancol bisa dilakukan sewaktu-waktu dengan persiapan yang singkat.
Namun demikian, sebaiknya mengisi liburan baik di dalam kota, luar kota atau bahkan ke luar negeri perlu perencanaan dan persiapan yang matang. Nah, mungkin beberapa hal berikut bisa diperhatikan saat mempersiapkan kegiatan liburan bersama keluarga.
1. Tentukan tujuan wisata sejak jauh-jauh hari, entah itu mau yang dekat saja di dalam kota, luar kota atau luar negeri. Jika di dalam kota saja tentu tidak terlalu ribet, tetapi berlibur ke luar kota dan luar negeri harus diperhitungkan waktu. Mungkin ada anggota keluarga yang hanya memiliki hari libur tiga hari saja, sementara yang lain bisa seminggu lebih. Maka perencanaan waktu harus diperhitungkan jika kita mengajak keluarga berlibur.
2. Siapkan anggaran lebih. Berbeda jika kita jalan sendiri, bisa berwisata seirit mungkin tentu bisa menimbulkan kebanggaan tersendiri. Namun, jika mengajak keluarga, apalagi mengajak orang tua dan anak-anak, kata ‘irit’ tampaknya harus dilupakan dulu. Kita harus memiliki anggaran cadangan apabila ada anggota keluarga yang sakit di jalan. Hitung pula kebutuhan makan dan ngemil serta untuk membeli souvenir atau oleh-oleh.
3. Pilih jenis transportasi yang tepat. Jika kita berwisata ke tempat yang masih terjangkau, pakai mobil pribadi atau bahkan angkutan umum tentu tidak masalah, hanya perlu pengecekan kondisi kendaraan sebelum berangkat. Jika hendak berlibur ke luar pulau atau luar negeri yang harus terbang dengan pesawat, maka mencari tiket hemat sejak jauh-jauh hari adalah angkah yang mesti dilakukan. Kalau tak mau pusing dan memang punya anggaran lebih, kita bisa memakai jasa agen perjalanan yang bisa dipercaya.
4. Rencanakan tempat menginap. Bagi yang tujuan liburannya sekaligus mengunjungi keluarga dekat, tentu tidak masalah karena bisa menginap di rumah keluarga tersebut. Bagi yang merencanakan untuk menginap di villa atau hotel sebaiknya memesannya sejak lama, bisa via telepon ataupun online. Saat ini banyak bertebaran diskon-diskon yang bisa kita cari di internet untuk memesan hotel atau villa di daerah tujuan wisata. Jangan sampai kita sekeluarga terlunta-lunta tidak kebagian penginapan saat berlibur karena musim liburan biasanya tempat menginap dari kelas losmen hingga hotel berbintang penuh diserbu tamu.
5. Bawa pakaian dan peralatan yang tepat. Namanya berlibur tentu harus santai, maka pakaian yang tepat adalah dari bahan kaos. Jika mau ke pantai dan tidak berencana menginap, kita tetap harus membawa pakaian ganti, handuk dan peralatan mandi. Perhatikan juga kebutuhan anak-anak, jika masih butuh popok sediakan cadangannya. Seluruh barang bawaan kita sebaiknya tidak repot untuk dibawa, bila mungkin bawa satu tas ransel saja untuk menampung peralatan jika yang berlibur terdiri dari tiga anggota keluarga, ayah, ibu dan seorang anak. Lebih dari itu sesuaikan.
6. Siapkan bekal secukupnya. Air mineral dan susu adalah wajib kita bawa jika membawa anak kecil. Roti dan kue kecil bisa dibawa secukupnya asal tidak repot saat membawanya. Jangan sampai anak kecil yang kita bawa rewel karena kelaparan di jalan.
7. Bawa alat dokumentasi. Berlibur tanpa dokumentasi pastinya hambar. Siapkan peralatan kamera foto atau video sejak sebelum berangkat. Perhatikan batere dan memory card-nya. Batere kamera, dan tentu saja ponsel kita, harus di-charge sebelum berangkat dan bawa serta charger-nya. Bila kamera menggunakan jenis batere alkaline, lebih baik sediakan cadangannya. Begitu juga memory card, jangan sampai kita terlupa masih tersimpan file-file yang belum sempat dipindahkan ke komputer. Lebih baik membawa kamera dengan memory card telah kosong.
Nah, itulah beberapa tips berdasarkan pengalaman saya melakukan perjalanan bersama keluarga. Semoga bermanfaat dan selamat berlibur.
Bisa saja kita merencanakan secara spontan kegiatan wisata bersama keluarga, hal ini dapat kita lakukan jika tujuan wisata kita adalah masih dalam jarak yang terjangkau atau masih dalam satu kota. Misalnya bagi keluarga yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, berwisata ke Ancol bisa dilakukan sewaktu-waktu dengan persiapan yang singkat.
Namun demikian, sebaiknya mengisi liburan baik di dalam kota, luar kota atau bahkan ke luar negeri perlu perencanaan dan persiapan yang matang. Nah, mungkin beberapa hal berikut bisa diperhatikan saat mempersiapkan kegiatan liburan bersama keluarga.
1. Tentukan tujuan wisata sejak jauh-jauh hari, entah itu mau yang dekat saja di dalam kota, luar kota atau luar negeri. Jika di dalam kota saja tentu tidak terlalu ribet, tetapi berlibur ke luar kota dan luar negeri harus diperhitungkan waktu. Mungkin ada anggota keluarga yang hanya memiliki hari libur tiga hari saja, sementara yang lain bisa seminggu lebih. Maka perencanaan waktu harus diperhitungkan jika kita mengajak keluarga berlibur.
2. Siapkan anggaran lebih. Berbeda jika kita jalan sendiri, bisa berwisata seirit mungkin tentu bisa menimbulkan kebanggaan tersendiri. Namun, jika mengajak keluarga, apalagi mengajak orang tua dan anak-anak, kata ‘irit’ tampaknya harus dilupakan dulu. Kita harus memiliki anggaran cadangan apabila ada anggota keluarga yang sakit di jalan. Hitung pula kebutuhan makan dan ngemil serta untuk membeli souvenir atau oleh-oleh.
3. Pilih jenis transportasi yang tepat. Jika kita berwisata ke tempat yang masih terjangkau, pakai mobil pribadi atau bahkan angkutan umum tentu tidak masalah, hanya perlu pengecekan kondisi kendaraan sebelum berangkat. Jika hendak berlibur ke luar pulau atau luar negeri yang harus terbang dengan pesawat, maka mencari tiket hemat sejak jauh-jauh hari adalah angkah yang mesti dilakukan. Kalau tak mau pusing dan memang punya anggaran lebih, kita bisa memakai jasa agen perjalanan yang bisa dipercaya.
4. Rencanakan tempat menginap. Bagi yang tujuan liburannya sekaligus mengunjungi keluarga dekat, tentu tidak masalah karena bisa menginap di rumah keluarga tersebut. Bagi yang merencanakan untuk menginap di villa atau hotel sebaiknya memesannya sejak lama, bisa via telepon ataupun online. Saat ini banyak bertebaran diskon-diskon yang bisa kita cari di internet untuk memesan hotel atau villa di daerah tujuan wisata. Jangan sampai kita sekeluarga terlunta-lunta tidak kebagian penginapan saat berlibur karena musim liburan biasanya tempat menginap dari kelas losmen hingga hotel berbintang penuh diserbu tamu.
5. Bawa pakaian dan peralatan yang tepat. Namanya berlibur tentu harus santai, maka pakaian yang tepat adalah dari bahan kaos. Jika mau ke pantai dan tidak berencana menginap, kita tetap harus membawa pakaian ganti, handuk dan peralatan mandi. Perhatikan juga kebutuhan anak-anak, jika masih butuh popok sediakan cadangannya. Seluruh barang bawaan kita sebaiknya tidak repot untuk dibawa, bila mungkin bawa satu tas ransel saja untuk menampung peralatan jika yang berlibur terdiri dari tiga anggota keluarga, ayah, ibu dan seorang anak. Lebih dari itu sesuaikan.
6. Siapkan bekal secukupnya. Air mineral dan susu adalah wajib kita bawa jika membawa anak kecil. Roti dan kue kecil bisa dibawa secukupnya asal tidak repot saat membawanya. Jangan sampai anak kecil yang kita bawa rewel karena kelaparan di jalan.
7. Bawa alat dokumentasi. Berlibur tanpa dokumentasi pastinya hambar. Siapkan peralatan kamera foto atau video sejak sebelum berangkat. Perhatikan batere dan memory card-nya. Batere kamera, dan tentu saja ponsel kita, harus di-charge sebelum berangkat dan bawa serta charger-nya. Bila kamera menggunakan jenis batere alkaline, lebih baik sediakan cadangannya. Begitu juga memory card, jangan sampai kita terlupa masih tersimpan file-file yang belum sempat dipindahkan ke komputer. Lebih baik membawa kamera dengan memory card telah kosong.
Nah, itulah beberapa tips berdasarkan pengalaman saya melakukan perjalanan bersama keluarga. Semoga bermanfaat dan selamat berlibur.
Label:
Tips_unik
10.03
Hari gini masih nadah tangan sama orangtua? Gak banget deh! Salah satu indikasi keberhasilan seseorang, dapat dilihat dari tingkat kemandiriannya secara ekonomi. Gak harus kaya, tapi mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa meminta pada orangtua. Tapi… kita kan masih muda, memang masih tanggungan orangtua, gimana? Betul sekali! Tapi, jika kita mampu berbuat lebih, tentu kita akan punya pengaruh lebih. Hampir semua orang mengakuinya!
Nah, kalau dipikir-pikir, mandiri secara ekonomi bisa menjadi salah satu jalan keberhasilan dakwah kita di rumah. Karena yang kuat yang berpengaruh, yang berpengaruh yang didengar. Oke, begini caranya:
1. Bekerja paruh waktu
Bisa dilakukan jika memiliki jadwal sekolah/kuliah yang teratur. Memang cukup terikat, tapi itu kan bagian dari risiko hidup. Selain menghasilkan materi, kita juga mendapat pengalaman sebelum menyelesaikan pendidikan.
2. Membuka usaha sendiri
Di sela-sela jadwal kuliah, pilihan ini mungkin bisa dicoba. Kita masih bisa beorganisasi, kadang-kadang malah kongkow gak penting. Cari penghasilan tentu manfaat sekali untuk mengisi luang. Usaha yang mungkin (dan dengan modal relatif kecil):
Membuat makanan kecil dan menitipkannya di warung/toko/kantin
Menawarkan jasa privat ke rumah-rumah, bisa privat ngaji (baca Qur’an/Iqro’), komputer, MIPA, bahasa Inggris. Kalau kurang pede, bisa coba yang paling gampang dulu; privat anak SD!
Menulis artikel; esai atau cerpen. Kirim ke media yang sesuai dengan isi tulisan. Buat yang banyak, dan sebar ke berbagai media. Utamakan media lokal, karena peluang dimuat lebih besar sebab persaingannya tidak seketat media nasional. Harap diingat, jangan menunggui satu tulisan. Tulis yang banyak, lalu catat ke mana saja tulisan tersebut dikirimkan. Menunggu satu tulisan dan mengoper ke sana kemari hanya membuat depresi. Jangan putus asa jika sering ditolak, tetap tidak rugi, karena itu bagian dari proses latihan. Kita kan tidak butuh guru yang harus dibayar untuk menilai karya itu.
Membuka jasa ketikan, terjemah, desain, dll. Fasilitas PC atau laptop lengkap dengan printer dari orangtua sudah cukup untuk usaha yang ini.
Menjual buku. Bisa buku yang berhubungan dengan mata kuliah, atau konsumsi karena hobi, misalnya novel, buku motivasi, agama, dll. Tapi pastikan buku yang ditawarkan tidak banyak beredar di toko buku biasa, atau paling tidak harga yang kita tawarkan lebih rendah dari toko, ditambah layanan antar ke rumah. Buku yang dimaksud bisa dibeli dari website, pesan lewat kawan di luar kota, atau menghubungi penerbit indi (penerbit besar sudah punya tenaga marketing yang lebih canggih dari kita, jumlah pembelian juga biasanya tidak bisa sedikit)
Mengorder usaha orang lain. Lakukan pendekatan pada pemilik usaha, minta pengurangan harga untuk orderan yang kita beri. Tugas kita menawarkan dan mengantar-jemput bahan, pemilik usaha yang mengerjakan. Harga dari kita dan pemilik usaha ke pemakai jasa harus sama, upah yang kita terima adalah dari selisih harga pemakai jasa dan pemilik usaha yang telah diturunkan khusus untuk kita. Contoh usaha ini antara lain laundry, fotokopi, dll.
Membentuk tim Event Organizer kelas kampus. Agar tidak terlalu memakan biaya, datangkan saja tokoh-tokoh dalam kota yang memang berprestasi (punya buku laris, pendidik sukses, kolumnis, dsb) tapi belum begitu terkenal. Karena kalau sudah terkenal, jam terbang biasanya tinggi, otomatis minta dibayar mahal, hihi. Karena biaya publikasi skup kampus juga tidak besar, maka htm pun harus kelas mahasiswa, insyaallah ramai yang daftar!
Membuka kelas keahlian. Mirip seperti privat, bedanya, kelas ini betul-betul diisi dengan orang yang mahir. Artinya, tentor (kita sendiri) harus memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki orang lain, misalnya melukis, sulap, menjahit, dll. Kalau belum punya satu keahlian pun dengan level mahir, pilih poin-poin sebelumnya saja.
3. Menyiasati ‘jatah’
Ini langkah terakhir jika memang tak mampu mempraktikkan dua poin sebelumnya. Kata orang, “Jika tidak mampu menambah pemasukan, maka kurangilah pengeluaran.” Ya, kurangi beban orangtua dengan mengatur sebaik mungkin uang yang mereka beri. Manfaatkan sesuai dengan yang mereka amanahkan. Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menggunakan uang pemberian mereka untuk berfoya-foya. Saat mencari nafkah, mereka pasti berharap kesungguhan membiayai anak berbuah pada kesuksesan anak tersebut
http://www.annida-online.com/artikel-5017-JANGAN%20JADI%20GENERASI%20NYADONG!.html
Kiriman: Syarifah Lestari
JANGAN JADI GENERASI NYADONG!
Written By Admin on Senin, 06 Februari 2012 | 10.03
Hari gini masih nadah tangan sama orangtua? Gak banget deh! Salah satu indikasi keberhasilan seseorang, dapat dilihat dari tingkat kemandiriannya secara ekonomi. Gak harus kaya, tapi mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa meminta pada orangtua. Tapi… kita kan masih muda, memang masih tanggungan orangtua, gimana? Betul sekali! Tapi, jika kita mampu berbuat lebih, tentu kita akan punya pengaruh lebih. Hampir semua orang mengakuinya!
Nah, kalau dipikir-pikir, mandiri secara ekonomi bisa menjadi salah satu jalan keberhasilan dakwah kita di rumah. Karena yang kuat yang berpengaruh, yang berpengaruh yang didengar. Oke, begini caranya:
1. Bekerja paruh waktu
Bisa dilakukan jika memiliki jadwal sekolah/kuliah yang teratur. Memang cukup terikat, tapi itu kan bagian dari risiko hidup. Selain menghasilkan materi, kita juga mendapat pengalaman sebelum menyelesaikan pendidikan.
2. Membuka usaha sendiri
Di sela-sela jadwal kuliah, pilihan ini mungkin bisa dicoba. Kita masih bisa beorganisasi, kadang-kadang malah kongkow gak penting. Cari penghasilan tentu manfaat sekali untuk mengisi luang. Usaha yang mungkin (dan dengan modal relatif kecil):
Membuat makanan kecil dan menitipkannya di warung/toko/kantin
Menawarkan jasa privat ke rumah-rumah, bisa privat ngaji (baca Qur’an/Iqro’), komputer, MIPA, bahasa Inggris. Kalau kurang pede, bisa coba yang paling gampang dulu; privat anak SD!
Menulis artikel; esai atau cerpen. Kirim ke media yang sesuai dengan isi tulisan. Buat yang banyak, dan sebar ke berbagai media. Utamakan media lokal, karena peluang dimuat lebih besar sebab persaingannya tidak seketat media nasional. Harap diingat, jangan menunggui satu tulisan. Tulis yang banyak, lalu catat ke mana saja tulisan tersebut dikirimkan. Menunggu satu tulisan dan mengoper ke sana kemari hanya membuat depresi. Jangan putus asa jika sering ditolak, tetap tidak rugi, karena itu bagian dari proses latihan. Kita kan tidak butuh guru yang harus dibayar untuk menilai karya itu.
Membuka jasa ketikan, terjemah, desain, dll. Fasilitas PC atau laptop lengkap dengan printer dari orangtua sudah cukup untuk usaha yang ini.
Menjual buku. Bisa buku yang berhubungan dengan mata kuliah, atau konsumsi karena hobi, misalnya novel, buku motivasi, agama, dll. Tapi pastikan buku yang ditawarkan tidak banyak beredar di toko buku biasa, atau paling tidak harga yang kita tawarkan lebih rendah dari toko, ditambah layanan antar ke rumah. Buku yang dimaksud bisa dibeli dari website, pesan lewat kawan di luar kota, atau menghubungi penerbit indi (penerbit besar sudah punya tenaga marketing yang lebih canggih dari kita, jumlah pembelian juga biasanya tidak bisa sedikit)
Mengorder usaha orang lain. Lakukan pendekatan pada pemilik usaha, minta pengurangan harga untuk orderan yang kita beri. Tugas kita menawarkan dan mengantar-jemput bahan, pemilik usaha yang mengerjakan. Harga dari kita dan pemilik usaha ke pemakai jasa harus sama, upah yang kita terima adalah dari selisih harga pemakai jasa dan pemilik usaha yang telah diturunkan khusus untuk kita. Contoh usaha ini antara lain laundry, fotokopi, dll.
Membentuk tim Event Organizer kelas kampus. Agar tidak terlalu memakan biaya, datangkan saja tokoh-tokoh dalam kota yang memang berprestasi (punya buku laris, pendidik sukses, kolumnis, dsb) tapi belum begitu terkenal. Karena kalau sudah terkenal, jam terbang biasanya tinggi, otomatis minta dibayar mahal, hihi. Karena biaya publikasi skup kampus juga tidak besar, maka htm pun harus kelas mahasiswa, insyaallah ramai yang daftar!
Membuka kelas keahlian. Mirip seperti privat, bedanya, kelas ini betul-betul diisi dengan orang yang mahir. Artinya, tentor (kita sendiri) harus memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki orang lain, misalnya melukis, sulap, menjahit, dll. Kalau belum punya satu keahlian pun dengan level mahir, pilih poin-poin sebelumnya saja.
3. Menyiasati ‘jatah’
Ini langkah terakhir jika memang tak mampu mempraktikkan dua poin sebelumnya. Kata orang, “Jika tidak mampu menambah pemasukan, maka kurangilah pengeluaran.” Ya, kurangi beban orangtua dengan mengatur sebaik mungkin uang yang mereka beri. Manfaatkan sesuai dengan yang mereka amanahkan. Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menggunakan uang pemberian mereka untuk berfoya-foya. Saat mencari nafkah, mereka pasti berharap kesungguhan membiayai anak berbuah pada kesuksesan anak tersebut
http://www.annida-online.com/artikel-5017-JANGAN%20JADI%20GENERASI%20NYADONG!.html
Kiriman: Syarifah Lestari
Label:
Tips_unik


